Perkembangan Dan Peradaban Islam Pada Masa Daulah Ab-Basiyah
SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM
Perkembangan Dan Peradaban Islam Pada Masa Daulah Ab-Basiyah
Perkembangan Dan Peradaban Islam Pada Masa Daulah Ab-Basiyah

DisusunOleh :
Agus Triani
Nurifkiyah Nailatul Lailih
Shoma Amaliya Fitriah
Yulia Rizqi
STAI AT – TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AJARAN 2017/2018
Kata pengantar
Puji syukur ilahirobbi atas berkat
rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah guna
menuntaskan tugas Sejarah Kebudayaan Islam dengan tepat atas waktu yang telah
di tentukan.
Sholawat serta salam semoga tetap
tercurah limpahkan kepada keharibaan junjungan kita nabi Muhammad SAW,karena
berkat perjuangannya kita dapat merasakan nikmatnya hidup di tengah-tengah
banyaknya ilmu pengetahuan.
Makalah yang berjudul Perkembangan
Dan Peradaban Islam Pada Masa Daulah Ab-Basiyah merupakan sebuah makalah
yang dibuat untuk memenuhi sebuah tanggung jawab yang telah di amanahi oleh
guru kami yaitu: dan untuk beliau Abdul
Wasik,S.Sos.I, M.HI
ucapan terimakasih yang tiada tara karena
telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini hinga selesai.
Makalah
ini hanyalah sebuah tulisan yang jauh dari kata kesempurnaan sehingga sangat di
harapkan partisipasi semua pembaca untuk memberi kritikan yang dapat membangun kami
semua dalam pembutan makalah.
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
Islam adalah agama yang di anut oleh
banyak manusia yang ada di muka bumi ini, dengan keberadaannya telah banyak
memberikan perubahan terhadap keberadaban dunia ini, tanpa islam mungin dunia
ini tak akan secanggih pada saat ini.
Sejarah islam telah merubah tatanan keduniaan yang ada di
muka bumi ini, sehingga tak ada lagi perang antar keberbedaan dalam setiap
perbedaan, begitu besar nya peran islam untuk dunia ini.
Islam pernah menggapai masa kejayaannya pada zaman lampau dan pada
era saat ini islam telah kehilangan eksistensinya sebagai agama yang membawa
banyak perubaan terhadap dunia ini.
Karena banyak dari kalangan orang islam
itu sendiri tidak paham dan tidak sadar akan hal-hal yang telah islam bawa
untuk dunia yang saat ini kita rasakann.
Untuk
meminimalisir agar tak banyak lagi umat islam yang tak mengenal apa itu
esistens islam
Kami mencoba untuk membuat sebuah
makalah yang didalamnya berisi tentang sejarah kejayaan islam yang harapannya
kelak akan membuat kita sadar akan pentingnya islam untuk diri dan dunia ini.
1. Bagaimana proses
berdirinyaDinastiAbbasyiah?
2. Bagaimanasistemkekhalifahannya?
3. BagaimanamasakejayaanDinastiAbbasyiah?
4. BagaimanaruntuhnyaDinastiAbbasyiah?
1. Mungetahui proses
berdirinya Dinasti Abbasyiah
2. Mungetahui kekhalifahan Dinasti
Abbasyiah
3. Mungetahui masa kejayaan Dinasti
Abbasyiah
4. Mungetahui sebab runtuhnya Dinasti Abbasyiah
BAB II
PEMBAHASAN
Dinasti
Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah
ibn al-Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari
tahun 132 H. (750 M.) s. d. 656 H. (1258 M.). Selama dinasti ini berkuasa, pola
pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial,
dan budaya.
Pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah, Bani Abbas telah melakukan usaha perebutan
kekuasaan, Bani Abbas telah mulai melakukan upaya perebutan kekuasaan sejak
masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. Khalifah itu dikenal liberal dan memberikan
toleransi kepada kegiatan keluarga Syi’ah. Gerakan itu didahului oleh
saudara-saudara dari Bani Abbas, seperti Ali bin Abdullah bin Abbas, Muhammad
serta Ibrahim al-Imam, yang semuanya mengalami kegagalan, meskipun belum
melakukan gerakan yang bersifat politik. Sementara itu, Ibrahim meninggal dalam
penjara karena tertangkap, setelah menjalani hukuman kurungan karena melakukan
gerakan makar. Barulah usaha perlawanan itu berhasil ditangan Abu Abbas,
setelah melakukan pembantaian terhadap seluruh Bani Umayyah, termasuk khalifah
Marwan II yang sedang berkuasa.
Bani
Abbasiyah merasa lebih berhak daripada Bani Umayyah atas kekhalifahan
Islam, sebab mereka adalah dari cabang
Bani Hasyim yang secara nasab lebih dekat dengan Nabi saw.. Menurut
mereka, orang Bani Umayyah secara paksa
menguasai khalifah melalui tragedi perang siffin. Oleh karena itu, untuk
mendirikan Dinasti Abbasiyah mereka mengadakan gerakan yang luar biasa,
melakukan pemberontakan terhadap Bani Umayyah.
Pergantian kekuasaan Dinasti Umayyah oleh Dinasti
Abbasiyah diwarnai dengan pertumpahan darah. Meskipun kedua dinasti ini
berlatar belakang beragama Islam, akan tetapi dalam pergantian posisi
pemerintahan melalui perlawanan yang panjang dalam sejarah Islam.
Disebut dalam sejarah bahwa berdirinya Bani Abbasiyah,
menjelang berakhirnya Bani Umayyah I, terjadi bermacam-macam kekacauan yang
antara lain disebabkan:
1. Penindasan
yang terus menerus terhadap pengikut Ali dan Bani Hasyim pada umumnya.
2. Merendahkan
kaum Muslimin yang bukan Bangsa Arab sehingga mereka tidak diberi kesempatan
dalam pemerintahan.
3. Pelanggaran
terhadap Ajaran Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara
terang-terangan.
Oleh karena itu, logis kalau Bani Hasyim mencari jalan
keluar dengan mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan Bani Umayyah.
Gerakan ini menghimpun;
a) Keturunan
Ali (Alawiyin) pemimpinnya Abu Salamah;
b) Keturunan
Abbas (Abbasiyah) pemimpinnya Ibrahim
al-Iman;
c) Keurunan
bangsa Persia pemimpinnya Abu Muslim al-Khurasany.
Mereka memusatkan kegiatannya di Khurasan. Dengan
usaha ini, pada tahun 132 H./750 M. tumbanglah Bani Umayyah dengan terbunuhnya
Marwan ibn Muhammad, khalifah terakhir
Bani Umaiyah. Atas pembunuhan Marwan, mulailah berdiri Daulah Abbasiyah dengan
diangkatnya khalifah yang pertama, yaitu Abdullah ibn Muhammad, dengan gelar
Abu al-Abbas al-Saffah, pada tahun 132-136 H./750-754 M.
Pada
awal kekhalifahan Bani Abbasiyah menggunakan Kuffah sebagai pusat pemerintahan, dengan Abu al-Saffah
(750-754 M) sebagai Khalifah pertama. Khalifah penggantinya, Abu Ja’far
al-Mansur (754-775 M.) memindahkan pusat pemerintahan ke Bagdad. Daulah
Abbasiyah mengalami pergeseran dalam mengembangkan pemerintahan, sehingga
dapatlah dikelompokkan masa Bani Abbasiyah menjadi lima periode sehubungan dengan
corak pemerintahan. Sedangkan menurut asal-usul penguasa selama masa 508 tahun
Bani Abbasiyah mengalami tiga kali pergantian penguasa, yakni Bani Abbas, Bani Buwaihi, dan Bani Seljuk.
Abu
Su’ud dalam
bukunya mengemuakakan bahwa pemerintahan Bani Abbasiyah dibagi ke dalam lima
periode, yakni :
1. Periode
Pertama (750-847 M)
Pada periode awal pemerintahan
Dinasti Abasiyah masih menekankan pada kebijakan perluasan daerah. Kalau
dasar-dasar pemerintahan Bani Abasiyah ini telah diletakkan dan dibangun oleh Abu
Abbas al-Saffah dan Abu Ja’far al-Mansur, maka puncak keemasan dinasti ini
berada pada tujuh khalifah sesudahnya, sejak masa Khalifah al-Mahdi (775-785
M.) hinga Khalifah al-Wasiq (842-847 M.). Zaman keemasan telah dimulai pada
pemerintahan pengganti Khalifah al-Ja’far, dan mencapai puncaknya dimasa
pemerintahan Harun Al-Rasyid. Dimasa-masa itu para Khalifah mengembangkan
berbagai jenis kesenian, terutama kesusasteraan pada khususnya dan kebudayaan
pada umumnya.
2. Periode
Kedua (232 H./847 M. – 334H./945M.)
Kebijakan Khalifah al-Mukasim
(833-842 M.), untuk memilih anasir Turki dalam ketentaraan kekhalifahan
Abasiyah dilatar belakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan
Persia, pada masa al-Makmun dan sebelumnya.khalifah al-Mutawakkil (842-861 M.)
merupakan awal dari periode ini adalah khalifah yang lemah.
Pemberontakan masih bermunculan dalam periode ini,
seperti pemberontakan Zanj didataran rendah Irak selatan dan Karamitah yang
berpusat di Bahrain. Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani
Abbasiyah pada periode ini adalah; Pertama, luasnya wilayah kekuasaan yang
harus dikendalikan, sementara komunikasi lambat. Kedua, profesionalisasi
tentara menyebabkan ketergantungan kepada mereka menjadi sangat tinggi. Ketiga,
kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar. Setelah
kekuatan militer merosot, khalifah tidak sanggup lagi memaksa pengiriman pajak
ke Bagdad.
3. Periode
Ketiga (334 H./945 M.-447 H./1055 M.)
Posisi Bani Abasiyah yang berada di
bawah kekuasaan Bani Buwaihi merupakan ciri utama periode ketiga ini. Keadaan
Khalifah lebih buruk ketimbang di masa sebelumnya, lebih-lebih karena Bani
Buwaihi menganut aliran Syi’ah. Akibatnya kedudukan Khalifah tidak lebih
sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Sementara itu Bani Buwaihi
telah membagi kekuasaanya kepada tiga bersaudara. Ali menguasai wilayah bagian
selatan Persia, Hasan menguasi wilayah bagian utara, dan Ahmad menguasai
wilayah al-Ahwaz, Wasit, dan Bagdad. Bagdad dalam periode ini tidak sebagai
pusat pemerintahan Islam, karena telah pindah ke Syiraz dimana berkuasa Ali bin Buwaihi.
4. Periode
Keempat (447 H./1055M.-590 H./1199 M.)
Periode keempat ini ditandai oleh
kekuasaan Bani Saljuk dalam Daulah Abbasiyah. Kehadirannya atas naungan
khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di Baghdad. Keadaan khalifah
memang sudah membaik, paling tidak karena kewibawannya dalam bidang agama sudah
kembali setelah beberapa lama dikuasai orang-orang Syi’ah.
5. Periode
Kelima (590 H./1199 M.-656 H./1258 M.)
Telah terjadi perubahaan
besar-besaran dalam periode ini. Pada periode ini, Khalifah Bani Abbasiyah
tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. Mereka merdeka dan
berkuasa, tetapi hanya di Bagdad dan sekitarnya. Sempitnya wilayah kekuasaan
khalifah menunjukkan kelemahan politiknya, pada masa inilah tentara Mongol dan
Tartar menghancurkan Bagdad tanpa perlawanan pada tahun 656 H./1256 M.
Sebelum
Abul Abbas Ash-Shaffah meninggal, ia sudah mewasiatkan siapa penggantinya,
yakni saudaranya, Abu Ja'far, kemudian Isa bin Musa, keponakannya. Sistem
pengumuman putra mahkota itu mengikuti cara Dinasti Bani Umayyah. Dan satu hal
yang baru lagi bagi para khalifah Abbasiyah, yaitu pemakaian gelar. Abu Ja'far
misalnya, ia memakai gelar Al-Manshur. Para khalifah Bani Abbasiyah berjumlah
37 khalifah, mereka adalah:
1.
Abul Abbas As-Shaffah. (Pendiri) 749-754
M
2.
Abu Ja'far Al-Manshur 754-775
M
3.
Abu Abdullah Muhammad Al-Mahdi 775-785 M
4.
Abu Muhammad Musa Al-Hadia 785-786
M
5.
Abu Ja'far Harun Ar-Rasyid 786-809
M
6.
Abu Musa Muhammad Al-Amin 809-813
M
7.
Abu Ja'far Abdullah Al-Makmun 813-833
M
8.
Abu Ishaq Muhammad Al-Mu'tashim 833-842 M
9.
Abu Ja'far Harun Al-Watsiq 842-847
M
10. Abu Fadl
Ja'far Al-Mutawakil 847-861
M
11. Abu Ja'far
Muhammad Al-Muntashir 861-862
M
12. Abul Abbas
Ahmad Al-Musta'in 862-866
M
13. Abu Abdullah
Muhammad Al-Mu'taz 866-869
M
14. Abu Ishaq Muhammad
Al-Muhtadi 869-870
M
15. Abul Abbas
Ahmad Al-Mu'tamid 870-892
M
16. Abul Abbas
Ahmad Al-Mu'tadid 892-902
M
17. Abul
Muhammad Ali Al-Muktafi 902-905
M
18. Abul Fadl
Ja'far Al-Muqtadir 905-932
M
19. Abu Mansur
Muhammad Al-Qahir 932-934
M
20. Abul Abbas Ahmad
Ar-Radi 934-940
M
21. Abu Ishaq
Ibrahim Al-Muttaqi 940-944
M
22. Abul Qasim
Abdullah Al-Mustaqfi 944-946
M
23. Abul Qasim
Al-Fadl Al-Mu'ti 946-974
M
24. Abul Fadl
Abdul Karim At-Thai 974-991
M
25. Abul Abbas
Ahmad Al-Qadir 991-1031
M
26. Abu Ja'far
Abdullah Al-Qaim 1031-1075
M
27. Abul Qasim
Abdullah Al-Muqtadi 1075-1094
M
28. Abul Abbas
Ahmad Al-Mustadzir 1094-1118
M
29. Abu Manshur
Al-Fadl Al-Mustarsyid 1118-1135
M
30. Abu Ja'far
Al-Mansur Ar-Rasyid 1135-1136
M
31. Abu Abdullah
Muhammad Al-Muqtafi 1136-1160
M
32. Abul
Mudzarfar Al-Mustanjid 1160-1170
M
33. Abu Muhammad
Al-Hasan Al-Mustadi 1170-1180
M
34. Abu Al-Abbas
Ahmad An-Nasir 1180-1225 M
35. Abu Nasr
Muhammad Az-Zahir 1225-1226
M
36. Abu Ja'far
Al-Mansur Al-Mustansir 1226-1242
M
37. Abu Ahmad
Abdullah Al-Mu'tashim Billah 1241-1258
M
Pada masa bangsa Mongol dapat
menaklukkan Baghdad tahun 656 H/1258 M, ada seorang pangeran keturunan
Abbasiyah yang lolos dari pembunuhan dan meneruskan kekhalifahan dengan gelar
khalifah yang hanya berkuasa di bidang keagamaan di bawah kekuasaan kaum Mamluk
di Kairo, Mesir tanpa kekuasaan duniawi yang bergelar Sultan. Jabatan khalifah
yang disandang oleh keturunan Abbasiyah di Mesir berakhir dengan diambilnya
jabatan itu oleh Sultan Salim I dari Turki Usmani ketika menguasai Mesir pada
tahun 1517 M. Dengan demikian, hilanglah kekhalifahan Abbasyiah untuk
selama-lamanya.
Para
khalifah Bani Abbasiyah yang ada di Mesir adalah sebagai berikut.
1. Al-Muntashir 1261-1261
M
2. Al-Hakim I 1261-1302
M
3. Al-Mustakfi 1302-1340
M
4. Al-Wasiq 1340-1341
M
5. Al-Hakim II 1341-1352
M
6. Al-Mutadid I 1352-1362
M
7. Al-Mutawakkil
I 1362-1377
M
8. Al-Mu'tashim 1377-1377
M
9. Al-Mutawakkil
I 1377-1383
M
10. Al-Watsiq II 1383-1386
M
11. Al-Mu'tashim 1386-1389
M
12. Al-Mutawakkil
I 1389-1406
M
13. Al-Musta'in 1406-1414
M
14. Al-Mu'tadid 1414-1441
M
15. Al-Mustakfi
II 1441-1451
M
16. Al-Qaim 1451-1455
M
17. Al-Mustanjid
1455-1479
M
18. Al-Mutawakkil
II 1479-1497
M
19. Al-Mustamsik 1497-1508
M
20. Al-Mutawakkil
III 1508-1516
M
21. Al-Mustamsik 1516-1517
M
22. Al-Mutawakkil
III 1517-1517
M
Pada periode pertama pemerintah Bani Abbasiyah
mencapai masa keemasan. Secara politis para khalifah betul-betul tokoh yang
kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik sekaligus agama. Periode ini juga
berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan
dalam islam.
Puncak kejayaan Dinasti Abbasiyah terjadi pada masa
Khalifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M) dan anaknya Al-Makmun (813-833 M). Ketika
Ar-Rasyid memerintah, negara dalam keadaan makmur, kekayaan melimpah, keamanan
terjamin walaupun ada juga pemberontakan, dan luas wilayahnya mulai dari Afrika
Utara hingga ke India.
Pada masanya hidup pula para filsuf, pujangga, ahli
baca Al-qur’an dan para ulama di bidang agama. Didirikan perpustakaan yang
diberi nama Baitul Hikmah. Di samping itu, kemajuan tersebut paling tidak, juga
ditentukan oleh dua hal, yaitu sebagai berikut.
1. Terjadinya
asimilasi antara bahasa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu
mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan
Bani Abbas, bangsa-bangsa banyak masuk islam. Asimilasi berlangsung secara
efektifdan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu member saham tertentu dalam
perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam.
2. Gerakan
penerjemahan berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama pada masa Khalifah
Al-Manshur hingga Harun Ar-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan
adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan mantiq. Fase kedua berlangsung
mulai masa Khalifah Al-Makmun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak
diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat, dan kedokteran pada fase ketiga
berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Selanjutnya
bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.
Dengan demikian, Dinasti Abbasiyah dengan pusatnya di
Baghdad sangat maju sebagai pusat kota peradaban dan pusat ilmu pengetahuan.
Beberapa kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan dapat disebutkan sebagai
berikut.
Kemajuan di
bidang agama antara lain dalam beberapa bidang ilmu, yaitu ulumul qur'an, ilmu
tafsir, hadis, ilmu kalam, bahasa, dan fiqh.
1) Fiqh
Pada masa dinasti Abbasiyah lahir
para tokoh bidang fiqh dan pendiri mazhab antara lain sebagai berikut.
a)) Imam Abu
Hanifah (700-767 M).
Nama lengkap
Imam Hanafi adalah Ni’am Ibnu Tsabit At-Taimi. Lahir di
kufah pada tahun 80H dan wafat
di Baghdad pada tahun 150H. adapun asal-usul dari nama abu hanifah itu sendiri
antara lain adalah:
1))
Di antara beberapa putranya ada yang bernama Hanifah sehingga beliau di
gelari Abu Hanifah
2))
Beliau sangat kuat beribadah kepada Allah SWT. Dan sangat bersyngguh-sunggh
menjalankan perintah agama. “Hanif” artinya cenderung kepada agama yang benar
3))
Kemampuan beliau pergi tidak pernah lepas dengan tinta karena beliau sering
mencatat dan menulis ilmu.
Silsilah keilmuan dari Imam Abu Hanifah adlah sebagai berikut: Atha’ Ibn
Abi Rabbah-Imam Muhammad Ibnu Abu Sulaiman-Imam Nafi’Maula Ibnu Umar-Imam
Muhammad Al-Baqir.
Dasar-dasar Imam Hanafi adalah:Al-Qur’an,Sunnah Rosullulloh SAW., fatwa
dari sahabat, Qiyas Ihtihsan,Ijma’ dan ‘Urf.
Adapun karya-karyanya adalah:
1))
Al-Faroid(membahas tentang warisan)
2))
ASY-Syurut(membahas perjanjian)
3))
Al-fiqhu Al-Akbar(membahas ilmu kalam)
b)) Imam Malik (713-795 M).
Nama lengkap
Imam malik adalah Malik Ibnu Anas Ibnu Malik Ibnu Amiru Amir. Lahir di madinah
pada tahun 179H. guru pertama beliau adalah Abdurrahman Ibnu Hurmuz. Beliau
menerima hadist dari Nafi’ Maula Ibnu Umar dan Ibn Syihab Az-zuhri. Gurunya
dalam ilmu fiqih adalah Rabi’ah Ibnu Abdur rihman.
Dasar-dasar
madzhab Maliki adalah:Al-Quran,sunnah rosul yang beliau pandang shahih, amal
ulama madinah, Qiyas, maslahah mursalah atau istislah
Adapun karya-karyanya antara lain adalah:
1)) Al-Muwattha’
2)) Al Rod ‘Ala Qodariyah
3)) Al-Mudawwanah Al-kubro
4)) Kitabul Masail
5)) Risalah fil Mad’i
c)) Imam Syafi'i
(767-820 M).
Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abas bin Utsman bin Syafi’
bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdi
Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Abu
‘Abdillah al-Qurasyi asy-Syafi’i al-Makki. Beliau di lahirkan pada tahun 150 H
di kota Ghazzah.
Adapun gelar beliau adalah Nashirul
Hadits (pembela hadits). Beliau mendapat gelar ini karena dikenal sebagai
pembela hadits Rasulullah, dan komitmennya untuk mengikuti sunnah.
Imam asy-Syafi’I tumbuh di negeri Ghazzah sebagai seorang
yatim setelah ayahnya meninggal, sehingga berkumpullah pada dirinya kefaqiran,
keyatiman dan keterasingan dari keluarga. Namun, kondisi ini tidak
menjadikannya lemah dalam menghadapi kehidupan, setelah Allah memberinya taufiq
untuk menempuh jalan yang benar. Setelah sang ibu membawanya ke tanah Hijaz,
maka mulailah Imam asy-Syafi’I menghafal al-Qur’an sehingga ia berhasil
merampungkan pada usia 7 tahun. Karena ketekunan dalam belajar beliau itulah
sehingga beliau juga mampu menghafal kitab al-Muwaththa’ (karya Imam Malik)
dalam usia 10 tahun. Kemudian pada saat berusia 15 tahun Imam asy-Syafi’I
berfatwa setelah mendapat izin dari syaikhnya yang bernama Muslim bin Khalid
az-Zanji. Beliau menaruh perhatian yang besar terhadap sya’ir dan bahasa,
sehingga ia hafal sya’ir dari suku Hudzail, bahkan beliau hidup bergaul bersama
mereka selama 10 tahun atau 20 tahun menurut satu riwayat. Pengembaraan beliau
dalam mencari ilmu juga sampai dimadinah, yaman, irak, dan mesir.
Di akhir hayatnya, Imam asy-Syafi’I sibuk berdakwah, menyebarkan ilmu dan
mengarang di mesir, sampai hal itu memberikan mudharat pada tubuhnya, maka ia
pun terkena penyakit wasir yang menyebabkan keluarnya darah. Tetapi, karena
kecintaanyaterhadap ilmu, Imam asy-Syafi’I tetap melakukan pekerjaanya itu
dengan tidak memperdulikan sakitnya, sampai akhirnya beliau wafat pada akhir
bulan Rajab tahun 204 H.
Adapun karya yang di buat oleh Imam
Syafi’ie adalah:kitab
1))
Kitab Al
Umm(membahas tentang masalah fiqih)
2))
Ar-Risalah
(membahas masalah usul fiqh)
3))
Al-Musnad
(berisi hadist-hadist nabi)
4))
As-Sunan
(berisi hadist nabi)
5))
Ikhtilaf
Al-Hadist (berisi mengenai perbedaan-perbedaan dalam hadist)
d)) Imam Ahmad
bin Hanbal (780-855 M).
Nama beliau adalah
Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Asy Syaibani. Beliau dilahirkan di Baghdad tahun
164 H. Ayah beliau meninggal saat beliau berumur 3 tahun. Lalu beliau diasuh
oleh Ibunya.
Saat masih belia,
beliau menghadiri majelis qadhi Abu Yusuf. Kemudian beliau fokus belajar
hadits. Saat itu umur beliau sekitar 16 tahun. Kemudian beliau haji beberapa
kali, kemudian tinggal di Makah dua kali. Kemudian beliau safar menemui
Abdurrozaq di Yaman dan belajar darinya. Beliau telah berkelana ke
negeri-negeri dan penjuru dunia. Beliau mendengar hadits dari ulama-ulama besar
saat itu. Mereka (para ulama) bangga dan memuliakan beliau. [Lihat bidayah wa nihayah,
hal 14/381-383]
Imam Ahmad
memiliki ilmu yang sangat luas. Berikut ini beberapa perkataan ulama
tentangnya. Ibrahim al Harbiy rahimahullah berkata, “Saya melihat
Ahmad bin Hanbal seolah-olah Allah mengumpulkan pada dirinya ilmu orang yang
terdahulu dan yang terakhir pada setiap bidang ilmu. Dia berkata sesuai yang
dikehendakinya dan menahan yang dikehendakinya”
Ahmad bin Sa’id Ar Roziy berkata,
“Saya belum pernah melihat orang yang lebih hafal hadits Rasulullah dan
lebih memahami fikih dan maknanya dari Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal”
[Manaqib Imam Ahmad hal.90]
Abu Zur’ah berkata, “Ahmad
bin Hanbal hafal satu juta hadits”. Lalu dikatakan kepadanya, “Bagaimana
Anda mengetahui?” Dia (Abu Zur’ah) menjawab, “Saya belajar padanya,
saya mengambil darinya beberapa bab”
Madzab-madzab ahlussunnah seluruhnya
adalah madzab yang haq, terutama madzab imam yang empat: Abu Hanifah, Malik,
Asy Syafi’I dan Ahmad. Setiap madzab ini memiliki ciri khas. Adapun ciri khas
yang membedakan madzab imam Ahmad dari yang lainnya adalah dekatnya dengan nash
(dalil) dan fatwa-fatwa para sahabat Rasulullah.
Ushul (pokok) madzhab beliau ada
lima:
1))
Nash (dalil
Al Qur’an maupun As Sunnah). Jika ada nash maka beliau berfatwa sesuai nash
tersebut. Beliau tidak menghiraukan apapun dan siapapun yang menyelisihinya.
2))
Fatwa
sahabat. Yaitu jika terdapat fatwa/pendapat salah seorang sahabat Rasulullah
dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pada hal tersebut.
3))
Jika fatwa
sahabat berbeda satu dengan yang lainnya maka diambil yang paling mendekati Al
Qur’an dan As Sunnah dan tidak keluar dari perdapat mereka. Tidak belum jelas
bagi beliau mana pendapat yang sesuai dengan dalil maka beliau mengatakan ada
khilaf dan tidak menjazm (memastikan) qoul/pendapat beliau.
4))
Mengambil
marasil dan hadits yang lemah jika tidak ada yang menentangnya, dan
mengedepankan hal ini atas qiyas. Tetapi yang dimaksud hadits lemah oleh beliau
adalah (lemah yang masih) bagian dari hadits yang sahih atau hasan, bukan
hadits batil, mungkar atau hadits yang riwayatnya tertuduh.
5))
Qiyas. Qiyas
digunakan saat darurat yaitu jika tidak terdapat hal diatas.
Adapun karya-karya beliau
diantaranya adalah:
1)) Al Musnad dalam hadits. Imam Ahmad berkata pada
anaknya, “Hafalkanlah karena sesungguhnya dia akan menjadi imam bagi manusia”
2)) At
Tafsir, tediri dari sekitar 120 ribu hadits dan atsar.
3)) An
Nasikh wa Al Mansukh
4)) At Tarikh
5)) Al Muqoddam wa Al Muawwal fil Qur’an
6)) Jawabaati Al Qur’aniyah
7)) Al Manasik Al Kabir wa Al Shaghir.
8)) Az Zuhd
9)) Ar Rad ‘ala Al Jahmiyah
2) Ilmu Tafsir
Perkembangan ilmu tafsir pada masa
pemerintahan Abbasiyah mengalami kemajuan pesat. Di antara para ahli tafsir
pada masa Dinasti Abbasiyah adalah
a)) Ibnu Jarir
Ath-Thabari.
b)) Ibnu Athiyah
Al-Andalusi.
c)) Abu Muslim
Muhamma bin Bahar Isfahani.
3) Ilmu Hadis
Di antara
para ahli hadis pada masa Dinasti Abbasiyah adalah
a)) Imam Bukhari
(194-256 H), karyanya Shahih Al-Bukhari.
b)) Imam Muslim
(w. 261 H), karyanya Shahih Muslim.
c)) Ibnu Majah, karyanya Sunan Ibnu Majah.
d)) Abu Dawud, karyanya Sunan Abu Dawud.
e)) Imam An-Nasai, karyanya Sunan An-Nasai.
f)) Imam Baihaqi.
4) Ilmu Kalam
Kajian
para ahli ilmu kalam (teologi) adalah mengenai dosa, pahala, surga neraka,
serta perdebatan mengenai tuhan atau tauhid, menghasilkan suatu ilmu yaitu ilmu
kalam atau teologi.
Di antara
tokoh ilmu kalam adalah
a)) Imam Abul
Hasan Al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi, tokoh Asy'ariyah.
b)) Washil bin Atha, Abul Huzail Al-Allaf (w. 849
M), tokoh Mu'tazilah.
c)) Al-Juba'i.
Di
antara ilmu bahasa yang berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah adalah ilmu
nahwu, ilmu sharaf, ilmu bayan, ilmu badi', dan arudh. Bahasa Arab dijadikan
sebagai bahasa ilmu pengetahuan, disamping sebagai alat komunikasi antarbangsa.
Di antara para ahli ilmu bahasa
adalah
1) Imam
Sibawaih (w. 183 H), karyanya terdiri dari 2 jilid setebal 1.000 halaman.
2) Al-Kiasi.
3) Abu Zakaria Al-Farra (w. 208 H), kitab
Nahwunya terdiri dari 6.000 halaman lebih.
Dalam
bidang umum antara lain berkembang berbagai kajian dalam bidang filsafat,
logika, metafisika, matematika, ilmu alam, geomatri, aljabar, aritmatika,
mekanika, astronomi, musik, kedokteran, kimia, sejarah, dan sastra.
1) Filsafat
Kajian di kalangan umat islam
mencapai puncaknya pada masa daulah Abbasiyah, di antaranya dengan penerjemahan
filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab.
Para
filsuf Islam antara lain:
a)) Abu Ishaq
Al-Kindi (809-873 M), karyanya lebig dari 231 judul.
b)) Abu Nasr
Al-Farabi ( 961 M) karyanya lebih dari 12 buah buju. ia memperoleh gelar
Al-Mualimuts Tsani (the second teacher), yaitu guru kedua, sedangkan guru
pertama dalam bidang filsafat adalah Aristoteles.
c)) Ibnu Sina, terkenal dengan Avicenna (980-1037
M). Ia seorang filsuf yang menghidupkan kembali filsafat Yunani aliran
Aristoteles dan Plato. Selain filsuf Avicenna juga seorang dokter istana
kenamaan. Di antara bukunya yang terkenal adalah Asy-Syifa, dan Al-Qanun fi Ath
-Thib (Canon of Medicine).
d)) Ibnu Bajah (w. 581 H).
e)) Ibnu Tufail (w. 581 H), penulis buku novel
filsafat Hayy bin Yaqdzan.
f)) Al-Ghazali (1058-1111 M). Al-Ghazali mendapat
julukan Al-Hujjatul Islam. Karyanya antara lain: Maqasid Al Falasifah,
Al-Munqid Minadh Dhalal, Tahafut Al-Falasifah, dan Ihya Ulumuddin.
g)) Ibnu Rusyd di Barat dikenal dengan Averros
(1126-1198 M). Ibnu Rusyd, seorang filsuf, dokter, dan ulama. Karyanya antara
lain: Mabadi Al-Falasifah, Tahafut At-Tahafut Al-Falasifah, Al-Kuliah fi
Ath-Thibb, dan Bidayah Al-Mujtahid.
2) Ilmu
Kedokteran
Ilmu
kedokteran pasa masa daulah Abbasiyah berkembang pesat. Rumah-rumah sakit besar
dan sekolah kedokteran banyak didirikan.
Di antara ahli kedokteran ternama
adalah
a)) Abu Zakaria
Yahya bin Mesuwaih (w. 242 H), seorang ahli farmasi di rumah sakit Jundhisapur
Iran.
b)) Abu Bakar Ar-Razi (Rhazes) (864-932 M) dikenal
sebagai “Galien Arab”.
c)) Ibnu Sina (Avicenna), karyanya yang terkenal
adalah Al-Qanun fi Ath-Thib tentang teori dan praktik ilmu kedokteran serta
membahas pengaruh obat-obatan, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa, Canon
Of Medicine.
d)) Ar-Razi, adalah tokoh pertama yang membedakan
antara penyakit cacar dengan measles, Ar-Razi adalah penulis buku mengenai
kedokteran anak.
3) Matematika
Terjemahan dari buku-buku asing ke
dalam bahasa Arab, menghasilkan karya dalam bidang matematika. Di antara ahli
matematika islam yang terkenal adalah pengarang kitab Al-Jabar wal Muqabalah (ilmu hitung), dan penemu angka nol.
Sedangkan angka latin: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0 disebut angka Arab karena
diambil dari Arab. Sebelumnya dikenal angka Romawi I, II, III, IV, V dan
seterusnya. Tokoh lain adalah Abu Al-Wafa Muhammad bin Muhammad bin Ismail bin
Al-Abbas (940-998) terkenal sebagai ahli
ilmu matematika.
4) Farmasi
Di
antara ahli farmasi pada masa Dinasti Abbasiyah adalah Ibnu Baithar, karyanya
yang terkenal adalah Al-Mughni (berisi tentang obat-obatan), Jami Al-Mufradat
Al-Adawiyah (berisi tentang obat-obatan dan makanan bergizi).
5) Ilmu
Astronomi
Kaum muslimin mengkaji dan
menganalisis berbagai aliran ilmu astronomi dari berbagai bangsa seperti bangsa
Yunani, India, Persia, Kaidan, dan ilmu falak Jahiliah. Di antara ahli
astronomi Islam adalah
a)) Abu Mansur
Al-Falaki (w. 272 H), karyanya yang terkenal adalah Isbat Al-Ulum dan Hayat
Al-falak.
b)) Jabir Al-Batani (w. 319 H), Al-Batani adalah
pencipta teropong bintang pertama. Karyanya yang terkenal adalah kitab Ma’rifat
Mathiil Buruj Arbai Al-Falak.
c)) Raihan Al-Biruni (w. 440 H), karyanya adalah
At-Tafhim li Awal As-Sina At-Tanjim.
6) Geografi
Dalam
bidang ageografi umat islam sangat maju, karena sejak semula bangsa Arab
merupakan bangsa pedagang yang biasa menempuh jarak jauh untuk berniaga. Di
antara wilayah pengembaraan umat islam adalah umat islam mengembara ke Cina dan
Indinesia pada masa-masa awal kemunculan Islam. Di antara tokoh ahli geografi
yang terkenal adalah
a)) Abul Hasan
Al-Mas’udi (w. 345 H/956 M), seorang penjelajah yang mengadakan perjalanan
sampai Persia, India, Srilanka, Cina, dan penulis buku Muruj Az-Zahab wa
Ma’adin Al-Jawahir.
b)) Ibnu Khurdazabah (820-913 M) berasal dari
Persia yang di anggap sebagai ahli geografi islam tertua. Di antara karyanya
adalah Masalik wa Al-Mamalik, tentang data-data penting mengenai sitem
pemerintahan dan peraturan keuangan.
c)) Ahmad El-Yakubi, penjelajah yang pernah sampai
ke Armania, Iran, India, Mesir, Maghribi, dan menulis buku Al-Buldan.
d)) Abu Muhammad Al-Hasan Al-Hamidani (w. 334
H/946 M), karyanya berjudul Sifatu Jazirah Al-Arab.
7) Sejarah
Masa
Dinasti Abbasiyah banyak muncul tokoh-tokoh sejarah beberapa tokoh sejarah
lainnya antara lain:
a)) Ahmad bin
Al-Ya’kubi (w. 895 M) karyanya adalah Al-Buldan (negeri-negeri), At-Tarikh
(sejarah).
b)) Ibnu Ishaq
c)) Abdullah bin
Muslim Al-Qurtubah (w. 889 M), penulis buku Al-Imamah wa A-Siyasah, Al-
Ma’arif, ‘Uyunul Ahbar, dan
lain-lain.
d)) Ibnu Hisyam.
e)) Ath-Thabari (w. 923 M) penulis buku kitab
Al-Umam wa Al-Muluk.
f)) Al-Maqrizi.
g)) Al-Baladzuri (w. 892 M), penulis buku-buku
sejarah.
8) Sastra
Dalam bidang sastra, Bagdad
merupakan pusat seniman dan sastrawan. Para tokoh sastra antara lain:
a)) Abu Nuwas,
salah seorang penyair terkenal dengan karya cerita humornya.
b)) An-Nasyasi, penulis buku Alfu Lailah wa Lailah
(The Arabian Night), adalah buku cerita sastra Seribu Satu Malam yang sanga
Terkenal dan diterjemahkan ke dalam hamper seluruh bahasa dunia.
Disintegrasi
sebenarnya sudah mulai terjadi pada akhir zaman Umayyah. Pada zaman Abbasiyah,
kekuasaan dinasti ini tidak pernah diakui oleh islam diwilayah Spanyol dan
Afrika utara, kecuali Mesir. Banyak wilayah yang tidak dikuasai Khalifah.
Hubungan daerah dengan khalifah ditandai dengan pembayaran upeti. Ada
kemungkinan bahwa penguasa bani Abbas sudah cukup puas dengan pengakuan nominal
dari propinsi. Alasannya adalah, pertama, mungkin khalifah tidak cukup kuat
untuk membuat mereka tunduk. Kedua, penguasa Bani Abbas lebih menitikberatkan
pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi.
Kebijakan
tersebut mengakibatkan lepasnya beberapa propinsi di pinggiran dari genggaman Bani Abbasiyah. Dinasti yang
melepaskan diri dari kekuasaan Abbasiyah diantaranya:
1. Berbangsa
Persia
Thahariyah
di Khurasan, Shafariyah di Fars, Samaniyah di Transoxania, Sajiyyah di
Azerbaijan, Buwaihiyyah, bahkan dinasti ini menguasai Baghdad.
2. Berbangsa
Turki
Thuluniyah
di Mesir, Ikhsyidiyah di Turkistan, Ghaznawiyah di Afganistan, Dinasti Saljuk
3. Berbangsa
Kurdi
Al-Barzuqani, Abu Ali, Ayubiyah
4. Berbangsa
Arab
Idrisiyyah
di Maroko, Aghlabiyah di Tunisia, Dulafiyah di Kurdistan, Alawiyah di
Tabaristan, Hamdaniyyah di Allepo dan maushil, Mazyadiyyah di Hillah,
Ukailiyyah di Maushil, Mirdasiyyah di Aleppo
5. Yang
mengakui dirinya sebagai Khalifah:
a)
Umawiyah di Spanyol
b)
Fathimiyah diMesir.
Setelah
berakhir kekuasaan Dinasti Saljuk atas Bagdad atau Khilafah Abbasiyah,
merupakan awal dari periode kelima. Pada periode ini, Khalifah Abbasiyah tidak
lagi berada di bawah kekuaasaan suatu dinasti tertentu, sehigga banyak sekali
dinasti-dinasti Islam yang berdiri. Pada masa inilah, Dinasti Abbasiyah mengalami
kemunduran.
Adapun
faktor-faktor yang menjadi penyebab
kemunduran Dinasti Abbasiyah, diantaranya adalah sebagai berikut:
Pada masa pemerintahan Bani
Abbasiyah, wilayah kekuasaannnya meliputi barat sampai samudera Atlantik,
disebelah timur sampai India dan perbatasan China, dan diutara dari laut Kashpia
sampai keselatan teluk Persia. Wilayah kekuasaan Abbasiyah yang hampir sama
luasnya dengan wilayah kekuasaan dinasti Mongol, tidak mudah dikendalikan oleh
para Khalifah yang lemah. Di samping itu, sistem komunikasi masih sangat lemah
dan tidak maju saat itu, menyebabkan tidak cepat dapat informasi akurat apabila
suatu daerah ada masalah, konflik, atau terjadi pemberontakan. Oleh karena itu,
terjadilah banyak wilayah lepas dan berdiri sendiri. Sebenarnya pasca Khalifah
Ma’mun, dinasti ini mulai mengalami
kemunduran. Sementara itu, kejauhan wilayah-wilayah yang terletak di ketiga
benua tersebut, dan kemudian didorong
oleh para khalifah yang makin lemah dan malas yang dipengaruhi oleh
kelompok-kelompok yang tidak terkendali bagi khalifah.
Karena
tidak adanya suatu sistem dan aturan yang baku menyebabkan sering gonta-ganti
putera mahkota dikalangan istana dan terbelahnya suara istana yang tidak
menjadi kesatuan bulat terhadap pengangkatan para pengganti khalifah. Seperti
perang saudara antara Amin-Ma’mun adalah bukti nyata. Di samping itu, tidak
adanya kerukunan antara tentara, istana, dan elit politik lain yang juga memicu
kemunduran dan kehancuran dinasti ini.
Dalam buku yang ditulis Abu Su’ud, disebutkan
faktor-faktor intern yang membuat Daulah Abasiyah menjadi lemah kemudian hancur
antara lain :
a) adanya
persaingan tidak sehat di antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah
Abasiyah, terutama Arab, Persia, dan Turki.
b) terjadi
perselisihan pendapat di antara kelompok pemikiran agama yang ada, yang berkembang
menjadi pertumpahan darah
c) muncul
dinasti-dinasti kecil sebagai akibat perpecahan sosial yang berkepanjangan.
d) akhirnya
terjadi kemerosotan tingkat perekonimian sebagai akibat dari bentrokan politik.
Di samping faktor-faktor internal, ada juga faktor
ekstern yang menyebabkan dinasti ini terjun kejurang kehancuran total, yaitu
serangan Bangsa Mongol. Latar belakang penghancuran dan penghapusan pusat Islam
di Bagdad, salah satu faktor utama adalah gangguan kelompok Asasin yang
didirikan oleh Hasan ibn Sabbah (1256 M.) dipegunungan Alamut, Iraq. Sekte,
anak cabang Syi’ah Isma’iliyah ini sangat mengganggu di Wilayah Persia dan
sekitarnya. Baik di Wilayah Islam maupun di Wilayah Mongol tersebut.
Setelah
beberapa kali penyerangan terhadap Assasin, akhirnya Hullagu, cucu Chengis Khan
dapat berhasil melumpuhkan pusat kekuatan mereka di Alamut, kemudian menuju ke
Bagdad. Setelah membasmi mereka di Alamut, tentara Mongol mengepung kota Bagdad
selama dua bulan, setelah perundingan damai gagal, akhirnya Khalifah menyerah,
namun tetap dibunuh oleh Hulagu. Pembantaian massal itu menelan korban sebanyak
800. 000 orang.
Abu
Su’ud mengemukakan bahwa faktor ekstern yang menyebabkan hancurnya Dinasti
Abbasiyah, adalah :
a) berlangsung
Perang Salib yang berkepanjangan, dan yang paling menentukan adalah
b) sebuah
pasukan Mongol dan Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan, yang berhasil
menjarah semua pusat-pusat kekuasaan maupun pusat ilmu, yaitu perpustakaan di
Bagdad.
Serangan
yang dilakukan oleh Hulaghu Khan dengan pasukannya menjadi sebab berakhirnya
kekuasaan dinasti Abbasiyah, terlebih ketika kota Baghdad dihancurkan oleh
tentara Mongol tersebut pada tahun 656H/1258M. Baghdad dibumihanguskan dan
diratakan dengan tanah. Khalifah yang terakhir (Al-Mu’tashim Billah) di bunuh
dan buku-buku koleksi Baitul Hikmah dibakar dan dibuang ke sungai Tigris
sehingga warna airnya berubah menjadi hitam kelam karena lunturan tinta yang
ada pada buku tersebut.
Akibat
serangan tersebut maka lenyaplah kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang telah
memainkan peran penting dalam peradaban dan kebudayaan islam.
BAB III
PENUTUP
Berdasarkan pada pembahasan
sebelumnya, maka dapatlah ditarik kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut :
1. Dinasti Abbasiyah
melanjutkan kekuasaan Bani Umayyah. Dinamakan
Abbasiyah, karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan
al-Abbas paman Nabi Muhammad saw.. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah
al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Kekuasaannya
berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H. (750 M.) s. d.
656 H. (1258 M.). Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang
diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya.
2. Pada masa
pemerintahan Dinasti Abbasiyah, Umat
Islam banyak mengalami kemajuan yang sangat pesat, di antaranya dalam bidang
administrasi, agama, sosial, ilmu pengetahuan, dan pemerintah.
3. Kemunduran
Dinasti Abbasiyah disebabkan oleh banyak faktor, baik yang sifatnya internal
maupun yang sifatnya eksternal.
Dengan
terselesainya makalah ini tak banyak harapan dari kami, kami hanya menginginkan
perubahan masyarakat terhadap rasa kecintaannya terhadap islam dan menjadi umat
muslim yang berkeislaman yang haqiqi, karena pada hakikatnya dengan keberadaan
islam lah sehingga kita mampi merasakan era yang luar biasa ini.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Faruqi,Ismail R dan Lois
Lamya Al-Faruqi. 1998. Atlas Budaya Islam. Bandung:Mizan
Al-Usairy,Ahmad. 2003. Sejarah
Islam. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana
Fadlali,Amad dkk. 2004.
Sejarah Peradaban Islam. Jakarta:Pustaka Asatrus
Komentar
Posting Komentar