PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK MENGEFEKTIFKAN ORGANISASI
MAKALAH
MICROLEADING
PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK MENGEFEKTIFKAN ORGANISASI
DOSEN PEMBIMBING: WAFI ALI HAJJAJ, S.Pd.I, M.Pd.I
NAMA KELOMPOK:
ABIDATUL ROHMAH
AGUS TRIANI
AINUL QOMARIAH
ALFYATUL HASANAH
ANISATUL JANNAH
ARIS LU’LU’IN NISA
AYU APRILIANA
DEVA SETIAWATI
DEWI LUTFIYAH ANDRIYANI
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AT-TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AJARAN 2019-2020
KATA PENGANTAR
بسم الله الرØÙ…Ù†
الرØÙŠÙ…
Puji syukur ilahirobbi atas berkat rahmat dan hidayahNYA sehingga
kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah guna menuntaskan tugas Microleading
dengan tepat atas waktu yang telah di tentukan.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada
keharibaan junjungan kita nabi Muhammad SAW,karena berkat perjuangannya kita
dapat merasakan nikmatnya hidup di tengah-tengah banyaknya ilmu pengetahuan.
Makalah
yang berjudul Pengambilan Keputusan Untuk Mengefektifkan Organisasi ini
merupakan sebuah makalah yang dibuat untuk memenuhi sebuah tanggung jawab yang
telah di amanahi oleh dosen kami yaitu: WAFI ALI HAJJAJ S.Pd.I,M.Pd.I dan untuk beliau ucapan terimakasih
yang tiada tara karena telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini hinga
selesai.
Makalah ini hanyalah sebuah tulisan yang
jauh dari kata kesempurnaan sehingga sangat di harapkan partisipasi semua
pembaca untuk memberi kritikan yang dapat membangun kami semua dalam pembutan
makalah.
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUUAN
Manusia hidup
di dunia tidak sendiri, manusia membutuhkan teman untuk bisa memberlangsungkan
hidupnya sehingga manusia dituntut untuk menjadi manusia sosial atau mahluk
yang bersosial terhadap manusia yang satu dengan manusia yang lain. Bukan hanya
membutuhkan interaksi antar sesama manusianya, manusia juga sangat membutuhkan
terhadap lingkungan sekitarnya, untuk bisa bertahan hidup seperti mahluk hidup
unsur hewani berupa sapi, kambing, ayam dll. serta mahluk hidup berupa
nabati yang biasanya di golongkan dengan
sekumpulan tumbuh-tumbuhan.
Manusia yang
bersosial merupakan segolongan orang yang memiliki sejuta keberagaman mulai
dari keinginan, kebiasaan, cara berfikir serta karakter yang berbeda. Sehingga
harus ada dalam sifat manusia yaitu sebuah rasa berupa tenggang rasa agar
manusia satu dan manusia lainnya tidak memiliki konflik selama hidup bersosial.
Dari sekumpulan
manusia yang bersosial dapat kita contohkan dalam masa kehidupan yang terjadi
di masa kini yaitu dalam sebuah organisasi, dalam sebuah organisasi sekelompok
orang yang beragam berkumpul untuk memperjuangkan sebuah visi misi dan memiliki
garis finish berupa sebuah tujuan besar atau tujuan utama dari organisasi
tersebut. Tak akan mustahil dari sekumpulan orang yang beragam tersebut akan
terjadi sebuah konflik tentang apa, bagaimana, siapa, mengapa, dimana, kapan
dalam sebuah organisasi, sehingga menyebabkan hal-hal berupa kesenjangan antara
manusia satu dengan yang lainnya. Disinilah organisasi akan dipertaruhkan
sehingga pemimpin organisasi menjadi penengah bagaimana keberagaman itu
diwarnai dengan menghasilkan warna yang indah untuk bersatu dan berpadu.
Maka
diperlukanlah sebuah strategi pengambilan keputusan yang harus diketahui dan
kemampuan yang harus dimiliki oleh pimpinan sebuah organisasi. Sehingga kami disini
pemakalah membuat sebuah makalah yang berjudul pengambilan keputusan untuk
mengefektifkan organisasi agar supaya bisa menjadi rujukan bagi para pemimpin
organisasi untuk memperjuangkan keberadaan organisasinya.
1.
Apa
itu organisasi?
2.
Model-model
apa sajakah dalam pengambilan keputusan?
3.
Apa
saja jenis-jenis dan fungsi pengambilan keputusan?
4.
Hal
apa saja yang mendasari pengambilan sebuah keputusan?
5.
Bagaimana
tekhnik pengambilan keputusan dilakukan?
1.
Untuk
mengetahui Apa itu organisasi
2.
Untuk
mengetahui Model-model apa sajakah dalam pengambilan keputusan
3.
Untuk
mengetahui Apa saja jenis-jenis dan fungsi pengambilan keputusan
4.
Untuk
mengetahui Hal apa saja yang mendasari pengambilan sebuah keputusan
5.
Untuk
mengetahui Bagaimana tekhnik pengambilan keputusan dilakukan
Organisasi
adalah sistem pean, aliran aktivitas dan proses (pola hubungan kerja) dan
melibatkan beberapa orang sebagai pelaksana tugas yang didesain untuk mencapai
tujuan bersama. Organisasi menurut Robbins adalah suatu entitas sosial yang
terkoordinasi secara sadar, terdiri dari dua orang atau lebih dengan batasan
yang relatif teridentifikasi, yang berfungsi secara berkelanjutan untuk
mencapai seperangkat sasaran bersama.
Menurut
Presthus our society is an organizational society dan menurut Etzioni
adalah kita dilahirkan dalam organisasi, dididik oleh organisasi, dan hampir
semua diantara kita mengahbiskan hidup kita bekerja untuk organisasi, sehingga
dapat ditarik kesimpulan bahwasanya organisasi adalah entitas sosial yang
dikoordinasikan secara sadar dengan batasan yang dapat diidentifikasikan dan
bekerja terus menerus untuk menggapai tujuan bersama atau sekelompok tujuan.[1]
Maka dari
pengertian yang telah dipaparkan di atas oleh berbagai tokoh maka dapat
disimpulkan secara garis besar bahwasanya organisasi adalah sekelompok orang
yang terdiri lebih dari satu orang yang bersatu dalam satu wadah untuk mencapai
satu tujuan yang paling utama.
Strategi
pengambilan keputusan merupakan sebuah proses
pengambilan keputusan strategis disuatu organisasi sebagai usaha agar
organisasi sesuai dan mampu beradaptasi dengan lingkungan eksternal. Proses ini
akan memiliki dampak yang sangat luas dan punda mental terhadap aspek dan
fungsi dari organisasi, dan mempengaruhi arah pengembangan organisasi,
administrasi, dan struktur organisasi. Sehingga tidaklah mengherankan jikalau
inti dari proses manajemen strategi
organisasi adalah proses pengambilan keputusan strategis.
Perspektif yang
mempengaruhi pembentukan proses pengambilan keputusan strategi yaitu teori
pengambilan keputusan. Kebanyakan riset tentang proses pengambilan keputusan
strategi merupakan aplikasi dari teori pengambilan keputusan pada permasalahan
strategi organisasi. Terdapat empat paradigma dalam teori pengambilan
keputusan, menurut wahjono: model rasional, model organisasional, model politik
dan power dan model garbage can. Berikut ini akan diuraikan empat
paradigma dalam teori pengambilan keputusan tersebut.
1.
Model
Rasional
Dalam model yang paling basic dalam pengambilan keputusan model
rasional dimana dalam persektif ini di asumsikan bahwa setiap individu memiliki
kesamaan perilaku terhadap tujuan yang ingin di capai berdasarkan persektif
ini, si pengambil keputusan berada pada situasi di mana si aktor mengetahui
secara persis tujuan yang ingin di capai. Selanjutnya tujuan ini menentukan
langkah-langkah yang akan di ambil guna mencapai tujuan. Si pengambi keputusan
mendapatkan informasi dan mengembangkan serangkaian kegiatan alternatif, lalu
dari serangkaian alternatif di pilihlah alternatif yang paling optimal.
Perspektif ini sering kali digunakan dalam proses pengambilan
keputusan karena dua hal:
a.
Asumsi
bahwa aktor pengambilan keputusan adalah rasional.
b.
Bahwa
setiap aktifitas yang akan di ambil harus beralasan logis.
Tahapan proses pengambilan keputusan dalam perspektif ini mengikuti
tahap seperti:
1)
Formulasi
masalah
2)
Menemukan
semua alternatif pemecahan masalah secara logis
3)
Mengevaluasi
setiap alternatif pemecahan berdasarkan tujuan yang hendak di capai, dan
4)
Pemilihan
solusi yang paling optinmal
2.
model
organisasional
Model ini merupakan pengembangan dari model rasional dimana dalam
pengambilan keputusan, koknitif dari faktor pengambil keputusan adalah terbatas
dan aspek-aspek organisasilah yang akan menutupi keterbatasan ( koknitif dan
membentuk) koknitif aktor pengambil keputusan. Aspek-aspek itu bisa standar
opration prosedure, rutinitas dalam organisasi dan tidak seperti model (rasional),
dimana tahapan pengambilan kepurusan adalah sekuential. Dalam proses perspektif
ini proses pengambil keputusan tidaklah sekuential. Dan linicritas dari proses
pengambilan keputusan adalah kontekstual.
Dalam perspektif ini lebih melihat bahwa aspek oeganisasi
memberikan dan menentukan proses pengambilan keputusan seperti zize organisasi
mempengaruhi rasionalitas dalam pengambilan keputusan. Pendekatan ini juga
melihat bahwa organisasi memberikan andil dalam pembentukan karakter, perilaku,
kondisi psikologis dan kognitive maps dari aktor pengambil keputusan.
Organisasi mempengaruhi perilaku anggotanya melalui serangkaian proses seperti:
a.
Departementalisasi
unit kerja
b.
Prosedur
kerja
c.
Otoritas
hirarki dalam struktur
d.
Komunikasi
e.
Identitas
dan loyalitas.
Inti dari perspektif ini melihat bahwa organisasi terdiri dari
banyak unit kerja, dimana masing-masing unit memiliki peraturan dan proses yang
berbeda,yang membentuk persepsi dan perilaku dari para anggotanya. Dalam
perspektif ini, pengambilan keputusan melalui proses seperti:
a.
Masalah
muncul ketika organisasi menganalisa informasi yang terkadang dengan tujuan
awal organisasi
b.
Masalah
akan di break-down dan dibagi ke masing-masing unit berdasarkan tugas
masing-masing
c.
Masing-masing
unit akan mengolah masalah berdasarkan prosedur yang ada didalamnya
d.
Kemudian
masing-masing unit menetapkan pemecahan masalah
e.
Pemecahan
secara organisasi (global) merupakan gabungan pemecahan masalah dari
masing-masing unit
3.
Model
Politik dan Kekuasaan
Akar dari perspektif politik dalam pengambilan keputusan adalah
ilmu politik. Perspektif ini melihat bahwa para pengambil keputusan memiliki
tujuan yang berbeda-beda, mereka bekerjasama melalui proses koalisi dan
preferensi dari aktor yang memiliki pengaruh paling besar akan menjadi pemenang.
Awalnya perspektif ini digunakan untuk menjelaskan proses pengambilan keputusan
dilembaga legislatif, dimana para aktor saling beradu argumen dan interest,
pembentukan koalisi dan pemenang.
Inti dari perspektif ini adalah proses dimana konflik muncul dari
aktor yang saling mengamankan dan memperjuangkan preferensinya, keputusan akan
mengikuti keinginan dan pilihan dari aktor yang paling berpengaruh atau
berkuasa. Karena siapa yang memiliki kekuasaan maka itulah yang akan menentukan
keputusan, maka para aktor akan berusaha untuk mengubah struktur kekuasaan
melalui taktik politik seperti coalition, cooptation, manipulasi informasi dan
penggunaan ahli dari luar.
4.
Model
“Garbage can”
Teori ini pertama kali dikemukakan oleh cohen, march dan olesen,
bahwa keputusan koalisasi terjadi dengan tidak sengaja atau kebetulan. Teori
ini merupakan reaksi dari model rasional dan model politik, yang menurut mereka
memiliki banyak kelemahan terutama dalam memahami proses pengambilan keputusan
dalam situasi yang komplek, tidak stabil dan dalam dunia yang ambigu.
Organisasi dalam model ini adalah yang didefinisikan sebagai organized
anarchies dan organisasi dicirikan dengan :
a.
Ketidak
konsistenan dan sulitnya mendefinisikan prefensi dari aktor pengambil
keputusan, mereka biasanya menemukan dan menentukan preferensi setelah melalui
serangkaian aktivitas yang kemudian menjadi pilihan mereka
b.
Dalam
organisasi ini tidak memiliki teknoligi yang jelas masing-masing anggota
organisasi mendapatkan knowladge melalui proses pembelajaran trial dan eror
c.
Organisasi
ini dicirikan oleh bentuk partisipasi yang bebas, dimana para aktor bebas
datang dan pergi selama proses pengambilan keputusan.
Perbandingan dengan model rasional dan politik, model ini lebih
mengutamakan aspek kesempatan dan peluang, apa yang akan diputuskan sangat
tergantung dari waktu dan luck dan keputusan itu sendiri memiliki karakter yang
tidak jelas. Dan inti dari model ini adalah keputusan hasil dri bauran orang
yang memiliki pengaruh, masalah, solusi, dan pilihan kesempatan.[2]
Proses
pengambilan keputusan yang dijalankan secara baik akan melahirkan keputusan
keputusan organisasi, baik diputuskan secara pribadi setelah menerima informasi
dari bawahan melalui musyawarah maupun keputusan diambil sendiri oleh manajer
tanpa melibatkan bawahan.
Keputusan
adalah hasil yang dicapai dari proses pengambilan keputusan. Menentukan pilihan
(memutuskan) atau arah tindakan tertentu bagi organisasi adalah keputusan.
Secara umum keputusan dibagi menjadi dua jenis sebagai berikut:
1.
Keputusan
strategis
Setiap organsasi melahirkan berbagai kebijakan atau keputusan
organisasional. Kebijakan dan arah organisasi merupakan keputusan strategis.
Kebijakan menyita banyak perhatian terutama bagi para manajer puncak karena
pengaruhnya sangat besar terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup organisasi
.
2.
Keputusan
Operasional
Adapun keputusan operasional menyangkut pengelolaan
organisasi sehari-hari. Keputusan operasional sangat menentukan efektifitas
keputusan strategis yang diambil oleh para manajer puncak. Dengan demikian
keputusan yang diambil dalam proses manajemen baik manajer puncak maupun
manajer menengah dan manajer rendah harus saling sinergi agar memiliki kekuatan
untuk menembus faktor-faktor eksternal dalam menuju organisasi secara lebih
baik.
a.
Keputusan
yang diprogramkan (program decision) keputusan yang dibuat berdasarkan pada
problem yang diketahui secara baik (well-structured problems) atau masalahnya
diketahui secara jelas.
b.
Keputusa
yang tidak diprogramkan (non-pro-grammed decision)
Keputusan ini
adalah keputusan yang diambil atau dibuat berdasarkan masalah yang tidak
diketahui secara jelas atau data dan informasinya kurang tersedia sebagai
mestinya. [3]
Pentingnya
pengambilan keputusan dalam manajemen organisasi diindikasikan dalam istilah
yang dikemukakan oleh Terry yaitu the power to make decisions is the power
to manage. Pimpinan (kepala, ketua, direktur, manajer, komandan dan lain-lain).
Adalah orang yang memutuskan apa yang harus dilakukan. Semua keputusan
diharapkan oleh seorang pimpinan. Definisi pengambilan keputusan menurut Terry
adalah as the selection of one behavior alternatife from two or more possible alternatives.
Pengambilan
keputusan sangat dibutuhkan dalam mengimplementasikan fungsi-fungsi dasar
manajemen. Seorang pemimpin tidak dapat menjalankan fungsi-fungsi manajemen
tanpa pengambilan keputusan. Di samping itu, pengambilan keputusan sangat
bergantung pada implementasi fungsi-fungsi manajemen.
Menurut Terry
ada 4 hal yang dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan yaitu intuisi (intuition),
fakta (fact), pengalaman (exprience), dan kekuasaan (authority)
berikut penjelasannya
1.
Intuisi
Pengambilan keputusan berdasarkan pada intuisi adalah cara seorang
pemimpin mengambil keputusan dengan menggunakan inner feeling-nya. Ada
dua advantages yang dapat diperoleh dengan menggunakan intuisi dalam mengambil
keputusan, yaitu: cepat dan pengaruhnya
dapat dibatasi.
2.
Fakta
Pengambilan keputusan yang didasarkan pada fakta adalah cara
seorang pimpinan mengambil keputusan dengan menggunakan fakta-fakta yang cukup
mendukung. Pengmabilan keputusan yang didasarkan pada fakta lebih rasional dan
objektif karena menggunakan metodoogi. Sebelum pengambilan keputusan, fakta
tersebut dianalisa, diklasifikasikan dan diinterpretasikan.
3.
Pengalaman
Kita tentu masih ingat peribahasa yang menjelaskan bahwa pengalaman
adalah guru yang terbaik. Pengambilan keputusan yang didasarkan pada pengalaman
adalah cara seorang pimpinan mengambil keputusan dengan menjadikan peristiwa
masa lalu sebagai acuan dalam mengambil keputusan. Namun pengambilan keputusan
yang didasari pada pengalaman cenderung lebih bersifat tradisional dan menjaga status
quo.
4.
Kekuasaan
Kekuasaan dan pengambilan keputusan saling berhubungan dan tidak
dapat dipisahkan. Kekuasaan adalah kekuatan/ kekuasaan yang dimiliki oleh
seorang pimpinan dalam mengambil keputusan dan keputusannya dilaksanakan oleh
bawahannya. Di sisi lain dapat dikatakan bahwa penerima keputusan memberikan
kekuasaan kepada pembuat keputusan.
Kelebihan pada keputusan yang didasarkan atas kekuasaan adalah
karena keputusan tersebut sangat mudah diikuti atau diterima. Namun kelemahan
keputusan yang didasarkan atas kekuasaan adalah karena keputusan tersebut akan
menjadi sesuatu yang sangat rutin dan gemanya/ gaungnya tidak seperti mendikte.
5.
Logika
Menurut Brinckloe, pengambilan keputusan yang didasarkan pada
logika adalah cara seorang pemimpin mengambil keputusan dengan melakukan studi
rasional terhadap setiap informasi yang terkait dengan keputusan yang akan
diambil. Agar keputusan yang akan diambil tersebut efektif, efisien dan
rasional, maka reliabilitas informasi harus diperhitungkan.
6.
Rasional
Menurut Mc Grew, proses pengambilan keputusan mengutamakan hubungan
antara tujuan keputusan yang akan diambil dengan sasaran keputusan.[4]
Agar
pengambilan keputusan yang diambil oleh seorang pimpinan dapat berjalan
efektif, efisien dan rasional maka diperlukan teknik pengambilan keputusan. Menurut
Terry ada beberapa teknik yang harus dilakukan dalam mengambil keputusan,
yaitu:
1.
Menentukan
apa masalahnya. Tulis semua terminology dengan teliti yang dapat membantu anda
dalam memecahkan apa yang ada akan lakukan.
2.
Menemukan
latar belakang informasi umum dan pandangan yang berbeda tentang masalah yan
akan diputuskan.
3.
Menentukan
tindakan yang terbaik sebelum mengambil keputusan. Tidak mengambil keputusan
juga merupakan pilihan keputusan.
4.
Menginvestigasi
posisi dan keputusan percobaan. Pada langkah ini, seorang pembuat keputusan
dapt merujuk pada pengambilan keputusan yang berdasarkan pada intuisi, fakta,
pengalaman dan kekuasaan.
5.
Mengevaluasi
keputusan percobaan.
6.
Buatlah
agar keputusan ini sesuai goal dan target yang telah ditentukan.
7.
Mengetahui
hasil keputusan dan validitas sosialnya. Pada tahapan ini juga merupakan
langkah controlling terhadap fungsi dasar manajemen.[5]
Salah satu
peranan startegis manajer atau pimpinan organisasi adalah pengambilan
keputusan. Bahkan menurut Harisson pengambila keputusan menjadi suatu bagian
integral dari manajemen suatu organisasi. Lebih dari sekedar itu, kompetisi
dalam aktivitas pengambilan keputusan ini membedakan seorang manajer dari yang
tidak manajer bahkan lebih dari itu, manajer yang baik dan manajer yang biasa
saja.
Permasalahan
diorganisasi adalah suatu penyimpangan dari apa yang dikehendaki, direncanakan
atau dituju. Di sini keberadaan keputusan penting sekali sebagai suatu
pengakhiran dari proses pemikiran tentang apa yang dianggap sebagai masalah.
Para manajer yang mendapatkan masalah perlu menjatuhkan pilihan terhadap salah
satu alternatif pemecahan masalah melalui pengambilan keputusan.
Faktor
efektivitas pengambilan keputusan oleh para manajer merupakan kunci bagi
terarahnya perubahan suatu organisasi dalam mengantisipasi masa depan. Karena itu,
hal krusial bagi seorang pimpinan atau manajer adalah meningkatkan mutu
keputusan yang diambilnya sehingga penetapan sasaran organisasi semakin tepat
untuk meningkatkan produktivitas dan kinerja sumber daya personal.
Keunggulan
manajemen merupakan suatu hal yang dituntut untuk menjangkau masa depan
organisasi, sedangkan sumber daya personal organisasi yang bermutu tinggi
dengan didukung iklim organisasi yang kondusif akan menghasilkan kinerja yang
tinggi pula. Pada gilirannya, para manajer harus menyadari akan dasar manajemen
yang beretika. Oleh karena itu, masa depan organisasi yang menjadi wadah setiap
personal yang mengaktualisasikan diri
serta untuk membangun kualitas kehidupan masyarakat dapat di wujudkan di masa
depan.
Tanpa keputusan
yang berkualitas tinggi, manajemen tidak akan berarti banyak dalam proses dan
fungsinya. Sejalan dengan itu Adair menjelaskan dengan singkat bahwa the
essence of management is decision making. Disini dipahami bahwa seluruh
aktivitas manajemen pada pokoknya berisikan pengambilan keputusan. Sebab pada
semua fungsi manajemen, baik perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan
pengontrolan diawali dengan tindakan keputusan.[6]
BAB III
PENUTUP
organisasi adalah sekelompok orang yang terdiri lebih dari satu
orang yang bersatu dalam satu wadah untuk mencapai satu tujuan yang paling
utama.
Perspektif yang mempengaruhi pembentukan proses pengambilan
keputusan strategi yaitu teori pengambilan keputusan. Kebanyakan riset tentang
proses pengambilan keputusan strategi merupakan aplikasi dari teori pengambilan
keputusan pada permasalahan strategi organisasi. Terdapat empat paradigma dalam
teori pengambilan keputusan, menurut wahjono: model rasional, model
organisasional, model politik dan power dan model garbage can.
Keputusan adalah hasil yang dicapai dari proses pengambilan
keputusan. Menentukan pilihan (memutuskan) atau arah tindakan tertentu bagi
organisasi adalah keputusan. Secara umum keputusan dibagi menjadi dua jenis
yaitu keputusan strategis dan keputusan operasional.
Pentingnya pengambilan keputusan dalam manajemen organisasi
diindikasikan dalam istilah yang dikemukakan oleh Terry yaitu the power to
make decisions is the power to manage. Pimpinan (kepala, ketua, direktur,
manajer, komandan dan lain-lain). Adalah orang yang memutuskan apa yang harus
dilakukan. Semua keputusan diharapkan oleh seorang pimpinan. Definisi
pengambilan keputusan menurut Terry adalah as the selection of one behavior
alternatife from two or more possible
alternatives.
Agar pengambilan keputusan yang diambil oleh seorang pimpinan dapat
berjalan efektif, efisien dan rasional maka diperlukan teknik pengambilan
keputusan. Adapun tekhnik pengambilan keputusan yang diterapkan merupak sebuah
proses atau hak preogritas yang dimiliki oleh seorang pemimpin bagaimana
keterampilannya dalam melakukan sebuah strategi pengambilan keputusan.
Salah satu peranan startegis manajer atau pimpinan organisasi
adalah pengambilan keputusan. Bahkan menurut Harisson pengambila keputusan
menjadi suatu bagian integral dari manajemen suatu organisasi. Lebih dari
sekedar itu, kompetisi dalam aktivitas pengambilan keputusan ini membedakan
seorang manajer dari yang tidak manajer bahkan lebih dari itu, manajer yang
baik dan manajer yang biasa saja.
DAFTAR PUSTAKA
Torang,
Syamsir. 2016.Organisasi & Manajemen. Bandung:Alfabeta.
Yosef,
P. Koton. 2019. Restrukturisasi organisasi. Yogyakarta: CV. Budi utama
Anzizahan, Syafiruddin.2004.sistem pengambilan keputusan
pendidikan. Jakarta:
PT.Grasindo
[1] Syamsir
Torang.Organisasi & Manajemen.2016. Bandung:Alfabeta. Hlm.,25
[2] Yosef P.
Koton. Restrukturisasi organisasi. 2019. Yogyakarta: CV. Budi
utama.hlm.,84-87
[3] Syafiruddin
anzizahan.sistem pengambilan keputusan pendidikan.2004. jakarta:
PT.Grasindo. hlm.,69
[4] Syamsir
Torang.Organisasi & Manajemen.2016. Bandung:Alfabeta. Hlm.,184-186
[5] Syamsir
Torang.Organisasi & Manajemen.2016. Bandung:Alfabeta. Hlm.,186
[6] Syafiruddin
anzizahan.sistem pengambilan keputusan pendidikan.200.
Jakarta:PT.Grasindo. hlm.,107
Komentar
Posting Komentar