TOKOH-TOKOH MUTU
MAKALAH
MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN
TOKOH-TOKOH MUTU
DOSEN PEMBIMBING: ABDUL GOFFAR S.Pd.I, M.Pd.I
NAMA KELOMPOK
AGUS TRIANI
NURFADILAH
SITI FARIDA
SRI AYU WIDIYANTI
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AT-TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AJARAN 2019-2020
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Total
Quality management merupakan
sebuah pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya
saing organisasi melalui perbaikan terus-menerus atas produk, tenaga kerja,
proses dan lingkungannya. [1]
TQM ini juga
kerap digunakan oleh lembaga pendidikan untuk berlomba-lomba mengakapsitasi
diri guna menarik minat pelanggan atau masyarakat agar tertarik terhadap
program-program dan kualitas pendidikan yang ditawarkan oleh lembaga tersebut.
Telah banyak
terjadi di lembaga pendidikan adanya ketidak seimbangan yang membuat kerugian
dan keuntungan yang seharusnya tidak di dapatkannya, banyak dari sekolah yang
mempunyai mutu tinggi tetapi minat masyarakat atau pelanggan sangat kecil untuk
menjadi konsumen terhadap sekolah tersebut dan juga banyak dari sekolah yang
memiliki daya minat konsumen atau pelanggan sangat tinggi tapi belum mampu
untuk mengkapsitasi diri dalam mengembangkan mutu untuk menjadi lebih baik.
Sehingga dengan
itu perlu kiranya bagi setiap lembaga pendidikan yang ingin tetap bertahan
dalam era yang serba digital ini memperhatikan terkait apa-apa yang berhubungan
dengan hal-hal yang dapat membuat lembaga pendidikannya menjadi lebih maju dari
lembaga yang lainnya.
Mempelajari dasar-dasar dari TQM
menjadi sangat penting bagi lembaga pendidikan agar mampu berimajinasi dan
mengaplikasikannya kedalam lembaga yang di anutnya, sehingga kami para
pemakalah membuat sebuah makalah yang berjudul tentang tokoh mutu agar dapat
menjadi sebuah gambaran kecil para pengelola lembaga agar lembaga terkelola
dengan baik dan benar.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
itu manajemen mutu pendidikan?
2.
Siapa
saja tokoh-tokoh dan metode yang di tawarkan dalam manajemen mutu?
3.
Metode
apa yang digunakan untuk mewujudkan kualitas suatu produk?
C.
Tujuan Masalah
1.
Untuk
mengetahui apa itu manajemen mutu pendidikan
2.
Untuk
mengetahui Siapa saja tokoh-tokoh dan metode yang di tawarkan dalam manajemen
mutu
3.
Untuk
mengetahui Metode apa yang digunakan untuk mewujudkan kualitas suatu produk
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian TQM
Dalam
mendefinisikan kualitas produk ada lima pakar utama dalam manajemen mutu
terpadu (Total Qualty Manejemen) yang saling berbeda pendapat, tetapi
maksudnya sama. [2]
Mutu
merupakan bagian dari semua fungsi usaha yang lain, seperti pemasaran,
sumberdaya manusia, keuangan, dan lain-lain. Dalam kenyataanya, penyelidikan
mutu adalah suatu penyebab umum yang alamiah untuk mempersatukan fungsi-fungsi
usaha.[3]
Terdapat
beberapa definisi dan pengertian mutu, beberapa konsep mutu menurut para ahli
adalah sebagai berikut, yaitu:
1. Joseph
M. Juran:
Kualitas
produk adalah kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk
memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Kecocokan penggunaan itu didasarkan
atas lima ciri utama sebagai berikut:
a.
Teknologi,
yaitu kekuatan atau daya tahan
b.
Psikologis,
yaitu citra rasa atau status
c.
Waktu,
yaitu kehandalan
d.
Kontraktual,
yaitu adanya jaminan
e.
Etika,
yaitu sopan santun, ramah dan jujur.
Kecocokan penggunaan suatu produk adalah apabila produk mempunyai
dahan tahan penggunaanya lama, produk yang digunakan akan meningkatkan citra
atau status konsumen yang memakainya, produk tidak mudah rusak, adanya jaminan
kualitas (quality assurance) dan sesuai etika bila digunakan. Khusus
untuk jasa diperlakukan pelayanan kepada pelanggan yang ramah tamah, sopan
santun serta jujur, yang dapat menyenangkan atau memuaskan pelanggan.
Kecocokan
penggunaan produk seperti dikemukakan di atas memiliki dua aspek utama, yaitu
ciri-ciri produknya memenuhi tuntunan pelanggan dan tidak memiliki kelemahan.
a.
Ciri-ciri
produk yang memenuhi permintaan pelanggan
Ciri-ciri
produk berkualitas tinggi apabila memiliki ciri-ciri produk yang khusus atau
istimewa, berbeda dari produk pesaing dan dapat memenuhi harapan atau tuntutan
sehingga dapat memuaskan pelanggan.
Kualitas
yang lebih tinggi memungkinkan perusahaan meningkatkan kepuasan pelanggan,
membuat produk laku terjual, dapat berdaing dengan pesaing, meningkatkan pangsa
pasar dan volume penjualan, serta dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi.
b.
Bebas
dari kelemahan
Suatu
produk berkualitas tinggi apabila di dalam produk tidak terdapat kelemahan,
tidak ada yang cacat sedikitpun. Kualitas yang tinggi menyebabkan perusahan
mengurangi tingkat kesalahan, mengurangi pengerjaan kembali dan pemmborosan,
mengurangi pembayaran biaya garansi, mengurangi ketidak puasan pelanggan,
mengurangi ispeksi dan pengujian, mengurangi waktu pengiriman produk ke pasar,
meningkatkan hasil, dan meningkatkan utilisasi kapasitas produksi serta
memperbaiki kinerja penyampaian produk atau jasa.
2. Kaoru
Ishikawa:
Berpendapat bawha mutu
berarti kepuasan pelanggan. Dengan demikian, setiap proses dalam organisasi
memiliki pelanggan. Kepuasan pelanggan internal akan menyebabkan kepuasan
pelanggan organisasi
3. Philip
B. Crosby:
Kesesuaian dengan
kebutuhan yang meliputi availability,
delibery, reliability, maintainabilitiy, dan cost effectiveness. Crosby ini dalam mencapai mutu menekankan
kesesuaian terhadap permintaan atau spesifikasi. Pengertian mutu Crosby
kemudian lebih ditekankan pada aspek zero
defect.
4.
W. Edwards
Deming:
Mutu harus bertujuan
memenuhi kebutuhan pelanggan sekarang dan dimasa mendatang. Penekanan utamanya
adalah perbaikan dan pengukuran mutu secara terus-menerus sehingga dikenal
dengan konsep pengendalianmutu statistic (statistical
process control).
5.
Feigenbaum
Kualitas
adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customer satisfaction). Suatu
produk berkualitas apabila dapat memberik kepuasan sepenuhnya kepada konsumen,
yaitu sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen dalam suatu produk.
6.
Garvin
dan davis
Kualitas
adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia/ tenaga
kerja, proses dan tugas, serta lingkungan
yang memenuhiatau melebihi harapan pelanggan atau konsumen.[4]
B.
Metode Mutu
Pembahasan
mengenai metode TQM di fokuskan pada tiga pakar pertama yang merupakan pionir
dalam pengembangan TQM. Mereka adalah W.Edwards Deming, Joseph M. Juran, Kaoru
Ishikawa dan Philip B. Crosby. Selain mereka, masih ada beberapa pakar lainnya,
seperti Armand V. Feigenbaum (yang terkenal dengan konsep TQC atau total
Quality Control dan sejumlah pakar-pakar jepang, diantaranya Shigeo Shingo,
Taiichi Ohno (pelopor justin-time atau JIT) dan kaoru Ishikawa (Pemrakarsa Quality Control
Circle (QCC), Company Wide Quality Control (CWOC), serta Ishikawa Cause Effect
Diagram).
1.
Metode
W.Edwards Deming
Banyak
yang menanggapi bahwa deming adalah bapak dari gerakan total Quality
Management. Deming mencatat kesuksesan dalam memimpin refulusi kualitas di
jepang, yaitu dengan memperkenalkan penggunaan teknik pemecahan masalah dan
pengendaliaan proses statistik (statistical process control =SPC).
Atas jasanya yang besar bagi industri jepang, maka setiap tahun diberikan
penghargaan Deming Prize kepada setiap perusahaan berprestasi dalam hal
kualitas. Deming Prize sendiri terbagi dalam dua kategori, yaitu “hadiah
deming” bagi individu yang berjasa dalam pengendalian kualitas dan metode
statistika jepang serta Deming Application Prize yang diberikan kepada
perusahaan yang melaksanakan dengan baik pengendaliaan kualitas perusahaannya
dan pengendalian mutu statistiknya.
Deming menganjurkan penggunaan SPC (yang
dikembangkan pertamakali oleh Shewhart) agar perusahaan dapat membedakan
penyebab sistematis dan penyebab khusus dalam mengenai kualitas. Ia
berkeyakinan bahwa perbedaan atau variasi merupakan suatu fakta yang tidak
dapat dihindari dalam kehidupan industri. Kontribusi utama yang membuatnya terkenal
adalah Deming Cycle, Deming Fourteen Points, dan Seven Deadly Diseases.
a.
Siklus
Deming (Deming Cycle)
Siklus deming ini dikembangkan untuk menghubungkan anatara operasi
dengan kebutuhan pelanggan dan mengfokuskan sumber daya semua bagian dalam
perusahaan (riset, desain, oprasi, dan pemasaran) secara terpadu dan sinergi
untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. siklus deming adalah model perbaikan
berkesinambungan yang dikembangkan oleh W. Edwards Deming yang terdiri
atas empat komponen utama secara berurutan seperti gambar dibawah ini:
|
perbaikan
|
|
Act plan
4 1
Check Do
3 2
|
Berdasarkan
Hasil Perubahan
atau
Mengamati
Melaksanakan
Pengaruh Perubahan
Perubahan
Siklus
PDCA (Plan-Do-Check-Act)
Penjelasan dari setiap siklus PDCA tersebut adalah sebagai berikut:
1)
Mengembangkan
rencana perbaikan (plan)
Ini
merupakan langkah setelah dilakukan pengujian ide perbaikan masalah. rencana
perbaikan disusun berdasarkan prinsip 5-W (what, why, who, when, dan where)
dan 1 H (how), yang dibuat secara jelas dan terinci serta menetapkan
sasaran dan target yang harus dicapai . dalam menetapkan sasaran dan target
harus dengan memerhatikan prinsip SMART (specific, masurable, attainable,
reasonable, dan time).
2)
Melaksanakan
rencana (do)
Rencana
yang telah disusun diimplementasikan secara bertahap, mulai dari skla kecil dan
pembagian tuga ssecara merata sesuai dengan kapasitas dan kemampuan dari setiap
personil. Selama dalam melaksanakan rencana harus dilakukan pengendalian, yaitu
mengupayakan agar seluruh rencana dilaksanakan dengan sebaik mungkin agar
sasaran dapat dicapai.
3)
Memeriksa
atau meneliti hasil yang dicapai (check atau study)
Memeriksa
atau meneliti merujuk pada penetapan apakah pelaksanaannya berada dalam jalur,
sesuai dengan rencana dan memantau kemajuan perbaikan yang direncakan. Alat
atau piranti yang dapat digunakan dalam memeriksa adalah pareto diagram,
histogram, dan diagram kontrol.
4)
Melakukan
tindakan penyesuaian bila diperlukan (action)
Penyesuain
dilakukan bila dianggap perlu, yang didasarkan hasil analisis di atas.
Penyesuain berkaitan dengan standarisasi peroduser baru guna menghindari
timbulnya.
Siklus
PDCA tersebut berputar secara berkesinambungan, segera setelah suatu perbaikan
dicapai, keadaan perbaikan tersebut dapat memberikan inspirasi untuk perbaikan
selanjutnya. Oleh karenanya, manajemen harus secara terus menerus merumuskan
sasaran dan target-target perbaikan baru.
b.
Empat
Belas Poin Deming (Deming’s Fourteen Points)
Empat belas poin Deming ini merupakan ringkasan dari keseluruhan
pandangan W. Erdwards Deming terhadap apa yang harus dilakukan oleh suatu
perusahaan untuk melakukan transisi positif dari bisnis yang sebagai mana
biasanya sehingga menjadi bisnis tingkat dunia. Berikut ini adalah ringkasan
dari keempat belas poin deming.
1)
Ciptakan
keajekan tujuan dalam menuju perbaikan kualitas barang dan jasa, dengan maksud
untuk menjadi lebih dapat bersaing, tetap bertahan dalam bisnis, dan untuk
menciptakan lapangan kerja.
2)
Adopsilah
falsafah baru. Manajemen harus memahami adanya era ekonomi baru dan siap
menghadapi tantangan, belajar bertanggung jawab, dan mengambil alih
kepemimpinan.
3)
Hentikan
ketergantungan pada inspeksi dalam membentuk mutu produk. Bentukalah mutu sejak
dari awal.
4)
Hentikan
peraktik menghargai kontrak berdasarkan tawaran yang rendah.
5)
Perbaiki
secara konstan dan terus menerus sistem produksi dan jasa, untuk meningkatkan
kualitas dan produktifitas, yang pada gilirannya secara konstan menurunkan
biaya.
6)
Lembagakan
on the job training
7)
Lembagakan
kepemimpinan. Tujuan kepemimpinan haruslah untuk membantu orang dan teknologi
dapat bekerja lebih baik.
8)
Hapuskan
rasa takut sehingga setiap orang dapat bekerja secara efektif
9)
Hilangkan
dingding pemisah (barrier) antar departemen sehingga orang dapat bekerja
sebagai suatu tim
10)
Hilangkan
selogan, desakan, dan target bagi tenaga kerja. Karena hal-hal tersebut dapat
menimbulkan permusuhan.
11)
Hilangkan
kouta dan manajemen berdasarkan sasaran. Gantikan dengan kepemimpinan.
12)
Hilangkan
penghalang yang dapat merampok kebebasan karyawan atas keahliaannya.
13)
Giaatkan
program pendidikan dan Self-improvement.
14)
Buatlah
tranformasi kerjaan setiap orang dan siapkan setiap orang untuk mengerjakannya.
c.
Deming’s
Seven Deadly Diseases
Deming’s
Seven Deadly Diseases ini merupakan
ringkasan dari paandanagan deming terhadap faktor-faktor yang dapat merintangi
tranformasi menuju bisnis berkualitas
tinggakat dunia.
Ketuju faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1)
Kurangnnya
keajekan tujuan untuk merencanakan barang dan jasa yang memiliki pasar yang
cukup untuk dapat mempertahankan perusahaan dalam bisnis dan menyediakan
lapangan kerja.
2)
Penekanan
pada laba jangka pendek; pemikiran jangka pendek yang didorong oleh kekuatan
akan usaha-usaha pengambilalihan dan tekanan dari bankir dan pemilik saham
untuk mengahasilkan dividen.
3)
Sistem
pemeriksaan personal bagi para manajer dan majemen berdasarkan sasaran tanpa
menyediakan metode-metode atau sumber daya untuk mencapai sasaran tersebut.
Evaluasi prestasi, merit ratings, dan penilaian tahunan merupakan bagian
dari penyakit ini.
4)
Job
hopping
oleh para manajer.
5)
Hanya
menggunakan data dan informasi yang tampak dalam pengambilan keputusan, hanya
memberikan sedikit pertimbangan atau bahkan tidak sama sekali terhadap apa yang
tidak diketahui atau tidak dapat diketahui.
6)
Biaya
medis yang terlalu berlebihan.
7)
Biaya
utang yang berlebihan, yang dikarnakan para pengacara yang bekerja berdasarkan
tarif kontingensi .
2. Metode
Joseph M. Juran
Juran yang memiliki 2 gelar kesarjanaan (teknik dan
hukum) merupakan pendiri dari Juran Institute Inc. di Wilton, Connecticut.
Institut ini bergerak dalam bidang pelatihan, penelitian, dan konsultasi
manajemen kualitas.
Juran mendefinisikan kualitas sebagai cocok atau sesuai
untuk digunakan (fitness for use),
yang mengandung pengertian bahwa suatu barang atau jasa harus dapat memenuhi
apa yang diharapkan oleh para pemakianya. Pengertian cocok untuk digunakan ini
mengandung 5 dimensi utama, yaitu kualitas desain, kualitas kesesuaian,
ketersediaan, keamanan, dan feld use.
Juran pernah mendapat penghargaan dari kaisar Jepang
berupa medali order of the sacred
treasure atau usahanya dalam mengembangkan kualitas di Jepang dam membina
persahabatan antara Jepang dan Amerika Serikat. Kontribusi Juran yang paling terkenal antara lain: Juran’s Three Basic Steps to Progress,
Juran’s Ten Steps to Quality Improvement, The Pareto Principle, dan The Furan Trilogy. Selain itu, Juran
juga mengembangkan konsep Managing
Business Process Quality, yang merupakan suatu teknik untuk melaksanakan
penyempurnaan kualitas secara fungsional silang (cross-functional).
a. Juran’S Three
Basic Steps to Progress
Menurut
Juran, tiga langkah dasar ini merupakan langkah yang harus dilakukan perusahaan
bila mereka ingin mencapai kualitas tingkat dunia. Juran juga yakin bahwa ada
titik diminishingreturn dalam
hubungan antara kualitas dan daya saing. Ketiga langkah tersebut terdiri atas
seperti berikut ini:
1) Mencapai
perbaikan terstruktur atas dasar kesinambungan yang dikombinasikan dengan
dedikasi dan keadaan yang mendesak.
2) Mengadakan
program pelatihan secara luas.
3) Membentuk
komitmen dan kepemimpinan pada tingkat manajemen yang lebih tingi.
b. Juran;s Steps to
Quality Improvement
Sepuluh
langkah untuk memperbaiki kualitas menurut Juran (Ross,1994:8) meliputi sebagai
berikut:
1) Membentuk
kesadaran terhadap kebutuhan akan perbaikan dan peluang untuk melakukan
perbaikan.
2) Menetapkan
tujuan perbaikan.
3) Mengorganisasikan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
4) Menyediakan
pelatihan.
5) Melaksanakan
proyek-proyek yang ditujukan untuk pemecahan masalah.
6) Malaporkan
perkembangan.
7) Memberikan
penghargaan.
8) Mengomunikasikan
hasil-hasil yang dicapai.
9) Menyimpan
dan mempertahankan hasil yang dicapai.
10) Memelihara
momentum dengan melakukan perbaikan dalam sistem reguler perusahaan.
c. The Pareto Principle
Juran
menerapkan prisip yang dikemukakan oleh Vilfredo Pareto ke dalam manajemen.
Prinsip ini kadang kala disebut pula kaidah 80/20, yang bunyinya “80% of the trouble comes from 20% of the
problems”. Menurut prinsip ini organisasi harus memusatkan pda penyisihan
sumber masalah yang sedikit tetapi vital (vital
few sources), yang menyebabkan sebagian besar masalah. Baik Juran maupun
Deming, yakin bahwa sistem merupakan dimana sebagian besar masalah terjadi.
d. The Juran
Trilogy
The Juran Trilogy merupakan
ringkasan dari tiga fungsi manajerial yang utama (Bounds, 1994: 76). Pandangan
Juran terhadap fungsi-fungsi ini dijelaskan sebagai berikut:
1) Perencanaan
kualitas
Perencanaan kualitas
meliputi pengembangan produk, sistem, dan proses yang dibutuhkan untuk memnuhi
atau melampaui harapan pelanggan. Langkah-langkah yang dibutuhkan untuk itu
adalah sebagai berikut:
a) Menentukan
siapa yang menjadi pelanggan.
b) Mengidentifikasi
kebutuhan para pelanggan.
c) Mengembangkan
produk dengan keistimewaan yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan.
d) Mengembangkan
sistem dan proses yang memunginkan organisasi untuk menghasilkan keistimewaan
tersebut.
e) Menyebarkan
rencana kepada level operasional.
2) Pengendalian
kualitas.
Pengendalian kualitas
meliputi langkah-langkah berikut:
a) Menilai
kinerja kualitas aktual.
b) Membandingkan
kinerja dengan tujuan.
c) Bertindak
berdasarkan perbedaan antara kinerja dan tujuan.
3) Perbaikan
kualitas.
Perbaikan kualitas
harus dilakukan secara on-going dan
terus-menerus. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
a) Mengembangkan
infrastruktur yang diperlukan untuk melakukan perbaikan kualitas setiap tahun.
b) Mengidentifikasi
bagian-bagian yang membutuhkan perbaikan dan melakukan proyek perbaikan.
c) Membentuk
suatu tim proyek yang bertanggung jawab dalam menyelesaikan setiap proyek.
d) Memberikan
tim-tim tersebut apa yang mereka butuhkan agar dapat mendiagnosis masalah guna
menentukan sumber penyebab utama, memberikan solusi, dan melakukan pengendalian
yang akan mempertahankan keuntungan yang diperoleh.
3. Metode Philip B. Crosby
Crosby terkenal
dengan anjuran manajemen zero defect dan pencegahan, yang menentang
tingkat kualitas yang dapat diterimasecara statistik (acceptable quality
level). Ia juga dikenal dengan quality vaccine dan Crosby’s
Fourteen Step to Quality Improvement.
Pandangan-pandangan
Crosby dirangkumnya dalam ringkasan yang ia sebut sebagai dalil-dalil manajemen
kualitas. Dalil-dalil ini dikemukakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pokok
berikut: Apa yang dimaksud dengan kualitas?, Sistem seperti apa yang dibutuhkan
untuk menghasilkan kualitas?, Standar kinerja bagaimana yang harus digunakan?, Sistem
pengukuran seperti apa yang dibutuhkan?
a.
Dalil
manajemen kualitas Crosby
1)
dalil
pertama: definisi kualitas adalah sama dengan persyaratan
Pada
awalnya kualitas diterjemahkan sebagai tingkat kebagusan atau kebaikan (goodness).
Definisi ini memiliki kelemahan, yaitu tidak menerangkan secara spesifik baik
atau bagus itu bagaimana. Misalnya, Shandy menginginkan sepeda motor yang
bagus. Ini sangatlah subjektif. Bagus itu seperti apa, apakah kriterianya,
bagaimana kecepatannya, modelnya yang sportif, hemat BBM, suku cadang mudah
didapat, dan yang tidak cepat rusak? Semuanya ini tidak jelas.
Definisi
kualitas menurut Crosby adalah memenuhi atau sama dengan persyaratan (corformance
to requirements). Kurang sedikit saja dari persyaratannya maka suatu barang
atau jasa dikatakan tidak berkualitas. Persyaratan itu tersendiri dapat berubah sesuai dengan keinginan pelanggan,
kebutuhan organisasi, pemasok dan sumber, pemerintah, teknologi, serta pasar
atau persaingan.
2)
dalil
kedua: sistem kualitas adalah pencegahan
Pada
masa lulau, sistem kualitas adalah penilaian (appraisal). Misalnya, di
pabrik TV pada akhir proses dinyatakan apakah TV yang dihasilkan tergolong
buruk atau bagus. Penilaian akhir ini hanya menyatakan bahwa apabila baik, maka
akan diserahkan kepada distributor, sedangkan bila buruk akan disingkirkan.
Penilaian seperti ini tidak
menyelesaikan masalah, karena yang buruk akan selalu ada.
Mengapa
tidak dilakukan pencegahan sejak awal sehingga outputnya dijamin bagus serta
hemat biaya dan waktu. Dalam hal ini dikenal the law of tens. Maksudnya,
bila kita menemukan suatu kesalahan diawal proses, bianya Cuma satu rupiah.
Akan tetapi, bila ditemukan di proses kedua, maka biayanya menjadi 10 rupiah.
Bila ditemukan di proses berikutnya lagi, biayanya menjadi 100 rupiah. Atas
dasar itulah sistem kualitas menurut crosby merupakan pencegahan.
Dalam
suatu proses pasti ada input dan output. Di dalam proses kerja internal sendiri
ada empat kendali input, dimana proses pencegahaan dapat dilakukan, yaitu pada:
a)
fasilitas
dan perlengkapan
b)
pelatihan
dan pengetahuan
c)
prosedur,
pedoman atau manual operasi standar dan pedoman standar kualitas
d)
standar
kinerja atau prestasi
3)
dalil
ketiga: kerusakan nol (zero defect) merupakan standar kinerja yang harus
digunakan
Konsep
yang berlaku di masa lalu, yaitu konsep mendekati (close enough concept),
misalnya efisiensi mesin mendekati 95%. Namun, coba dihitung berapa besarnya
inefisiensi 5% bila dikalikan dengan penjualan. Bila diukur dalam rupiah, maka
baru disadari besar sekali nialainya. Orang sering terjebak dengan nilai
presentase, sehingga crosby mengajukan konsep kerusakan nol, yang menurutnya
dapat tercapai bila perusahaan melakukan sesuatu secara benar semenjak pertama
kali dan setiap kali.
4)
dalil
keempat: ukuran kualitas adalah price of nonconformance
Kualitas
harus merupakan sesuatu yang dapat diukur. Biaya untuk mengahasilkan kualitas
juga harus terukur. Menurut crosby, biaya mutu merupakan penjumlahan antara prince
of conformance.
Prince
non conformance (PONC) adalah
biaya yang harus dikeluarkan karenna melakukan kesalahan. Contohnya, ketika
terjadi salah kirim kertas dari jakarta ke yogyakarta. Pelanggan minta kertas
CD, tetapi yang di kirim kertas HVS. Seandainya tidak ada yang mau menerima
kertas HVS, maka biaya angkut jakarta-yogyakarta, sewa gudang, biaya
administrasi, biaya lain, serta kemungkinan kerugian penjualan ditanggung oleh
produsen. Dengan konsep zero defect, diharapkan PONC ini tidak ada
sehingga dapat menurunkan biaya kualitas.
Prince
of conformance (PONC) adalah
biaya yang dikeluarkan bia tugas dilakukan secara benar semenjak pertama
kalinya. Untuk keperluan ini dibutuhkan konfirmasi persyaratan dari para pelanggan.
Sebelum pengiriman, DO-nya diperiksa apakah benar yang dikirim kertas CD?
Truknya juga diperiksa, apa betul yang dibuat adalah kertas CD?, Ekspedisi di
cek, apa betul truk menuju ke yogyakarta? Dari semua langkah itu, dihitung
berapa biayanya. Kesemuanya merupakan POC. Dalam praktik sehari-hari, POC
mencakup biaya pelatihan dan pendidikan kualitas, inspeksi dan kalibrasi.
b.
Crosby’s
quality vaccine
Crosby’s
quality vaccine terdiri atas
tiga unsur, yaitu determinasi (determination), pendidikan (education),
dan pelaksanaan (implementation). Determinasi adalah suatu sikap dari
manajemen untuk tidak menerima proses, produk atau jasa yang tidak memenuhi
persyaratan, seperti reject, scrap, lead delivery, wrong shpment, dan
lain-lain.
menurut
crosby, setiap perusahaan harus divaknisasi agar memiliki anti bodi untuk
melawan ketidak sesuaian ini merupakan sebab, sehingga harus dicegah dan
dihilangkan. Dalam menyiapkan vaksinasi suatu perusahaan perlu membuat lima
unsur, yaitu sebagai berikut:
1)
Integritas
CEO
(chief executive officer) harus dapat menjamin bahwa pelanggan menerima
pelanggan menerima apa yang telah dijanjikan, seperti kualitas barang atau
jasa, kualitas penyampaian, keamanan, dan lain-lain. COO (chief operating
officer) harus memiliki pemikiran bahwa kualitas di atas segala-galanya.
2)
Sistem
Sistem
adalah serangkaian prosedur dan kegiatan indvidu di dalam tim untuk menjamin
kualitas. Untuk itu, diperlukan pendidikan kualitas yang merupakan proses untuk
membantu karyawan agar memiliki bahasa yang sama dalam kualitas dan mengerti
peran mereka dalam upaya peningkatan kualitas.
3)
Komunikasi
Setelah
memiliki bahasa yang sama, maka komunikasi akan lebih mudah terjalin.
Komunikasi disini aadalah proses mengirim dan menerima informasi mengenai
kualitas dan mendukung peningkatan kualitas. Semua informasi mengenai usaha
peningkatan kualitas disampaikan kepada seluruh karyawan.
4)
Operasi
Operasi
adalah kegiatan sehari-hari yang dilakukan organisasi untuk menjaga agar tetap
berfungsi. Hal ini dilaksanakan dengan mendidik pemasok agar mengirim produk
dan jasa sesuai dengan persyaratan. Selain itu, prosedur, produk, dan sistem
dikualifiasian dan dibuktikan sebelum pelaksanaan dan diuji secara
terus-menerus.
5)
Kebijaksanaan
Dibutuhkan
pula adanya pernyataan dan pengarahan dari manjemen yang memperjelas di mana
mereka berdiri dan menentukn sikap tentang kualitas. Kebijakam harus jelas dn
tidak ragu-ragu.
c.
Crosby’s
fourteen steps to quality improvement
Empat
belas langkah untuk perbaikan kualitas menurut crosby:
1)
Komitmen
manjemen, yaitu menjelaskan bahwa manajemen bertekad, meningkatkan kualitas
untuk jangka panjang.
2)
Membentuk
tim kuaitas antar departemen.mengidentifikasi sumber terjadinya masalah saat
ini dan masalah potensial.
3)
Menilai
biaya kualitas dan menjelaskan bagaimana biaya itu digunakan sebagai alat
manajemen.
4)
Meningkatkan
kesadaran akan kualitas dan komitmen pribadi pada semua karyawan.
5)
Melakukan
tindakan dengan segera untuk memperbaiki masalah-masalah yang telah
diidentifikasi.
6)
Mengadakan
program zero defect
7)
Melatih
para penyedia ntuk bertanggung jawab dalam program kualitas tersebut
8)
Mengadakan
zero defect day untuk meyakinkan seluruh karyawan akan sadar akan adanya
arah baru
9)
Mendorong
individu dan tim untuk membentuk tujuan perbaikan pribadi dan tim
10)
Mendorong
para karyawan untuk engungkapkan kepada manajemen apa hambatan-hambatan yang
mereka hadapi dalam upaya mencapai tujuan kualitas
11)
Mengakui
atau menerima para karyawan yang
berpartisipasi
12)
Membentuk
dewan kualitas untuk mengembangkan komunikasi secara terus-menerus
13)
Mengulangi
setiap tahap tersebut untuk menjelaskan bahwa perbaikan kualitas adalah proses
yang tidak pernah berakhir.
Pada bagian diatas telah diuraikan beberapa pemikiran dari tiga
pakar kualitas. Ada jumlah kesamaan yang dikemukakan oleh ketiga pakar tersebut,
yaitu sebagai berikut:
1.
Inspeksi
bukanlah jawaban atau kunci untuk melaksankan perbaikan kualitas
2.
Keterlibatan
dan kepemimpinan manjemen puncak sangat penting dan esensial dalam menciptakan
komitmen dan budaya kualitas
3.
Program
kualitas membutuhkan usaha dari seluru bagian atau pihak dalam organisasi dan
merupakan momitmen jangka panjang. Untuk itu, dibutuhkan pula pendidikan dan
pelatihan
4.
Kualitas merupakan faktor primer sementara
scheduling meruapakan faktor sekunder.[5]
C.
Perspektif
kualitas
Garvin,
mengidentifikasi adanya lima alternatif perspektif kualitas yang biasa
digunakan, yaitu: transcendental,
product-Based approach, user-Based approach, dan value-based approach.
1.
Transcendental
Approach
Menurut
pendekatan ini kualitas dapat dirasakan atau diketahui, tetapi sulit
dioperasikan. Sudut pandang ini biasanya diterapkan dalam seni musik, drama,
seni tari, dan seni rupa. Selain itu, perusahaan dapat memprosikan produknya
dengan pernyataan-pernyataan seperti tampat berbelanja yang menyenangkan (supermarket),
elegan (mobil), kecantikan wajah (kosmetik), kelembutan dan kehalusan kulit
(sabun mandi), dan lain-lain. Dengan demikian, fungsi perencanaan, produksi dan
pelayanan suatu perusahaan sulit sekali menggunkan definisi sebagai dasar
manajemen kualitas karena sulitnya mendisain produk secara tepat yang
mengakibatkan implementasinya sulit.
2.
Product-based
Approach
Pendekatan ini
menganggap kualitas sebagai karakteristik atau atribut yang dapat di
kuantifikasikan dan dapat di ukur.
Perbedaan dalam kualitas mencerminkan perbedaan dalam jumlah unsur dan atribut
yang dimiliki produk. Karena pandangan ini sangat objektif, maka tidak dapat
menjelaskan perbedaan dalam selera, kebutuhan, dan preferensi individua.
3.
User-based
approach
Pendekatan ini
didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada orang yang
menggunakannya, dan produk yang paling memuaskan preferensi seseorang (misalnya
perceived quaality) merupakan produk yang berkualitas paling tinggi.
Perspektif yang subjektif dan deman-oriented ini juga menyatkan bahwa
pelanggan yang berbeda memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda pula,
sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama dengan kepauasann maksimum yang
dirasakan.
4.
Manufacturing-based
approach
Perspektif ini
bersifat dan terutama memperhatikan praktik-praktik perekayasaan dan
manufakturan serta mendefiisikan kualitas sebagai sama dengan pernyataannya (confermance
to requirements). Dalam sektor jasa, dapat dikatakan bahwa kualitasnya
bersifat operations-driven). Pendekatan
ini berfokus pada penyesuaian spesifikasi yang dikembangkan secara
internal, yang sering kali didorong oleh tujua n peningkatan produktivitas dan
penekanan biaya. Jadi, yang menentukan kualitas adalah standar-standar yang
ditetapkan perusahaan , bukan konsumen yang menggunakannya.
5.
Value-based
approach
Pendekatan ini
memandang kualitas dari segi nilai dan harga. Dengan mempertimbangkan trade-off
antara kinerja produk dan harga, kualitas didefinisikan sebagai affordable
excellence, kualitas dalam perspektif ini bersifat relatif, sehingga produk
yang memiliki kualitas paling tinggi belum tentu produk yang paling bernilai.
Akan tetapi, yang paling bernilai adalah produk atau jasa yang paling tepat
dibeli best-buy.[6]
[1] Nur Nasution.Manajemen
Mutu Terpadu.2015. bogor:Ghalia Indonesia.,hlm.,vii
[2] Nur Nasution.Manajemen
Mutu Terpadu.2015. bogor:Ghalia Indonesia.hlm.,1
[3] Rudi Prihantoro.Konsep
Pengendalian Mutu.2012. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya.hlm.,42
[4] Nur Nasution.Manajemen
Mutu Terpadu.2015. bogor:Ghalia Indonesia.,hlm.,1-2
[5] Nur Nasution,Manajemen
Mutu Terpadu,(bogor : Ghalia Indonesia,2015.),hlm.25-33
[6] Nur Nasution.Manajemen
Mutu Terpadu.2015. bogor:Ghalia Indonesia.,hlm.,5-6
Komentar
Posting Komentar