Produktivitas Kerja
Manajemen Sumber Daya Manusia
Produktivitas Kerja
Produktivitas Kerja

DisusunOleh :
AgusTriani
Rita AminatulFakhoriah
WahidatulHasanah
ZakiyatusSakinah
STAI AT – TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AJARAN 2017/2018
Kata pengantar
Puji syukur ilahi robbi atas berkat rahmat dan hidayahnya sehingga
kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah guna menuntaskan tugas Manajemen Sumber Daya Manusia dengan tepat atas waktu
yang telah di tentukan.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada keharibaan junjungan kita nabi
Muhammad SAW, karena berkat perjuangannya kita dapat merasakan nikmatnya hidup di
tengah-tengah banyaknya ilmu pengetahuan.
Makalah yang berjudul Produktivitas Kerja ini merupakan sebuah makalah
yang dibuat untuk memenuhi sebuah tanggungjawab yang telah diamanahi oleh guru kami
yaitu: Abdul Goffar. M, Pd.I dan untuk beliau ucapan terimakasih
yang tiada tara karena telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini hinga selesai.
Makalah ini hanyalah sebuah tulisan
yang jauh dari kata kesempurnaan sehingga sangat di
harapkan partisipasi semua pembaca untuk memberi kritikan yang dapat membangun kami
semua dalam pembutan makalah.
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
Kata-kata produktivitas memang telah
menggema di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini, walaupun kegiatan
untuk meningkatkan produktivitas baik tenaga, modal, tanah maupun sumber-sumber
alam lainnya yang tersebar luas di tanah air kita, telah berlangsung lama.
Namun Salah satu dari
masalah-masalah utama dalam ketenagakerjaan di Indonesia adalah produktivitas
tenaga kerja yang rendah.Padahal, untuk mempertahankan pertumbuhan ekspor
non-migas, khususnya ekspor industri manufaktur pada waktu-waktu paska krisis
ekonomi, Indonesia tidak dapat lagi mengandalkan diri pada sumber-sumber
keunggulan komparatif yang tradisional, seperti tenaga kerja yang murah dan
kekayaan alam.Indonesia perlu mengembangkan keunggulan komparatif yang dinamis,
yakni sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas produktif dan profesional.
Sumber daya manusia modal dan teknologi
menempati posisi yang amat strategis dalam mewujudkan tersedianya barang
dan jasa. Penggunaan sumber daya manusia, modal dan teknologi secara ekstensif
telah banyak ditinggalkan orang.
Sebaliknya, pola itu bergeser menuju
penggunaan secara lebih intensif dari semua sumber-sumber ekonomi.
Sumber-sumber ekonomi yang
digerakkan secara efektif memerlukan keterampilan organisatoris dan teknis
sehingga mempunyai tingkat hasil guna yang tinggi.Artinya, hasil yang diperoleh
seimbang dengan masukan yang diolah. Melalui berbagai perbaikan cara kerja,
pemborosan waktu, tenaga dan berbagai input lainnya akan bisa dikurangi sejauh
mungkin. Hasilnya tentu akan lebih baik dan banyak hal yang bisa dihemat. Yang
jelas, waktu tak terbuang sia-sia, tenaga dikerahkan secara efektif dan
pencapaian tujuan usaha bisa terselenggara dengan baik, efektif dan
efisien.
Rendahnya produktivitas sering kali
dikaitkan dengan tingkat pendidikan.Diasumsikan makin tinggi tingkat pendidikan
sesorang, makin tinggi pula tingkat produktivitas yang mungkin dapat
dicapainya.Karena ini barangkali, kemampuan membaca dan menulis merupakan salah
satu elemen penting tahap-tahap awal program industrialisasi (Wie, 1995).Pada
tingkat industrialisasi yang lebih tinggi dibutuhkan ketrampilan teknik yang
lebih maju.
Untuk itu kami membuat makalah ini
guna memberikan kontribusi tentang bagaimana menjadikan produktivitas kerja
yang baik dan apa yang terkait di dalam produktivitas kerja tersebut.
1.
Apa itu prodiktivitas kerja?
2.
Bagaimana konsepsi produktivitas
kerja yang baik?
3.
Bagaimana cara mengukur
produktivitas?
4.
Upaya apa yang harus dilakkan agar
produktivitas meningkat?
5.
Faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi produktivitas kerja?
1.
Untuk mengetahui Apa itu
prodiktivitas kerja
2.
Untuk mengetahui Bagaimana konsepsi
produktivitas kerja yang baik
3.
Untuk mengetahui Bagaimana cara
mengukur produktivitas
4.
Untuk mengetahui Upaya apa yang
harus dilakukan agar produktivitas meningkat
5.
Untuk mengetahui Faktor-faktor apa
saja yang mempengaruhi produktivitas kerja
BAB II
PEMBAHASAN
Jika membicarakan masalah
produktivitas muncullah satu situasi yang pradoksial (bertentangan), karena
belum ada kesepakatan umum tentang maksud pengertian produktivitas serta
kriterianya dalam mengukur petunjuk-petunjuk produktivitas. Dan tak ada
konsepsi, metode penerapan maupun cara pengukuran yang bebas kritik.
Secara umum, produktivitas diartikan
sebagai hubungan antara hasil nyata maupun fisik dengan masukan yang sebenarnya
(ILO, 1979).Greenberg yang dikutip oleh Sinungan (1985) mengartikan
produktivitas sebagai perbandingan antara totalitas pengeluaran pada waktu
tertentu dibagi totalitas masukan selama periode tersebut.
Pengertian lain produktivitas
adalah sebagai tingkatan efisiensi dalam memproduksi barang-barang atau
jasa-jasa: “Produktivitas mengutarakan cara pemanfaatan secara baik terhadap
sumber-sumber dalam memproduksi barang-barang.”
Produktivitas juga diartikan sebagai
:
1.
Perbandingan ukuran harga bagi
masukan dan hasil.
2.
Perbedaan antara kumpulan
jumlah pengeluaran dan masukan yang dinyatakan dalam satu-satuan (unit) umum.
Ukuran produktivitas yang paling
terkenal berkaitan dengan tenaga kerja yang dapat dihitung dengan membagi
pengeluaran oleh jumlah yang digunakan atau jam-jam kerja orang.
Kita telah menyebutkan beberapa
definisi, namun cukuplah mampu mengetahui perbedaan-perbedaan dan
persamaan-persamaan.Dapatkah kita menganggapnya sebagai pertentangan?
Persoalan pencapaian suatu definisi
“produktivitas” yang mendetail bukanlah masalah produktivitas itu sendiri,
namun suatu masalah diluar produktivitas yang merupakan tujuan-tujuan dan
sasaran-sasaran manajemen dalam sistem dan organisasinya dimana tujuan yang
berbeda memerlukan pendekatan yang berbeda pula untuk mendefinisikan
produktivitas.
Misalnya, hasil-hasil penelitian
diantara menejer dan ahli serikat buruh beberapa perusahaan Amerika menunjukkan
bahwa menejer-menejernya (78%) dan pimpinan-pimpinan serikat buruh (70%)
sebagian besar tidak hanya menerapkan definisi produktivitas yang kuantitatif.
Dilain pihak banyakl mengaitkan produktivitas dengan organisasi-organisasi
individual dan meliputi konsepsi yang lebih luas dan kualitatif.Pada
hakikatnya, melalui produktivitas, manajemen dan para penentu kebijakan serikat
buruh mengarhkan efektifitas dan pelaksanaan organisasi perseorangan secara
menyeluruh, yang mencakup sedikit gambaran jelas seperti tidak adanya rintangan
dan kesulitan tingkatan pembalikan, ketidak hadiran dan bahkan kepuasan
langganan.Dengan dikemukakan konsepsi produktivitas yang lebih luas ini maka
dapatlah dipahami bahwa para pembuat kebijaksanaan mengetahui batas antara
pekerja, kepuasan para langganan dan produktivitas.
Namun demikian para pemimpin serikat
buruh terlebih dahulu memperhatikan pengeluaran yang nyata, yang menjelaskan
alasan kerugian usaha peningkatan produktivitas yang mungkin menguntungkan
manajemennya bukannya pekerja yang diperlukan.
Dalam berbagai referensi terdapat
banyak sekali pengertian mengenai produktivitas, yang dapat kita kelompokkan
menjadi tiga, yaitu :
1.
Rumusan tradisional bagi keseluruhan
produktivitas tidak lain ialah ratio dari pada apa yang dihasilkan (out
put) terhadap keseluruhan peralatan produksi yang dipergunakan (input).
2.
Produktivitaspada dasarnya adalah suatu sikap mental yang selalu
mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini lebih baik dari pada kemarin,
dan hari esok lebih baik dari hari ini.
3.
Produktivitas
merupakan interaksi terpadu secara serasi dari tiga faktor
esensial, yakni: investasi termasuk penggunaan pengetahuan dan teknologi serta
riset; manajemen; dan tenaga kerja.
Disamping ketiga pengertian tersebut
dalam doktrin pada konferensi Oslo, 1984, tercantum definisi umum produktivitas
semesta yaitu:
Produktivitas adalah suatu konsep
yang bersifat universal yang bertujuan untuk menyediakan lebih banyak barang
dan jasa untuk lebih banyak manusia, dengan menggunakan sumber-sumber riil yang
makin sedikit.”
Produktivitas adalah suatu
pendekatan interdisipliner untuk menentukan tujuan yang efektif, pembuatan
rencana, aplikasi penggunaan cara yang produktivitas untuk menggunakan
sumber-sumber secara efisien, dam tetap menjaga adanya kualitas yang tinggi.
Produktivitas mengikutsertakan pendayagunaan secara terpadu sumber daya
manusia dan keterampilan, barang modal teknologi, manajemen, informasi, energi,
dan sumber-sumber lain menuju kepada pengembangan dan peningkatan standar hidup
untuk seluruh masyarakat, melalui konsep produktivitas semesta total.
Produktivitas mempunyai
pengertiannya lebih luas dari ilmu pengetahuan, teknologi dan teknik manajemen,
yaitu sebagai suatu philosopi dan sikap mental yang timbul dari motivasi yang
kuat dari masyarakat, yang secara terus menerus berusaha meningkatkan kualitas
kehidupan.
Peningkatan produktivitas dan
efisiensi merupakan sumber pertumbuhan utama untuk mewujudkan pembangunan yang
berkelanjutan.Sebaliknya, pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan juga
merupakan unsur penting dalam menjaga kesinambungan peningkatan produktivitas
jangka panjang. Dengan demikian, pertumbuhan dan produktivitas bukan dua hal
yang terpisah atau memiliki hubungan satu arah, melainkan keduanya adalah
saling tergantung dengan pola hubungan yang dinamis, tidak mekanistik, non
linear dan kompleks.Secara makro, sumber pertumbuhan dapat dikelompokkan
kedalam unsur berikut:Pertama, peningkatan stok modal sebagai hasil akumulasi dari
proses pembangunan yang terus berlangsung. Proses akumulasi ini merupakan hasil
dari proses investasi.Kedua, peningkatan jumlah tenaga kerja juga memberikan
kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.Ketiga, peningkatan produktivitas merupakan
sumber pertumbuhan yang bukan disebabkan oleh peningkatan penggunaan jumlah
dari input atau sumber daya, melainkan disebabkan oleh peningkatan kualitasnya.
Dengan jumlah tenaga kerja dan modal yang sama, pertumbuhan output akan
meningkat lebih cepat apabila kualitas dari kedua sumber daya tersebut
meningkat.Walaupun secara teoritis faktor produksi dapat dirinci, pengukuran
kontribusinya terhadap output dari suatu proses produksi sering dihadapkan pada
berbagai kesulitan. Disamping itu, kedudukan manusia, baik sebagai tenaga kerja
kasar maupun sebagai manajer, dari suatu aktivitas produksi tentunya juga tidak
sama dengan mesin atau alat produksi lainnya. Seperti diketahui bahwa output
dari setiap aktivitas ekonomi tergantung pada manusia yang melaksanakan
aktivitas tersebut, maka sumber daya manusia merupakan sumber daya utama dalam
pembangunan. Sejalan dengan fenomena ini, konsep produktivitas yang dimaksud adalah
produktivitas tenaga kerja.Tentu saja, produktivitas tenaga kerja ini
dipengaruhi, dikondisikan atau bahkan ditentukan oleh ketersediaan faktor
produksi komplementernya seperti alat dan mesin.Namun demikian konsep
produktivitas adalah mengacu pada konsep produktivitas sumber daya
manusia.Secara umum konsep produktivitas adalah suatu perbandingan antara
keluaran (out put) dan masukan (input) persatuan waktu.
Produktivitas dapat dikatakan meningkat apabila:
1.
Jumlah produksi/keluaran meningkat
dengan jumlah masukan/sumber daya yang sama.
2.
Jumlah produksi/keluaran sama atau
meningkat dengan jumlah masukan/sumber daya lebih kecil dan,
3.
Produksi/keluaran meningkat
diperoleh dengan penambahan sumber daya yang relatif kecil (soeripto, 1989;
Chew, 1991 dan pheasant, 1991).
Konsep tersebut tentunya dapat
dipakai didalam menghitung produktivitas disemua sektor kegiatan.Menurut
Manuaba (1992) peningkatan produktivitas dapat dicapai dengan menekan
sekecil-kecilnya segala macam biaya termasuk dalam memanfaatkan sumber daya
manusia (do the right thing) dan meningkatkan keluaran sebesar-besarnya
(do the thing right). Dengan kata lain bahwa produktivitas merupakan
pencerminan dari tingkat efisiensi dan efektifitas kerja secara total.
Pengukuran produktivitas merupakan
suatu alat manajemen yang penting disemua tingkatan ekonomi. Dibeberapa
Negara maupun perusahaan pada akhir-akhir ini telah terjadi kenaikan minat pada
pengukuran produktivitas. Karena itu sudah saatnya kita membicarakan alasan
mengapa kita harus mengukur produktivitas.
1.
Mengapa
Mengukur Produktivitas
Pada tingkat sektoral dan nasional,
produktivitas menunjukkan kegunaannya dalam membantu evaluasi penampilan,
perncanaan, kebijakan pendapatan, upah dan harga melalui identifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi pendapatan, membandingkan
sektor-sektor ekonomi yang berbeda untuk menentukan prioritas kebijakan
bantuan, menentukan tingkar pertumbuhan suatu sektor atau ekonomi, mengetahui pengaruh
perdagangan internasional terhadap perkembangan ekonomi dan seterusnya.
Pada tingkat perusahaan, pengukuran
produktivitas terutama digunakan sebagai sarana manajemen untuk menganalisa dan
memdorong efisiensi produksi.
Pertama, dengan pemberitahuan awal, instalasi
dan pelaksanaan suatu sistem pengukuran, akan meninggikan kesadaran pegawai dan
minatnya pada tingkat dan rangkaian produktivitas.
Kedua, diskusi tentang gambaran-gambaran
yang berasal dari metode-metode yang relatif kasar ataupun dari data yang
kurang memenuhi syarat sekalipun, ternyata memberi dasar bagi penganalisaan
proses yang konstruktif atas produktif.
Manfaat lain yang diperoleh dari
pengukuran produktivitas mungkin terlihat pada penempatan perusahaan yang tetap
seperti dalam menentukan target/sasaran tujuan yang nyata dan pertukaran
informasi antara tenaga kerja dan manajemen secara periodik terhadap
masalah-masalah yang saling berkaitan. Pengamatan atas perubahan-perubahan dari
gambaran data yang diperoleh sering nilai diagnostik yang menunjuk pada
kemacetan dan rintangan dalam meningkatkan penampilan oraganisasi.Satu
keuntungan dari pengukuran produktivitas adalah pembayaran staf.Gambaran data
melengkapi suatu dasar bagi andil manfaat atas penmpilan yang ditingkatkan.
2.
Metode-Metode
Pokok Pengukuran Produktivitas
Secara umum pengukuran produktivitas
berarti perbandingan yang dapat dibedakan dalam tiga jenis yang sangat berbeda:
a.
Perbandingan-perbandingan antara
pelaksanaan sekarang dengan pelaksanaan secara historis yang tidak menunjukkan
apakah pelaksanaan sekarang ini memuaskan, namun hanya mengetengahkan apakah
meningkat atau berkurang serta tingkatannya.
b.
Perbandingan pelakasanaan antara satu unit
(perorangan tugas, seksi, proses) dengan lainnya. Pengukuran seperti itu
menunjukkan pencapaian relatif.
c.
perbandingan pelaksanaan sekarang
dengan targetnya, dan inilah yang terbaik sebagai memusatkan perhatian pada
sasaran/tujuan.
Untuk menyusun
perbandingan-perbandingan ini perlulah mempertimbangkan tingkatan daftar
susunan dan perbandingan pengukuran produktivitas.
Paling sedikit ada 2 jenis tingkat
perbandingan yang berbeda, yakni produktivitas total dan produktivitas parsial.
a.
Produktivitas
Total adalah perbandingan antara total
keluaran (output) dengan total masukan (input) persatuan waktu.
Dalam penghitungan produktivitas total, semua faktor masukan (tenaga kerja,
kapital, bahan, energi) tehadap total keluaran harus diperhitungkan.
Hasil Total
Prouktivitas Parsial =
Masukan Total
b.
Produktivitas parsial adalah perbandingan dari keluaran
dengan satu jenis masukan atau input persatuan waktu, seperti upah tenaga kerja,
kapital, bahan, energi, beban kerja, dll.
Hasil parsial
Prouktivitas Parsial =
Masukan Total
Sebuah perusahaan atau sistem
produksi lainnya menerapkan kombinasi kebijakan, rencana sumber-sumber dan
metodenya dalam memenuhi kebutuhan dan tujuan khususnya. Kombinasi-kombinasi
kebijakan ini dituangkan melalui dan dengan bentuan faktor-faktor produktivitas
internal dan eksternal.Pada tingkat perusahaan, faktor-faktor tersebut hampir
seluruhnya direflesikan dalam sumber pokok, yakni: manusia dan bahan-bahan atau
melalui :
1.
Sumber manusia.
2.
Energi sumber mineral
3.
Tenaga kerja
4.
Manajemen dan organisasi
5.
Modal pokok
6.
Bahan mentah
Contoh: Pengaruh faktor-faktor
seperti pendidikan dan latihan terlihat pada keahlian dan sikap pekerja.
Kemajuan teknologi dan litbang jika direalisasikan pada tingkat perusahaan
hanyalah melalui tenaga kerja trampil, perlengkapan serta manajemen yang lebih
baik, dengan kata lain melalui sumber-sumber manusia dan material.
Faktor-faktor lingkungan seperti siklus perdagangan, ekonomi skala serta
kondisi melalui tenaga kerja (pekerja lapangan dan pekerja kantor tata usaha
maupun manajemennya) dan modal.
Jadi peningkatan produktivitas
terutama berkaitan dengan tiga jenis sumber:
1.
modal (Perlengkapan, material,
energi, tanah dan bangunan)
Sebuah perbandingan dari hasil
perjam kerja manusia melalui waktu dipengaruhi oleh volume, variasi dan hasil
tahunan modal tetap.Kualitas, unsur peralatan serta tingkat keseragamannya
seringkali berat timbangannya dalam mengukur produktivitas organisasi.
Pada umumnya metode-metode
perintah kerja untuk penggunaan yang lebih baik dari peralatan, dapat
disarankan:
a.
Pemilihan daya guna peralatan yang
cocok.
b.
Penjadwalan daya guna mesin.
c.
Pengaturan pelayanan dan perawatan
mesin.
d.
Melatih dan memberikan pelajaran
pada pekerja operasional.
Faktor pertumbuhan produktivitas
yang sangat penting adalah material dan tenaga. Penggunaan bahan baku yang
terbuang rata-rata mencapai sekitar 40% dari biaya produksi nasional secara
keseluruhan, jika kita mempertimbangkan tenaga maupun bahan baku, maka gambaran
ini meningkat dalam jumlah yang besar.
Latihan operator yang sedikit,
penataan yang kurang baik serta ruang gedung yang tidak cukup, dapat
memperburuk masalah penanganan bahan-bahan dan mengarah kepada perubahan gerak
dan berakibat.
Tujuan yang paling penting
haruslah dengan merancang metode-metode untuk memproduksi jumlah hasil
produksi yang sama dengan energi material yang sedikit serta mengganti material
maupun alat-alat dengan biaya lebih rendah atau mungkin lebih memproduksi
barang lebih dari jumlah bahan yang sama.
Menngkatkan produtivitas juga
tegantung pada pemilihan bahan-bahan maupun daya guna secara optimal. Setiap
material mempunyai harga dan kualitas sendiri yang pemilihan yang tepat akan
mempengruhi produkitivitas.
2.
Tenaga kerja.
Salah satu area potensial tertinggi
dalam peningkatan produktivitas adalah mengurangi jam kerja yang tidak efektif.
Lamanya buruh bekerja, dan proporsi penempatan waktu yang produktif sangat
tergantung kepada cara pengaturan, latihan, pengaturan dan motivasinya.
Beberapa penyelidikan menunjukkan
bahwa waktu yang produktif berkisar 25% sampai 30% sedangkan yang tidak
produktif karena kejelekan manajemennya kadang-kadang mencapai 50% lebih dan
sisanya disebabkan adanya pekerjaan yang sia-sia ataupun karena sikap
pekerjaannya.
a.
Struktur Waktu Kerja
Analisa dan studi yang
berhati-hati terhadap semua komponen dan penggunaan waktu yang tidak
efektif menyebabkan manajemen dan pengawasan mampu mengurangi sebab-sebab
utama dari kerugian waktu serta membantu merencanakan teknik-teknik peningkatan
produktivitas bagi kepentingan individu atau kelompok pelaksanaan.
b.
Peningkatan Efektifitas Dari Waktu
Kerja
Masalah berikutnya adalah cara
melaksanakan teknik peningkatan produktivitas menggunakan manajemen, penambahan
material, perencanaan dan organisasi kerja yang lebih baik, latihan dan
pendidikan, kepuasan tugas serta faktor-faktor lain yang mempengaruhi kualitas
tenaga kerja maupun memanfaatkan cadangan-cadangan.
Kesempatan utama dalam meningkatkan
produktivitas manusia terletak pada kemampuan individu sikap individu dalam
bekerja serta manajemen maupun organisasi kerja dengan kata lain, dalam
mengkaji produktivitas pekerja individual paling sedikit kita harus menjawab
dari pertanyaan pokoknya: mampukah buruh bekerja lebih baik dan tertarikkah
pekerja untuk bekerja lebih giat?
Untuk menjawab kita harus mengecek
dua kelompok syarat bagi produktivitas perorangan yang tinggi.
Yang
pertama sedikitnya meliputi:
1)
Tingkat pendidikan dan keahlian.
2)
Jenis teknologi dan hasil produksi.
3)
Kondisi kerja.
4)
Kesehatan, kemampuan fisik dan
mental.
Kelompok
kedua mencakup:
1)
Sikap (terhadap tugas), teman
sejawat dan pengawas).
2)
Keaneka ragaman tugas.
3)
Sistem insentif (sistem upah dan bonus).
4)
Kepuasan kerja keamanan kerja.
5)
Kepastian pekerjaan.
6)
Perspektif dari ambisi dan promosi.
Jadi setiap tindakan perencanaan
peningkatan produktivitas individual paling sedikit mencakup tiga tahap berikut
ini:
1)
Mengenai faktor makro utama bagi
peningkatan produktivitas.
2)
mengukur pentingnya setiap faktor
dan menentukan prioritasnya.
3)
merncanakan sistem tahap-tahap untuk
meningkatkan kemampuan pekerja dan memperbaiki sikap mereka sebagai sumber
utama produktivitas.
c.
Insentif (Perangsang)
Yang paling penting, program
peningkatan produktivitas yang berhasil itu ditandai dengan adanya andil yang
luas dari keuangan dan tunjangan-tunjangan lain diseluruh organisasi.Setiap
pembayaran kepada perorangan harus ditentukan oleh andilnya bagi produktivitas,
sedangkan kenaikan pembayaran harus dianugerahkan teruatama berdasarkan hasil
produktivitas.
Untuk menjadi seorang motivator yang
efektif pemberian bonus haruslah dihubungkan secara langsung dengan tujuan
pencapaian malalui cara yang sederhana mungkin, sehingga penerima segera dapat
mengetahui berapa rupiah yag dia peroleh dari upayanya. Bentuk pemberian bonus
yang berorientasi pada penampilan adalah proyek pemberian bonus, dimana hasil
kerja yang baik segera diberi hadiah dengan bonus yang sesuai. Hal tersebut
lebih aktif dibandingkan menunggu berapa bulan tanpa pemberitahuan yang nyata
sampai saat pemberian bonus diakhir tahun ketika suasana “semua menrima” akan
membuang semua pengaruh motivasi selama tahun berjalan.
Penghargaan serta penggunaan
motivator yang tepat akan menimbulkan suasana kondutif atau berakibat kepada
produktivitas yang lebih tinggi. Semua itu mencakup sistem pemberian insentif
dan usaha-usaha manambah kepuasab kerja melalui sarana yang beraneka macam.
3.
Manjemen dan organisasi.
Banyak faktor yang dapat mempengruhi
tinggi rendahnya produktivitas kerja.Soedirman (1986) dan tarwaka (1991)
merinci faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja secara umum.
1.
Motivasi.
Motivasi merupakan keuatan atau
motor pendorong kegiatan seseorang kearah tujuan tertentu dan melibatkan segala
kemampuan yang didmiliki untuk mencapainya.
Karyawan didalam proses produksi
adalah sebagai manusia (individu) sudah barang tentu memiliki identifikasi
tersendiri antara lain sebagai berikut:
a.
Tabiat/watak
b.
Siakap laku/penampilan
c.
Kebutuhan
d.
Keinginan
e.
Cita-cita/kepentingan-kepentingan lainnya
f.
Kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk oleh keadaan
aslinya
g.
Keadaan lingkungan dan pengalaman karyawan itu
sendiri
Karena setiap karyawan memiliki
identifikasi yang berlainan sebagai akibat dari latar belakang pendidikan,
pengalaman dan lingkungan masyarakat yang beranekan ragam, maka ini akan
terbawa juga dalam hubungan kerjanya sehingga akan mempengaruhi sikap dan
tingkah laku karyawan tersebut dalam melaksanakan pekerjaannya.
Demikian pula pengusaha juga
mempunyai latar belakang budaya dan pandangan falsafah serta pengalaman dalam
menjalankan perusahaan yang berlain-lainan sehingga berpengaruh di dalam
melaksanakan pola hubungan kerja dengan karyawan.
Pada hakikatnya motivasi karyawan
dan pengusaha berbeda karena adanya perbedaan kepantingan maka perlu diciptakan
motivasi yang searah untuk mencpai tujuan bersama dalam rangka kelangsungan
usaha dan ketenaga kerjaan, sehingga apa yang menajdi kehendak dan cita-cita
kedua belah pihak dapat diwujudkan.
Dengan demikian karyawan akan
mengetahui fungsi, peranan dana tanggung jawab dilingkungan kerjanya dan dilain
pihak pengusaha perlu menumbuhkan iklim kerja yang sehat dimana hak dan
kewajiban karyawan diatur sedemikian rupa selaras dengan fungsi, peranan dan
tanggung jawab karyawan sehingga dapat mendorong motivasi kerja kearah
partisipasi karyawan terhadap perusahaan.
Iklim kerja yang sehat dapat
mendorong sikap keterbukaan baik dari pihak karyawan maupun dari pihak
pengusaha sehingga mampu menumbuhkan motivasi kerja yang searah antara karyawan
dan pengusaha dalam rangka menciptakan ketentraman kerja dan kelangsungan usaha
kearah peningkatan produksi dan prosuktivitas kerja.
a.
Faktor-faktor
Motivasi Kerja
Untuk mendapatkan motivasi kerja
yang dibutuhkan suatu landasan yaitu terdaptnya suatu motivator.Dan hal ini
merupakan hasil suatu pemikiran dan kebijaksanaan yang tertuang dalam
perencanaan dan program yang terpadu dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi
sesuai dengan keadaan eksteren dan interen.
Adapun yang dibutuhkan oleh
motivator adalah sebagai berikut:
1)
Pencapain penyelesaian tugas yang
berhasil berdasarkan tujuan dan sasaran.
2)
Penghargaan terhadap pencapaian tugas dan
sasaran yang telah ditetapkan.
3)
Sifat dan ruang lingkup pekerjaan itu sendiri
(pekerjaan yang menarik dan memberi harapan ).
4)
Adanya peningkatan (kemajuan).
5)
Adanya tanggung jawab.
6)
Adanya administrasi dan manajemen serta
kebijaksanaan pemerintah.
7)
Supervisi.
8)
Hubungan antara perseorangan.
9)
Kondisi kerja
10)
Gaji
11)
Status
12)
Keselamatan dan Kesehatan kerja.
2.
Usaha-usaha
Peningkatan Motivasi Kerja
untuk pencapaian tujuan diatas, maka
perlu adanya pembinaan sikap laku yang meliputi seluruh pelaku produksi.
Pemerintah, pengusaha/organisasi pengusaha, karyawan/organisasi karyawan dengan
cara sebagai berikut:
a.
Intern
Perusahaan
1)
penjabaran dan penanaman pengertian
serta tumbuhnya sikap laku dan pengamalan konsep Tri Dharma.
a)
Rumongso handarbeni (saling ikut
memiliki).
b)
Melu Hangrungkebi (ikut serta
memelihara, mempertahankan dan melestarikan).
c)
Mulat seriro hangroso wani (terus
menerus mawasdiri).
2)
Secara fisik, maka sarana-sarana
motivatif yang langsung berkaitan dengan kerja dan tenaga kerja diusahakan
peningkatan menurut kemampuan dan situasi-situasi perusahaan
b.
ekstern perusahaan
penanaman kesadaran bermasyarakat
dan kesadaran bernegara antara lain melalui penataran P4.
3.
Kedisplinan
Disiplin merupakan sikap mental yang
tecermin dalam perbuatan tingkah laku perorangan, kelompok atau masyarakat
berupa kepatuhan atau ketaatan terhadap peraturan, ketentuan, etika, norma dan kaidah
yang berlaku.
Disiplin dapat pula diartikan
sebagai pengendalian diri agar tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan
falsafah dan moral Pancasila
Dari pengertian diatas dapat kita
simpulkan bahwa disiplin mengacu pada pola tingkah laku dengan ciri-ciri
sebagai berikut:
a.
Adanya hasrat yang kuat untuk
melaksanakan sepenuhnya apa yang sudah menjadi norma, etik, dan kaidah yang
berlaku dalam masyarakat.
b.
Adanya prilaku yang dikendalikan.
c.
adanya ketaatan (obedience)
Dari ciri-ciri pola tingkah laku pribadi
disiplin, jelaslah bahwa disiplin membutuhkan pengorbanan, baik itu perasaan,
waktu, kenikmatan dan lain-lain.Disiplin bukanlah tujuan, melainkan sarana yang
ikut memainkan peranan dalam pencapaian tujuan.
Manusia sukses adalah manusia yang
mampu mengatur, mengendalikan diri yang menyangkut pengaturan cara hidup dan
mengatur cara kerja. Maka erat hubungannya antara manusia sukses dengan pribadi
disiplin.Mengingat eratnya hubungan disiplin dengan produktivitas maka disiplin
mempunyai peran sentral dalam membentuk pola kerja dan etos kerja produktif.
Disiplinmempunyai pengertian yang berbeda-beda dan dari berbagai
pengertian itu dapat kita sarikan beberapa hal sebagai berikut:
a. Kata
disiplin (terminologis) berasal dari kata latin: disciplina yang berarti pengajaran, latihandan sebagainya
(berawal dari kata discipulus
yaitu sorang yang belajar). Jadi secara etimologis ada hubungan pengertian
antara discipline dengan disciple (Inggris) yang berarti murid, pengikut yang
setia, ajaran atau aliran.
b. Latihan yang
mengembangkan pengedalian diri, watak atau ketertiban dan efisiensi.
c. Kepatuhan atau ketaatan
(obedience) terhadap ketentuan dan peraturan pemerintah atau etik, norma dan kaidah yang berlaku dala
masyarakat.
d. Penghukuman
(punishment) yang dilakukan melalui koreksi dan latihan untuk mencapai prilaku
yang dikendalikan (controlled behaviour).
Dengan rumusan-rumusan tersebut maka
dapat disimpulkan bahwa, disiplin adalah sikap mental yang tercermin
dalam perbuatan atau tingkah laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa
kepatuhan atau ketaatan (obedience) terhadap peraturan-peraturan dan
ketentuan-ketentuan yang ditetapkan baik oleh pemerintah atau etik, norma dan
kaidah yang berlaku dalam masyarakat untu tujuan tertentu.
Disiplindapat pula diartikan pengendalian diri agar tidak melakukan
sesuatu yang bertentangan dengan falsafah dan moral Pancasila.Disiplin nasional adalah suatu
kondisi yang merupakan perwujudan sikap mental dan perilaku suatu bangsa
ditinjau dari aspek kepatuhan dan ketaatan terhadap ketentuan, peraturan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
4.
Etos
Kerja.
Etos kerja merupakan salah satu
faktor penentu produktivitas, karena etos kerja merupakan pandangan untuk
menilai sejauh mana kita melakukan suatu pekerjaan dan terus berupaya untuk
mencapai hasil yang terbaik dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan.
Usaha untuk mengembangkan etos kerja
yang produktif pada dasarnya mengarah pada peningkatan produktivitas yang bykan
saja produktivitas individu melainkan juga produktivitas masyarakat secara
keseluruhan. Untuk itu dapat ditempuh berbagai langkah seperti:
a. Peningkatan
produktivitas melalui penumbuhan etos kerja, dapat dilakukan lewat pendidikan
yang terarah. Pendidikan harus mengarah kepada pembentukan sikap mental
pembangunan, sikap atau watak positif sebagai manusia pemabangunan bercirikan
inisiatif, kreatif, berani mengambil resiko, sistematis dan skeptis.
b. Sistem
pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan yang memerlukan
berbagai keahlian dan keterampilan serta sekaligus dapat meningkatkan
kreativitas, produktivitas, kualitas dan efisiensi kerja. Berbagai pendidikan
kejuruan dan politeknik perlu diperluas dan ditingkatkan mutunya.
c. Dalam
melanjutkan dan meningkatkan pembangunan sebaiknya nilai budaya Indonesia terus
dikembangkan dan dibina guna mempertebal rasa harga diri dan kebangsaan dan
memperkokoh kesatuan.
d. Disiplin
nasional harus terus dibina dan dikembangkan untuk memperoleh rasa sikap mental
manusia yang produtif .
e Menggalakkan
partisipasi masyarakat, maningkatkan dan mendorong agar terjadi perubahan dalam
masyarakat tentang tingkah laku, sikap serta psikologi masyarakat.
f. Menumbuhkan
motivasi kerja, dari sudut pandang pekerja, kerja berarti pengorbanan \, baik
untuk pengorbanan waktu senggang dan kenikmatan hidup lainnya, sementara itu
upah merupakan ganti rugi dari segala pengorbanannya itu.
Usaha-usaha diatas harus terus
dilakukan secara teratur dan berkesinambungan untuk mendapatkan hasil seperti
yang diharapkan langkah ini perlu direalisasikan apabila tujuan-tujuan yang
diahrapkan untuk membentuk sikap mental dan etos kerja yang produktif sebagai
faktor dominan masyarakat pembangunan dalam menuju tahap tinggal landas.
5.
Keterampilan.
Faktor keterampilan baik
keterampilan teknis maupun manajerial sangat menentukan tingkat pencapaian
produktivitas.Dengan demikian setiap individu selalu dituntut untuk terampil
dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) teruatama dalam
perubahan teknologi mutakhir.
Seseorang dinyatakan terampil dan
produktif apabila yang bersangkutan dalam satuan waktu tertentu dapat
menyelesaikan sejumlah hasil tertentu. Dengan demikian menjadi faktor penentu
suatu keberhasilan dan produktivitas, karena dari waktu itulah dapat
dimunculkan kecepatan dan percepatan yang akan sangat besar pengaruhnya
terhadap keberhasilan kehidupan termasuk kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.
Haruslah disadari sedalam-dalamnya
bahwa era tinggal landas hanya dapat kita wujudkan bila kita benar-benar
memiliki konspe waktu yang tepat serta mampu menguasai dan memanfaatkan waktu,
dan dengan demikian dapat meningkatkan produktivitas, sebagai perwujudan dari
eksistensi bangsa yang maju dan modern.
6.
Pendidikan.
Tingkat pendidikan harus selalu
dikembangkan baik melalui jalur pendidikan formal maupun informal. Karena
setiap penggunaan teknologi hanya akan dapat kita kuasai dengan pengetahuan,
keterampilan dan kemampuan yang handal.
Disamping faktor tersebut diatas,
manuaba (1992) mengemukakan bahwa faktor alat, cara dan lingkungan kerja sangat
berpengaruh terhadap produktivitas yang tinggi, maka faktor tersebut harus
betul-betul serasi terhadap kemampuan, kebolehan dan batasan manusia pekerja.
Dalam pendidikan maka kita mengenal
tiga faktor yang memberikan dasar penting untuk pengembangan disiplin ialah
sebagai berikut:
a. Pendidikan umumdari sekolah dasar
sampai perguruan tinggi.
b. Pendidikan politik guna membudayakan
kehidupan berdasarkan konstitusi, demokrasi pancasila dan hukum kesadaran hukum
kunci penting untuk menegakkan disiplin.
c. Pendidikan Agamayang menuju kepada pengendalian diri (self
control) yang merupakan hakikat disiplin, nilai agama tidak boleh dipisahkan
dari setiap aktivitas manusia peranan nilai-nilai keagamaan itu juga dijadikan
bagian penting dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara,
mengamalkan nilai kebenaran agama yang diarahkan membina disiplin nasional itu
wajib, sebagaimana manusia Indonesia mengamalkan Pancasila.
BAB III
PENUTUP
Produktivitas bukanlah suatu
perhitungan kuantitas, tetapi seperti diterangkan dalam bab-bab terdahulu,
adalah suatu ratio, suatu perbandingan dan merupakan suatu pengukuran matematis
dari suatu tingkat efisiensi. Produksi berkaitan dengan kuantitas, sedangkan
produktivitas adalah hasil persatuan dari suatu input (masukan). Jadi merupakan
perbandingan antara output (hasil) dan input (masukan).
Dengan
terselesainya makalah ini kami semua berharap semoga makalah yang kami buat ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca semua dan dapat di jadikan sebagai acuan
sumber ilmu pengetahuan terkait studi bahasa Indonesia. Dalam makalah ini hanya
sedikit pemaparan yang dapat kami paparkan dan tak mengelak dari itu semua kami
juga sadar bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan, dengan itu kami
selaku pembuat makalah memohon untuk para pembaca agar ikut serta dalam
mengkritisi makalah ini agar kita semua bisa mengetahui dimana letak kekurangan
serta kesalahan kita sehingga untuk pembuatan makalah yang selanjutnya kita
semua dapat membuatnya dengan jauh lebih baik dari apa yang telah dibaca para
pembaca. Sekian terima kasih semoga kesuksesan untuk kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
Sinungan, Muchdarsyah, 2005, Produktivitas Apa dan Bagaimana. Jakarta,
Bumi Aksara
Tarwaka, dkk, 2004, Ergonomi untuk keselamatan, kesehatan kerja dan
produktivitas. Surakarta. Uniba Press.
Artikel dari Internet
http://www.bung-hatta.info/content.php?article.202(Produktivitas Tenaga Kerja Dari
Perspektif Sosial)
Antoni., Student Ph.D Fakulti
Universiti Kebangsaan Malaysia, 2007, Gaya
Kepemimpinan Dan Produktivitas Kerja,
Rahardi Ramelan, Konsepsi Dan Strategi
Peningkatan Produktivitas Nasional Pd Seminar Gerakan Produktivitas
Nasional“ pada tanggal 13 Juli 1994 di Departemen Tenaga Kerja RI, Jakarta.
Komentar
Posting Komentar