PENGELOLAAN PONDOK PESANTREN
MAKALAH
MANAJEMEN
PESANTREN
PENGELOLAAN
PONDOK PESANTREN

DOSEN
PEMBIMBING:
ABDUL HAQ
S.Pd.I,M.Pd.I
NAMA KELOMPOK:
AGUS TRIANI
EVA SITI
AZKIYAH
SITI
MAGHFIROHTUL HASANAH
ZAKIYATUS
SAKINAH
PROGRAM
MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI
AGAMA ISLAM AT-TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AJARAN
2019-2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur
ilahirobbi atas berkat rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan
pembuatan makalah guna menuntaskan tugas bahasa Indonesia dengan tepat atas
waktu yang telah di tentukan.
Sholawat serta
salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada keharibaan junjungan kita nabi
Muhammad SAW,karena berkat perjuangannya kita dapat merasakan nikmatnya hidup
di tengah-tengah banyaknya ilmu pengetahuan.
Makalah yang
Pengelolaan Pesantren ini merupakan sebuah makalah yang dibuat untuk memenuhi
sebuah tanggung jawab yang telah di amanahi oleh dosen kami yaitu: Abdul Haq
Asy’ariS.Pd.I,M.Pd.I dan untuk beliau
ucapan terimakasih yang tiada tara karena telah membimbing kami dalam pembuatan
makalah ini hinga selesai.
Makalah ini hanyalah sebuah tulisan yang jauh dari kata kesempurnaan
sehingga sangat di harapkan partisipasi semua pembaca untuk memberi kritikan
yang dapat membangun kami semua dalam pembutan makalah.
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
Pesantren
telah berjalan dari masa-kemasa dan menjadi corak peniddikan tertua yang masih
bertahan dan tetap eksis pada masa modernisasi ini, keberadaan pesantren di
indonesia sangat diakui oleh khalayak banyak, hal ini karena pesantren mampu
menjadi figur utama dalam meletakkan dasar perilaku manusia yang baik, dalam
kalangan keluarga lingkup kecilnya dan kalangan bangsa dan negara dalam lingkup
yang lebih luasnya.
Keberadaan
pesantren yang masih bertahan sampai pada saat ini, tidak dapa di pungkiri
bawasanya hal ini dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dimiliki oleh pesantren,
yang mana faktor terbesar yang sangat mempengaruhi atas keberlangsungan
pesantren hingga saat ini adalah faktor manajemen terhadap pesantrennya yang
sangat baik, dan dapat menjadi sebuah acuan bagi lembaga pendidikan non
pesantren untuk mengikuti terapan manajemen yang diterapkan dalam pesantren.
Pesantren
hingga saat ini berhasil berdiri dan masih menjadi pilihan utama masyarakat
terutama orang tua dalam memilih pendidikan untuk generasi-generasi yang akan
melanjutkan perjuangan bangsa ini, lalu apakah setiap orang tua yang akan
menyantrikan anaknya semerta-merta akan diterima dengan begitu saja? Tentu hal
ini yang akan menjadi pertanyaan bagaimana pesantren diolah oleh kalangan yang
ada di dalamnya dengan sejuta manusia yang ingin berlajar di dalamnya.
Maka
kami pemakalah akan coba memberikan sedikit gambaran tentang pengolaan
pesantren yang dilakukan oleh orang-orang yang mengabdi dalam lingkup
pesantren.
1.
Bagaimana
proses pengelolaan rekrutmen santri?
2.
Bagaimana
proses pengelolaan tenaga pendidik pesantren?
3.
Bagaimana
proses pengelolaan sistem eksternal dan sistem internal yang ada dalam
pesantren?
1.
Untuk
mengetahui Bagaimana proses pengelolaan rekrutmen santri
2.
Untuk
mengetahui Bagaimana proses pengelolaan tenaga pendidik pesantren
3.
Untuk
mengetahui proses pengelolaan sistem eksternal dan sistem internal yang ada
dalam pesantren
BAB II
PEMBAHASAN
Pesantren
merupakan bapak dari pendidikan islami di Indonesia, didirikan karena adanya
tuntutan dan kebutuhan zaman.[1]
Pesantren dilahirkan atas kesadaran kewajiban dakwah islamiah, yakni
menyebarkan dan mengembangkan ajaran islam, sekaligus mencetak kader-kader
ulama’ atau da’i.
Pesantren
sendiri menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri.
Sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari
bambu. Di samping itu, kata pondok menurut Zamakhsyar Dhofier berasal dari
bahasa arab funduq yang berarti hotel atau asrama.[2]
Kata
pesantren yang berasal dari kata santri dengan mendapat pengawalan pe- dan
akhiran an. Kata tersebut mengandung arti asrama tempat tinggal santri atau
tempat murid-murid belajar mengaji dan sebagainya. Istilah santri berasal dari
bahasa Tamil yang berarti guru ngaji.[3]
Kata
pesantren sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan tambahan kata
pondok menjadi pondok pesantren. Ditinjau dari segi bahasa, kata pondok dengan
kata pesantren tidak ada perbedaan yang mendasar keduanya, dalam pemahaman
masyarakat indonesia dapat diartikan sebagai tempat berlangsungnya suatu
pendidikan agama islam yang telah melembaga sejak zaman dahulu dan pada
hakikatnya pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam.[4]
Dalam
proses penrekrutan santri di pondok pesantren, berlaku beberapa pola yang
berbeda dalam setiap pesantren, pola pengrekrutan bergantung pada tradisi yang
ada dalam setiap masing-masing pondok pesantren, disini terdapat beberapa tahapan
dalam proses pendidikan yang dapat berjalan melalui proses pengrekrutan sesuai
dengan rencana dan mencapai tujuan yang diinginkan, maka langkah-langkah yang
harus dilakukan adalah sebagai berikut:

Dalam
proses pengelolaan pesantren terdapat proses pada gambar dia atas, yang mana
proses pengerekrutan dimulai dari penilaian kebutuhan-tujuan pendidikan-materi
program dan prinsip pembelajaran-program aktual-hasil program aktual-evaluasi
dan umpan balik.[5]
Berkaitan
dengan lembaga kepesantrenan dalam proses pengrekrutan santri, dari satu pondok
pesantren yang berbeda maka akan berbeda pula perihal proses yang dilaluinya,
karena pengelolaan pondok pesantren sering kali tidak mengikuti kaidah-kaidah
manajerial yang lazim berlaku diberbagai lembaga termasuk lembaga pendidikan.[6]
Kebanyakan
pesantren menganut pola serba mono: mono-manajemen dan mono administrasi
sehingga tidak ada delegasi kewenangan ke unit-unit kerja lain yang ada dalam
organisasi dan juga masih ada kebiasaan di dalam pesantren yaitu sistem
pendidikan pesantren yang menerapkan manajemen serba informal. Pola manjemen
serba mono dan serba informal itu memiliki korelasi yang ssangat segnifikan.
Manajemen serba mono mengakibatkan manajemen serba informal. Kebiasaan
pengelolaan pesantren serba mono dengan kebijakan hanya terpusat kepada kiai
untuk menyuburkan kekuasaannya dan tak ada kontrol sebagai penyeimbang sehingga
mengakibatkan mekanisme formal tidak berlaku lagi, sementara keputusan kiai
bersifat deterministik yang harus dijalankan tanpa mempertanyakan prosesnya
sama sekali.[7]
Sehingga
dapat dikatakan bahwasanya sistem pengelolaan dalam bidang rekrutmen santri
dalam setiap pondok pesantren yang berdiri di Indonesia satu sama lain memiliki
corak pengrekrutan yang berbeda,
dikarenakan pesantren yang berbeda, kiai yang berbeda, lingkungan sosial
masyarakat yang berbeda dan adat istiadat yang beda pula.
Dalam konteks pendidikan pesantren, iklim pelajar yang kondusif
harus didukung oleh kinerja kyai, ustadz (guru), santri dan wali santri secara
sinergis sesuai kapasitas dan kapabilitasnya masing-masing. Terwujudnya iklim
demikian jelas menuntut kinerja pengasuh pesantren sedemikian rupa sehingga
dapat mengembangkan kepemimpinan pendidikan dan pendektan-pendekatan yang
merangsang motivasi guru dan santri untuk bekerja secara sungguh-sungguh santri
belajar dan guru mengajar. ditengah persaingan mutu pendidikan secara nasional
menjadi kebutuhan mendesak bahwa penyelenggaraan pendidikan pesantren harus
didukung oleh tersediannya guru secara memadai baik secara kualitatif
(profesional) dan kuantitatif (proporsional). Hal ini ditunjukkan oleh
penguasaan para guru di pesantren tidak saja terhadap isi bahan pelajaran yang
diajarkan tetapi juga teknik-teknik mengajar baru yang lebih baik.
menyadari akan
pentingnya terhadap dua hal di atas, diharapkan kepada para pengasuh/pemimpinan
pesantren untuk mengupayakan peningkatan kualitas para gurunya dengan
pendekatan cara-cara yang cocok di pesantren. Ada beberapa pendekatan
peningkatan mutu guru yang mungkin sesuai untuk dikembangkan di pesantren demi
memenuhi kebutuhan tersebut. Diantaranya
melalui restrukturisasi guru, peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar
guru, serta manajemen pelatihan guru melalui tehnik-tehnik team theching,
mentoring dan choaching.
1.
Melalui
restrukturisasi guru pesantren.
yang dimaksud
dengan restrukturisasi guru pesantren adalah pendayagunaan guru sesuai
keperluan lembaga agar mampu bertanggung jawab melaksanakan, visi, misi, dan
tujuan pesantren yang telah di tetapkan secara efektif.
didunia
pesantren fungsi tersebut dapat di lakukan secara fleksibel, dimana untuk
meningkatkan fungsi layanan pendidikan pesantren, pengasuh pesantren tidak
harus membuat spesialisasi ketat dalam pemberian tugas kepada guru atau staf
lain.
secara umum,
restrukturisasi guru pesantren mengandung implikasi-implikasi sebagai berikut :
a.
tujuan
restrukturisasi adalah perubahan jangka panjang yang menuntut keuletan dan
ketekunan pemimpin pesantren dalam rangka menciptakan lingkungan
belajar-mengajar yang aman dan tentram.
b.
guru
sebagai staf pesantren membutuhkan keterampilan, kewenangan dan waktu untuk
menciptakan peranan baru dan lingkungan yang tepat bagi mereka.
c.
Restrukturisasi
lembaga pesantren masyarakat adanya dukungan terpadu dan akuntabilitas.
2.
Peningkatan
pengetahuan dan keterampilan guru pesantren
Sebagaimana di
dunia pendidikan formal, program peningkatan dan pengembangan guru dapat
dilakukan dengan banyak pendekatan, termasuk: program pelatihan in-service
formal, study lanjut, dan belajar di tempat kerja secara informal (informal
on-the-job-learning), atau bahkan melalui bentuk kegiatan-kegiatan ilmiah
sederhana,seperti seminar (halaqoh). cara-cara ini dapat dapat diterapkan
sesuai situasi dan kondisi yang mendukung dalam rangka peningkatan
profesionalisme guru.
3.
peningkatan
kualitas guru melalui mentoring, choacing dan praktek.
Untuk
meningkatkan pengetahuan, pengalaman dan keterampilan secara praktis diaman
kedua belah pihak, khususnya guru senior, saling memberi balikan, penilaian dan
keputusan metode , isi dan tugas pendidikan dan pengajaran yang baik. di
lingkungan pesantren salaf, Guru senior biasanya juga mempercayakan tugas
mengajarnya kepada santri senior yang di anggap mampu.
pesantren
salafiyah biasanya tidak didukung oleh guru dalam jumlah besar sementara untuk
memnuhinya sering mendapatkan kesulitan karena keterbatsan dana untuk menggaji
mereka. Atas dasar inilah perlu diupayakan cara peningkatan kualitas mereka
secara lebih ekonomis, bagaimana guru yang sedikit dapat memiliki kinerja yang
yang tinggi sehingga pesantren tetap mampu memeberi pelayanan pendidikan dan
pengajaran yang optimal kepada santri dan masyarakat. salah satu upaya
peningkatan mutu guru tersebut adalah membekali keterampilan tekhnis dan
konseptual melalui mentoring, kepelatihan (choaching) dan praktek.[8]
Penyelenggaraan
kegiatan pendidikan dan pengajaran untuk para santri dengan berbgai macam
materi disampaikan dengan berbagai macam metode pembelajaran. Dalam pesantren
tardisional, keseluruhan kegiatan pembelajaran ini tidak ditentukan oleh
panjang atau singkatnya masa seorang santri mengaji kepada kiainya karena tidak
adanya keharusan menempuh ujian untuk memperoleh diploma dari seorang kiai. Di
dalam dunia kepesantrenan semua dianggap sama rata oleh sang pengasuh atau yang
sering disebut dengan kiai, karena pengklasifikasian santri berdasarkan waktu
paling lama ia menjadi seorang santri tidak pernah diberlakukan, akan tetapi di
pondok pesantren memberlakukan sistem pengelompokan atau pengklasifikasian
santri sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimilikinya guna agar kiai dan
pesuruh kiai bisa memilah dalam memberi ilmu apa yang harusnya di sampaikan
kepada seorang santri.
Di samping itu,
masa belajar para santri tidak sama karena didasarkan kemampuan individual santri serta kurikulum pelajaran
yang demikian lentur. Kegiatan pendidikan lainnya adalah semua materi
pembelajaran yang diberikan kepada para
santri bersifat aplikatif, artinya artinya materi-materi yang telah di
pelajarinya itu harus diterjemahkan dalam perbuatan dan aktivitas keseharian
dan sudah tentu hal ini mendapat perhatian pokok dari seorang kiai dan seorang
ustadz.
Dalam sistem
pendidikan pesantren ini kiai dan ustadz merupakan penanggung jawab utama
sekaligus pelaksana pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada para
santri. Kegiatan pembelajaran di pesantren tidak hanya pemindahan ilmu
pengetahuan dan pelatihan keterampilan-keterampilan tertentu, tetapi hal yang
paling penting adalah penanaman dan pembentukan nilai-nilai tertentu kepada
para santri. Dengan demikian, ketiga aspek pendidikan yakni aspek kognitif,
afektif dan psikomotorik diberikan secara simultan dan seimbang kepada peserta
didik. Para santri selain hidup dalam situasi sosial dan kekeluargaan selama
sehari semalm penuh secara terus menerus, mereka senantiasa berada dalam
suasana pendidikan serta bimbingan kiai dan para ustad.[9]
Pengelolaan
sistem internal dan eksternal pesantren merupakan sebuah proses pengelolaan
yang dilakukan oleh warga pesantren dalam bidang sistem internal dan eksternal
pesantren, kita dapat mengamati secara cermat bahwa lazimnya pada pesantren
besar yang terkenal adalah nama kiainya serta sistem dalam pengelolaan lembaga
yang baik, kiai sebagai manajer dalam pesantren memusatkan perhatian dan
aksinya pada pengutan lembaga atau sistem pendidikannya.[10]
Seperti yang
sudah dibahas sebelumnya bahwasanya dalam pesantren banyak menganut pola mono
dan informal maka hal ini akan meminimalisasi bahkan menghilangkan kewenangan
dan menurunkan kreativitas para pemegang kendali yang berada dalam bawah kiai
dalam kapasitas mereka sebagai manajer madya Kebiasaan manajemen yang
diperankan kiai itu berjalan sendiri tanpa melibatkan pertimbangan ustad
sebagai bawahannya secara langsung sehingga tindakan kiai lepas kontrol sama
sekali. Kondisi ini menemukan kesempatan sehubungan dengan sikap ustad apalagi
santri yang tidak berani menegur kiainya.[11]
Maka dengan itu
pengelolaan sistem internal dan eksternal yang ada pada dalam pesantren murni
perintah dari seorang kiai sebagai manajer terdepan pesantren, sehingga para
pesantren atau bisa disebut sebgai ustad hanya menjalankan apa yang telah
menjadi titah kiai sebagai manajernya.
Akan tetapi
pada tahun 2002 Mujamil Qomar menulis dalam bukunya yang berjudul manajemen
pendidikan islam strategi baru pengelolaan lembaga pendidika islam bahwsanya
manajemen pesantren mencakup berbagai komponen yang salig terkait dan segera
mendapat penanganan karena telah lama menjadi problem yang serius serta
terabaikan. Maka dibutuhkan solusi-solusi yang komprehensif dan menyebar ke
berbagai komponen pendidikan pesantren yang selama ini menjadi titik balik
kelemahan lembaga pendidikan islam tertua di indonesia ini.[12]
Kemudian diikuti langkah-langkah praktis agar segera dapat dilaksankan oleh
semua pihak yang terkait langsung dengan penataan pesantren, hal ini dapat
disangkut pautkan dengan pengelolaan system internal dan eksternal pesantren
dan qomar menyatakan tentang solusi dan langkah-langkah yang dimaksudnya adalah
sebagai berikut:[13]
1.
Menerapkan
manajemen secara profesional. Hal ini dapat ditempuh melalui langkah-langkah
sebagai berikut:
a.
Menguasai
ilmu dan praktik tentang pengelolaan pesantren
b.
Menerapkan
fungsi-funsi manajemen (POAC)
c.
Mampu
menunjukkan skill yang dibutuhkan pesantren
d.
Memiliki
pendidikan, pelatihan atau pengalaman yang memadai tentang pengelolaan
e.
Memiliki
kewajiban moral untuk memajukan pesantren
f.
Memiliki
komitmen yang tinggi terhadap kemajuan pesantren
g.
Memiliki
kejujuran dan disiplin tinggi
h.
Mampu
memberi teladan dalam perkataan dan perbuatan kepada bawahan
2.
Menerapkan
kepemimpinan yang kolektif . strategi ini dapat diwujudkan melalu
langkah-langkah sebagai berikut:
a.
Mendirikan
yayasan
b.
Mengadakan
pembagian wewenang secara jelas
c.
Memberikan
tanggung jawab kepada masing-masing pegawai
d.
Menjalankan
roda organisasi secara bersama-sama sesuai dengan kewenangan masing-masing
pihak secara proaktif
e.
Menanggung
risiko bersama-sama
3.
Menerapkan
demokratisasi kepemimpinan, strategi ini dapat ditempuh melalu langkah-langkah
berikut:
a.
Mengurangi
dominasi kiai dalam penentuan kebijakan
b.
Menekankan
partisipasi masyarakat pesantren dalam menentukan pilihannya sendiri
c.
Keputusan-keputusan
yang diambil kiai mempertimbangkan usaha-usaha dari bawah
d.
Memberikan
kebebasan pada bawahan untuk memilih pemimpin unit-unit kelembagaan secara
terbuka dan mandiri
4.
Menerapkan
manajemen struktur. Strategi ini dapat dilalui dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
a.
Menyusun
struktur organisasi secara lengkap
b.
Menyusu
deskripsi pekerjaan (jop description)
c.
Menjelaskan
hubungan kewenangan antar pegawai atau pengurus pesantren dan pimpinan, baik
secara vertikal maupun horizontal (bertanggug jawab kepada siapa, bermitra
kerja dengan siapa, dan memiliki kewenangan memerintah siapa)
d.
Menanamkan
komitmen terhadap tugas masing-masing pegawai atau pengurus pesantren
e.
Menjaga
kode etik kewenangan masing-masing pegawai atau pengurus pesantren
5.
Menanamkan
sikap sosio-egalitarianisme. Strategi ini dapat di tempuh melalui
langkah-langkah berikut:
a.
Menggusur
setiap feodalisme yang berkedok agama
b.
Memandang
semua orang memiliki derajat dan martabat sosial yang sama sesuai amanat
Al-Quran surat al-hujurat ayat 13
c.
Menghapus
diskriminasi dikalangan santri antar kelompok putra-putri kiai dengan santri
biasa
d.
Menghapus
sikap mengkultuskan para kiai
e.
Menghapus
penghormatan yang berlebihan kepada kiai
f.
Menghapus
sikap mengistimewakan seorang atau kelompok tertentu
g.
Membebaskan
para santri dari perasaan sebagai “hamba” atau “mayit” dihadapan kiai sehingga
mereka dapat menjadi santri yang sopan tetapi penuh inisiatif
6.
Menghindarkan
pemahaman yang menyucikan pemikiran agama. Strategi ini dapat ditempuh dengan
langkah-langkah berikut:
a.
Membiasakan
telaah terhadap kandungan isi kitab
b.
Membiasakan
pendekatan perbandingan pemikiran para ulama dalam proses pembelajaran
c.
Membiasakan
kritik konstruktif dalam proses pembelajaran
d.
Menanamkan
kesadaran bahwa pemikiran para penulis kitab sangat dipengaruhi oleh situasi
dan kondisi saat menulis kitab
e.
Menanakan
kesadaran bahwa betapapun hebatnya seorang penulis kitab, dia pasti memiliki
kelemahan tertentu
7.
Memperkuat
penguasaan epistimologi dan metodologi. Strategi ini dapat dirinci melalui
langgkah-langkah sebagai berikut:
a.
Menyajikan
pelajaran teori pengetahuan
b.
Memotivasi
santri senior untuk mengembangkan pengetahuan
c.
Memperkuat
ilmu-ilmu wawasan, seperti sejarah, filsafat, mantiq, perbandingan madzhab,
perbandingan agama, ilmu-ilmu quran dan ilmu-ilmu hadist
d.
Memperkuat
ilmu-ilmu pendekatan atau metode, seperti ushul fiqh (epistimologi hukum islam)
dan al-qowaid al-fiqhiyah (kaidah ilmu-ilmu fiqh)
e.
Mengajarkan
metodologi penelitian
f.
Mengajarkan
metodologi karya tulis ilmiah
g.
Mengajarkan
metodologi berpikir ilmiah
h.
Memberikan
tugas-tugas penulisan karya tulis ilmiah
i.
Mendorong
keberanian santri-santri senior untuk menulis buku-buku ilmiah
j.
Mendorong
keberanian para santri senior untuk menerjemahkan kitab-kitab bahasa arab
kedalam bahasa indonesia
8.
Mengadakan
pembaruan secara berkesinambungan. Strategi ini dapat diaplikasikan melalui
langkah-langkah berikut:
a.
Mengadakan
pembaruan dana atau penambahan institusi
b.
Mengadakan
pembaruan sistem pendidikan
c.
Mengadakan
pembaruan sistem kepemimpinan
d.
Mengadakan
pembaruan sistem pembelajaran
e.
Mengadakan
pembaruan kurikulum
f.
Mengadakan
pembaruan strategi, pendekatan dan metode pembelajaran
g.
Memperkuat
SDM para utadz, perpustakaan dan laboratorium
9.
Mengadakan
sentra-sentra perekonomian. Strategi ini dapat diaplikasikan melalui
langkah-langkah berikut:
a.
Mendirikan
toko-toko yang menyediakan kebutuhan para santri
b.
Mengelola
konsumsi para santri
c.
Mendirikan
koperasi
d.
Mendirikan
pusat-pusat pelayanan publik yang berorientasi pada keutungan finansial
e.
Membuat
jaringan kerja sama dengan pihak lain yang saling menguntungkan
f.
Mendirikan
usaha-usaha produktif lainnya
Demikian sembilan strategi dan puluhan langkah yang layak ditempuh
dalam memanage pesantren untuk memajukan lembaga pendidikan islam, strategi dan
langka tersebut telah menyentuh berbagai dimensi pendidikan pesantren, yang
secara umum tela mewakili problem-problem yang dihadapi pesantren selama ini.[14]
BAB III
PENUTUP
Proses
rekrutmen yang ada dalam setiap pondok pesantren anar satu dengan yang lain
berbeda, hal ini dikarenakan letak pondok yang berbeda, kiai atau pengasuh yang
berbeda, tradisi pesantren yang berbeda serta aturan yang diterapkan berbeda
pula, akan tetapi kesamaan dari setiap pondok pesantren ialah dalam proses
pengrekrutan di dalamnya terdapat proses seleksi dan filterisasi.
Pengelolaan
tenaga pendidik pesantren dilakukan oleh seorang manger pesantren atau sering
dikenal dengan sebutan kiai dengan tujuan agar tenaga pendidik pesantren
memiliki kabilitas diri yang memadai agar dapat mengajar dan membimbing para
santri dengan baik dan sesuai dengan keinginan yang di inginkan oleh seorang
kiai.
Pengelolaan
sistem internal dan eksternal pesantren merupakan sebuah usaha untuk mengolah
bagaimana menjadikan pesantren menjadi lebih baik dan orang-orang atau santri
yang ada di dalamnya dalam diwadahi dan dipenuhi kebutuhannya dalam menuntut
ilmu dan mengembang skill yang dimiliki oleh setiap santri.
DAFTAR PUSTAKA
Engku, Iskandar & siti zubaidah. 2014.sejarah pendidikan islam.Bandung:PT.Remaja Rosdakarya
Zainal,
Veithzal rivai & fauzi bahar. 2013.islamic education management.depok:PT.
Rajagrafindo persada
Qomar,
Mujamil. 2014.Menggagas Pendidikan Islam.Bandung:PT.Remaja Rosdakarya
Mastuki. 2003.Manajemen
Pondok Pesantren.Jakarta: Diva Pustaka
[1] Iskandar engku
& siti zubaidah.sejarah pendidikan islam.2014.Bandung:PT.Remaja
Rosdakarya.hlm.,115
[2] Iskandar
engku & Siti zubaidah.sejarah......hlm.,116
[3] Iskandar
engku & Siti zubaidah.sejarah......hlm.,172
[4] Iskandar
engku & Siti zubaidah.sejarah......hlm.,172
[5] Veithzal rivai
zainal & fauzi bahar.islamic education management.2013.depok:PT.
Rajagrafindo persada.hlm.22
[6] Mujamil
Qomar.Menggagas Pendidikan Islam.2014.Bandung:PT.Remaja
Rosdakarya.hlm.,82
[7] Mujamil
Qomar.Menggagas Pendidikan Islam........hlm.,81
[8]Mastuki,
Manajemen Pondok Pesantren. 2003. Jakarta: Diva Pustaka. Hlm,32.
[9] Iskandar
engku & Siti zubaidah.sejarah......hlm.,178
[10] Mujamil Qomar.Menggagas Pendidikan Islam.2014.Bandung:PT.Remaja
Rosdakarya.hlm.,80-82
[11] Mujamil
Qomar.Menggagas Pendidikan Islam........hlm.,81
[12] Mujamil
Qomar.Menggagas P endidikan Islam........hlm.,82
[13] Mujamil
Qomar.Menggagas P endidikan Islam........hlm.,83
[14] Mujamil
Qomar.Menggagas P endidikan Islam........hlm.,83-85
Komentar
Posting Komentar