Sejarah Perkembangan Sosiologi Pendidikan
MAKALAH
SOSIOLOGI PENDIDIKAN
Sejarah Perkembangan Sosiologi
Pendidikan
DOSEN
PEMBIMBING:
Fitri Nur
Hidayat, M.Pd.I
DISUSUN OLEH:
Nurfadilah
Agus Triani
Rita Aminatul
Fakhoriyah
Umi Farihatul
Masruroh
Sekolah
Tinggi Agama Islam (STAI) At-Taqwa Bondowoso
FAKULTAS
TARBIYAH
PROGRAM
STUDI MPI
2018/2019
بِسْÙ…ِ
اللهِ الرَّØْمنِ الرَّØِÙŠْÙ…
Penulisan makalah ini adalah merupakan salah satu
tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Sosiologi Pendidikan Program Studi
Manajeman Pendidikan Islam (MPI) STAI AT- TAQWA Bondowoso, sebagai upaya
memenuhi tugas mata kuliah pada semester tiga. Penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada dosen pembimbing yang telah banyak membantu penulis agar dapat
menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang
lebih luas kepada pembaca. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini
masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca dan teman-teman. Amin.
Penyusun
DAFTAR ISI
COVER.................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR............................................................................................ ii
BAB I
PENDAHULUAN
Di era milineal ini tidak dapat dipungkiri lagi pertumbuhan
masyarakat sangatlah pesat di karenakan perubahan zaman yang semakin canggih
dalam bidang tekhnologi.
Dalam kehidupan sosial masyarakat mendapat tantangan baru untuk
bisa menyeimbangkan antara kehidupan yang dijalani pada saat ini. Masyarakat di
tantang tidak hanya bisa atau mampu menjalin interaksi yang baik dengan
sesamanya tetapi masyarakat juga ditantang untuk berpendidikan agar tidak
mejadi masyarakat yang tertinggal dalam perubahan yang bersifat global ini.
Maka
diperlukanlah sebuah pengetahuan yang memberikan kontribusi kepada masyarakat
agar dapat menjadi person atau masyarakat yang berpendidikan dan tetap mampu
menjalin hubungan sosial agar tetap baik dan seimbang dalam kehidupan
bermasyarakatnya.
1.
Bagaimana
sejarah sosiologi pendidikan?
2.
Bagaimana
perkembangan sosiologi pendidikan di indonesia?
3.
Siapa
tokoh sosiologi pendidikan dan pemikirannya?
1.
Untuk
mengetahui bagimana sejarah sosiologi pendidikan
2.
Untuk
mengetahui bagaimana perkembangan sosiologi pendidikan di indonesia
3.
Untuk
mengetahui Siapa tokoh sosiologi pendidikan dan pemikirannya
BAB II
PEMBAHASAN
Sosiologi pendidikan berawal dari ilmu
sosiologi umum atau sosiologi mikro (micro sociology) yang muncul pada abad
ke-18. Ilmu sosiologi mulai melepaskan diri dari ilmu filsafat dan berdiri
sendiri sejak abad ke-19. Istilah sosiologi pertama kali digunakan August Comte
(1798-1857) dalam bukunya Cour de Phillosophie Positive. Sosiologi berasal dari
kata “Socious” dan “logos”. Socious berasal dari bahasa Latin yang artinya
“teman”, sedangkan logos berasal dari bahasa Yunani yang artinya “kata,
perkataan atau pembicaraan”, Jadi sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang
mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antar
manusia yang menguasai kehidupan.
Pada awalnya
sosiologi berada dalam ilmu filsafat yang dipandang sebagai satu-satunya ilmu
untuk pengetahuan umum. Namun, ketika ada masalah yang terdapat dalam
masyarakat yang ternyata tidak bisa dipecahkan dalam ilmu filsafat maupun
ilmu-ilmu lainnya, maka kebiasaan untuk memisahkan sosiologi dari ilmu lainnya
tampak dan terasa pada masa Revolusi di Eropa yang mengganas dalam
Revolusi Prancis (1789-1799M).
Masyarakat mengalami
perubahan sosial yang cepat. Perubahan sosial menimbulkan culturallag.
Culturallag merupakan “sumber” masalah-masalah
sosial yang dialami dunia pendidikan. Para ahli sosiologi menyumbangkan
pemikirannya untuk memecahkan masalah
itu, hingga lahirlah sosiologi pendidikan.
Sejak awal
perkembangannya, pada awal abad ke-19, hingga dewasa ini, ilmu sosiologi telah
mengalami perubahan yang terus-menerus ilmu yang oleh Auguste Comte disebut
dengan “social physics” yang kemudian dikenal dengan sosiologi. Sosiologi terus
berkembang seiring dengan perubahan yang timbul di masyarakat. Pada awalnya
ahli pendidikan sosial memandang pendidikan sosial sebagai bidang studi yang
memberikan dasar bagi kemajuan sosial dan pemecahan masalah sosial. Pendidikan
dianggap sebagai badan yang sanggup memperbaiki masyarakat. Pendidikan
dijadikan alat kontrol sosial yang membawa kebudayaan ke puncak yang lebih
tinggi.[1]
Perkembangan
sosiologi umum tersebut seiring pula dengan perkembangan sosiologi pendidikan
yang sudah merupakan kajian khusus dalam ilmu pendidikan. Sosiologi pendidikan
selanjutnya sudah tidak bisa dipisahkan dari sejumlah jenis ilmu yang terkait
dengan pendidikan, karena sosiologi pendidikan merupakan awal perkembangan ilmu
pendidikan. Meskipun wilayah sosiologi pendidikan baru terbatas sekali segi-seginya
yang telah di analisis, dan baru sedikit (karena ada) yang dapat menopang
generalisasi tersedia, namun telah meningkat secara pesat jumlah kontribusi
terhadap suatu analisis ilmiah yang mengenai sistem sosial pendidikan. Sudah
banyak tersedia hasil analisis ilmiah tentang sistem sosial pendidikan,
tentunya bisa banyak bermanfaat bagi upaya pengelolaan organisasi-organisasi
dan administrasi sistem pendidikan. Hal ini merupakan tantangan bagi para ahli
sosiologi yang benar-benar tertarik untuk mengalih kesanggupan dan perhatiannya
kepada hubungan-hubungan sosial yang berlangsung dalam proses pendidikan.
Ditinjau dari
perspektif sebab lahirnya ilmu sosiologi pendidikan adalah dikarnakan adanya
perkembangan masyarakat yang cepat dan berakibat pada merosotnya peran
pendidik, dan perubahan interaksi antar manusia. Dikarenakan manusia tumbuh dan
berkembang bukan di sekolah melainkan di masyarakat.
Perubahan sosial
yang cepat meliputi berbagai bidang kehidupan dan merupakan masalah institute
social seperti: industri, agama, perekonomian, pemerintahan, keluarga,
perkumpulan, dan pendidikan.
Ditinjau dari segi
etimologi istilah sosiologi pendidikan terdiri dari dua kata yaitu Sosiologi
dan Pendidikan. Sepintas jelas bahwa dalam sosiologi, karena situasi pedidikan
adalah situasi hubungan dan pergaulan sosial, yaitu hubungan dan pergaulan
sosial antara pendidik dengan anak didik, pendidik dengan pendidik, anak-anak
dengan anak-anak, pegawai dengan pendidik, pegawai dengan anak-anak. Hubungan
dan pergaulan sosial ini secara totalitas,merupakan suatu bentuk keluarga ialah
keluarga sekolah, di mana dapat tumbuh dan berkembang di masyarakat. Jadi,
dalam keluarga sekolah itu terdapat hubungan pergaulan sosial yang timbal balik satu sama lain, saling
mempengaruhi, dan terjadi interaksi sosial. Dalam sosiologi pendidikan terdapat
sosiologi dan pendidikan, yang merupakan ilmu baru yang menggunakan prinsip
sosiologi dalam seluruh proses pendidikan meliputi metode, organisasi sekolah,
evaluasi pembelajaran, dan kegiatannya.
Sosiologi pendidikan adalah cabang ilmu
pengetahuan yang membahas proses interaksi sosial anak-anak melalui keluarga,
masa sekolah sampai dewasa serta dengan kondisi-kondisi sosio-kultural yang
terdapat di dalam masyarakat dan negara.
Pengetahuan sosiologi pada dasarnya
sudah ada dan berkembang di Indonesia sejak zaman dahulu. Hal tersebut dapat
dilihat dari ajaran-ajaran para pujangga ataupun tokoh bangsa Indonesia yang
memasukkan unsur-unsur sosiologi di dalamnya meskipun sosiologi baru pada batas
sebagai pengetahuan dan belum menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Contohnya
adalah ajaran Wulan Reh yang diberikan oleh Paduka Mangkunegoro IV telah
memasukkan unsur hubungan manusia pada berbagai golongan yang berbeda.
Hal tersebut menunjukkan bahwa
pengetahuan sosiologi sudah dikenal dan dikembangkan di Indonesia pada masa
itu. Proses selanjutnya, konsep penting dalam sosiologi berupa kepemimpinan dan
kekeluargaan dipraktikkan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai peletak dasar
pendidikan nasional Indonesia dalam proses pendidikan di Taman Siswa.
Sosiologi sebagai suatu ilmu yang
mandiri masih berusia relatif muda dan secara formal baru diperkenalkan di
Indonesia oleh B.Ccrieke, seorang guru besar sosiologi dari Belanda sebagai
“alat bantu” pendidikan hukum di Sekolah Tinggi. Hukum (Rechtsshogeschool)
yang didirikan di Jakarta tahun 1924. Namun seiring berjalannya waktu, mata
kuliah tersebut ditiadakan karena pengetahuan tentang bentuk dan susunan
masyarakat beserta proses yang terjadi di dalamnya dianggap tidak diperlukan
dalam ilmu hukum adalah perumusan peraturan dan sistem-sistem untuk
menafsirkannya, sedangkan penyebab terjadinya serta tujuan sebuah peraturan dianggap
tidak begitu penting untuk diketahui.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia 17 Agustus 1945, sosiologi mengalami perkembangan yang cukup
signifikan di negeri ini. Tokoh yang pertama kali mengajarkan sosiologi dalam
bahasa Indonesia adalah Soenarjo Kolopaking pada tahun 1948 di Akademi Ilmu
Politik Jogjakarta (pada saat ini menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
UGM). Berawal dari situlah akhirnya sosiologi mulai mendapat perhatian dari
kalangan akademisi di Indonesia. Terlebih lagi dengan semakin terbukanya
kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk belajar di luar negeri sejak tahun
1950, banyak pelajar Indonesia yang mendalami ilmu sosiologi dan kemudian
mengajarkan ilmu tersebut di Indonesia.
Buku tentang sosiologi dalam bahasa
Indonesia diterbitkan pertama kali oleh Djody Gondokusuma dengan judul
Sosiologi Indonesia. Buku tersebut berisi tentang beberapa pengertian mendasar
dari sosiologi. Buku ini banyak membantu para pelajar pada khususnya dan
masyarakat pada umumnya dalam memahami perubahan yang terjadi sedemikian cepat
(revolusi) dalam masyarakat Indonesia saat itu. Setelah kelahiran buku pertama
tersebut, muncul berbagai buku sosiologi baik yang ditulis oleh orang-orang
Indonesia ataupun terjemahan dari bahasa asing. Selain itu, muncul berbagai
fakultas ilmu sosial dan politik di universitas-universitas dalam negeri. Hal
tersebut semakin mempercepat dan memperluas perkembangan sosiologi di
Indonesia. Hingga akhirnya pada saat ini kita pun sudah bisa mempelajari
sosiologi.
Beberapa tokoh sosiologi Indonesia
yang termasuk dalam generasi tua adalah Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
serta Soenario Kolopaking. Selain mereka dikenal pula beberapa sosiolog lain
seperti Soerjono Soekanto, H.W. Bachtiar, Arief Budiman, Loekman Soetrisno, Nasikun,
K.J. Veeger, dan sebagainya.
1.
Emile
Durkheim
Durkheim merupakan ahli
teori yang terpenting dalam sosiologi pendidikan. Ia lahir di Epinal pada tahun
1858, di suatu perkampungan kecil orang Yahudi di bagian Timur Perancis. Jika
ia mengikuti tradisi keluarganya, kelak ia juga akan menjadi rabi. Akan tetapi,
karena pengaruh gurunya, ia kemudian menjadi seorang Katolik. Kemudian, ia
menjadi orang yang tidak peduli dengan agama (agnostik).
Menurut Durkheim,
sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta sosial (social fact). Fakta sosial
ialah cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu
dan mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikannya.
Lebih lanjut, dia memerinci karakteristik fakta sosial, yaitu :
a)
Fakta
sosial bersifat eksternal. Ia mencontohkan, norma-norma dan sistem moneter.
Lalu, menegaskan bahwa ini benar-benar berada di luar individu.
b)
Fakta
sosial itu memaksa individu, membimbing, dan mendorong dengan cara tertentu
yang dipengaruhi oleh berbagai tipe fakta sosial yang ada di dalam
lingkungannya.
c)
Fakta
sosial itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam masyarakat.
Untuk menjelaskan menjelaskan
semua itu, Durkhiem kemudian memberi contoh pendidikan anak. Sejak bayi,
seseorang mulai disosialisasikan untuk makan, minum, dan tidur dalam waktu
tertentu, diwajibkan taat, menjaga kebersihan dan ketenangan, menghormati adat
dan kebiasaan. Dari contoh ini dapat dijumpai, ada cara bertindak, berfikir dan
perasaan yang bersumber pada sutu kekuatan di luar individu, bersifat memaksa,
serta mengendalikan individu.
2.
Karl
Marx
Marx lahir di Trier,
Jerman, di daerah Rhine pada tahun 1818. Ayahnya, Heinrich bekerja sebagai
pengacara dan ibunya berasal dari keluarga rabi yahudi.
Cara berpikir Marx
sebetulnya merupakan refleksi dari situasi sosial politik ekonomi saat itu,
sehingga akan ditemukan bahwa hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat banyak
di tentukan oleh relasi ekonomi.
Basis sosial kehidupan
manusia diwarnai oleh pola relasi ekonomi. Pola relasi ekonomi dalam masyarakat
yang mendasari hukum agama dan politik di sebut sebagai super struktur. Marx
memandang bahwa masyarakat terus menerus berintraksi dengan dunia materi. Kita
mengubah dunia, tetapin sebaliknya kita juga di ubah oleh dunia.
3.
Max
Weber
Max Weber lahir di
Erfurt, Thuring tahun 1864, tetapi di besarkan di Berlin. Keluarga termasuk
orang Protestan kelas menengah atas dan ayahnya seorang hakim Erfurt.
Menurut Weber, sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari tindakan sosial. Suatu tindakan adalah perilaku
manusia yang mempunyai makna subjektif bagi pelakunya. Suatu tindakan hanya
dapat disebut tindakan sosial apa bila tindakan tersebut dilakukan dengan
mempertimbangkan prilaku orang lain dan beriorentasi pada perilaku orang lain.
Misalnya, bunuh diri akibat tidak dapat menahan suatu penyakit menahun atau
karena gangguan kejiwaan bukanlah
tindakan sosial, tetapi bunuh diri untuk menghukumi suami yang menyeleweng atau
karena terdorong rasa malu setelah melakukan kesalahan merupakan tindakan
sosial.[2]
4.
Herbert
Spencer
Spencer adlh salah
seorang filosofi inggris. Beliau berpendapat bahwa sebagaimana kehidupan
alamiah, kehidupan sosial berkembang secara evolusi, sesuai dengan teori
didalam biologi. Spencer melihat masyarakat sebagai suatu organiisme yang besar
sekali. Sebgaimana jantung, hati, paru-paru, dan bagian lain dari tubh manusia,
semua bagian bekerja secara teratur sesuai fungsinya masing-masing untuk
membuat manusia tetap hidup demikian juga halnya dengan manusia, tiap bagian
didalamnya akan bekerja menurut fungsinya tersendiri agar manusia tetap utuh
dan stabil.[3]
BAB III
PENUTUP
1.
Sejarah
adanya ilmu sosiologi pendidikan ialah berawal dari ilmu filsafat yang pada
mulanya terdapat 3 aspek yaitu filsafat kealaman, perbintangan dan filsafat
sosial dan secara lambat laun dikarenakan adanya perbedaan dan pengkhususan
yang segnifikan dilingkup nyata maka filsafat sosial lebih di spekualisasikan
kepada ilmu sosiologi yang khusus membahas tentang permasalahan-permasalahan
yang ada di masyarakat dan untuk menjawab tentang zaman saat ini akhirnya ilmu
sosiologi umum tersebut dikolaborasikan menjadi ilmu sosiologi pendidikan.
2.
Perkembangan
ilmu sosial di indonesia dimulai pada masa indonesia masih bernama Nusantara
yang mana pada waktu itu Wulan Reh memerintahkan kepada Mangkunegoro IV untuk
memasukkan umur hubungan manusia pada berbagai golongan yang berbeda, setelah
itu ki Hajar Dewantara sebagai peletak dasar pendidikan mulai menerap sebuah
konsep penting dalam sosiologi berupa kepemimpinan dan keluargaan di proses
pendidikan taman siswa, lambat laun ilmu sosiologi yang umumnya bersifat
relatif ini ditiadakan karena tidak di anggap penting dan mulai dibenahi kembali
pasca kemerdekaan republik indonesia.
3.
Berbagai
banyak tokoh yang menjelaskan tentang makna sosiologi terdapat sebuah
kesimpulan yang bisa ditarik dan di pahami. Bahwasanya ilmu sosiologi adalah
ilmu yang berbicara tentang seluk beluk bermasyarakat dalam menalaah fakta yang
ada, keekonomian politik yang berhubungan erat, kebiasaan masyarakat dan
sebagai komunitas yang besar.
DAFTAR
PUSTAKA
Idi, Abdullah.
2016. Sosiologi pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Mahmud. 2016. Sosiologi Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia
Komentar
Posting Komentar