ILMU KEISLAMAN DAN KAJIAN ILMU SOSIAL
MAKALAH
Pendidikan Studi Islam
ILMU KEISLAMAN DAN KAJIAN ILMU SOSIAL

Dosen pembimbing:
Firdausih, M.Pd.I
Nama
kelompok:
·
ABIDATUL ROHMAH
·
AINUL QOMARIYAH
·
AGUS TRIANI
·
ALFIYATUL HASANAH
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM(STAI) AT TAQWA
BONDOWOSO
TAHUN AKADEMIK 2017-2018
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa atas selesainya MAKALAH PENGANTAR
STUDI ISLAM tentang Ilmu Keislaman dan Kajian Ilmu Sosial. Dengan adanya Makalah ini kita dapat mengetahui
bagaimana hubungan antara Ilmu
Keislaman dan Kajian Ilmu Sosial.
Penulisan makalah ini adalah
salah satu tugas mata pelajaran PENGANTAR STUDI ISLAM di STAI AT-TAQWA. Dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak
kekurangan baik dalam teknis penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang kami miliki. Serta kami
mengucapkan banyak terimakasih untuk pihak yang telah membantu kami, dan
terimakasih kepada Ust mata pelajaran Pengantar Studi Islam yakni Ust. Firdausih,M.Pd.i yang telah memberi materi
ini. Oleh sebab itu Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun untuk kesempurnaannya makalah ini, dan juga Penulis berharap semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan para penggunanya.
Bondowoso,17 Oktober 2017
Penyusun
DAFTAR ISI
Lembar judul
KataPengantar..................................................................................................... i
Daftar Isi.............................................................................................................. ii
BABI
Pendahuluan.............................................................................................. 1
1.1LatarBelakang....................................................................................... 1
1.2RumusanMasalah.................................................................................. 2
1.3Tujuan.................................................................................................... 2
BAB II Pembahasan............................................................................................. 3
2.1Sejarah
Pertumbuhan Ilmu – Ilmu Keislaman....................................... 3
2.2Islamic
Studies Model Barat dan Orientalis.......................................... 18
2.3Islam Sebagai
Kajian Akademik(Islamologi)...................................... 20
2.4 Kajian Islam Dengan Pendekatan Ilmu Sosial...................................... 21
2.5 Islam Vs Ilmu Keislaman...................................................................... 22
2.6 Konsep Ilmu dan Tradisi Islam............................................................. 23
2.7 Rekonstruksi Keilmuan Dalam Islam................................................... 24
BAB III Penutup................................................................................................. 26
3.1Kesimpulan........................................................................................... 26
DaftarPustaka..................................................................................................... 27
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Islam hadir dengan membawa rahmat
bagi alam semesta dalam sejarah, keberhasilan Islam untuk membangun dunia
sekaligus untuk mensejahterahkan manusia masih dapat diakui namun dalam sejarah
pula dapat ditemukannya kegagalan untuk mensejahterahkan manusia.Pada dasarnya
ilmu tentang Islam sudah sangat berkembang, bahkan sudah dimulai sejak masa
sahabat dan tabi’in.studi untuk menjelaskan tentang ajaran Islam memang
merupakan konotasi yang sangat membutuhkan pemahaman.
Studi tentang Islam dapat dimulai
dengan telaah analitis mengenai tahiat atau karakternya.Studi jenis ini
bermaksud mengurai, menerangkan, menjabarkan dan mungkin pula menjelaskan kata
atau proposisi yang tidak jelas. Penulis akan menguraikan topic-topik tentang
ilmu Keislaman dan kajian ilmu sosial yang berisi tulisan-tulisan yang
dimaksudkan untuk mengembangkan pemikiran dalam upaya mengaktualkan berbagai
masalah kehidupan yang akan penulis bahas dalam pembahasan selanjutnya.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana sejarah pertumbuhan ilmu-ilmu keislaman?
2.
Apa itu Islamic studiesmodel barat dan orientalis?
3.
Apa yang di maksud islam sebagai kajian akademik (islamologi)?
4.
Apa kajian islam dengan pendekatan ilmu social?
5.
Bagaiman islam vs ilmu keislaman?
6.
Bagaimana konsep ilmu dan tradisi islam?
7.
Bagaimana rekontruksi keilmuan dalam islam?
1.3
Tujuan Masalah
1.
untuk mengetahui sejarah pertumbuhan ilmu-ilmu keislaman
2.
untuk mengetahui Apa itu Islamic studiesmodel barat dan orientalis
3.
untuk mengetahui Apa yang di
maksud islam sebagai kajian akademik (islamologi)
4.
untuk mengetahui Apa kajian islam dengan pendekatan ilmu social
5.
untuk mengetahui Bagaiman islam vs ilmu keislaman
6.
untuk mengetahui Bagaimana konsep ilmu dan tradisi islam
7.
untuk mengetahui Bagaimana rekontruksi keilmuan dalam islam
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah
Pertumbuhan Ilmu-Ilmu Keislaman
agama menurut kamus besar bahasa
Indonesia adalah system atau prinsip kepercayaan kepada tuhan,atau disebut
dengan nama dewa atau nama lainnya dengan ajran kebaktian dan
kewajiban-kewajiban yang bertalia dengan kepercayaa kata. Kata “agama” berasal
dari bahasa sansekerta,gama yang berarti “tradisi”. Kata lain untuk menyatakan
konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa latin religio dan berakar
pada kata kerja re-ligie yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan
berreligi,seseorang mengikat dirinya kepada tuhan.
Sejarah awal kelahiran, Islam telah memberikan
penghargaan begitu besar terhadap ilmu.Pandangan Islam tentang pentingnya ilmu
tumbuh bersamaan dengan kelahirannya Islam itu sendiri. Ketika Rarulullah SAW
menerima wahyu pertama yang mula-mula diperintahkan kepadanya ‘membaca’. Pada
masa kejayaan umat Islam, khususnya pada masa pemerintahan dinasti Umayah dan
dinasti Abasyiah, ilmu Keislaman tumbuh dengan sangat pesat dan maju.Kemajuan
ilmu Keislaman telah membawa Islam pada masa keemasannya. Dalam sejarah ilmu
Keislaman, kita mengenal nama-nama tokoh ilmu diantaranya Al-Mansur, Harun
Al-Rosyid, Ibnu Kholdun, dan lain sebagainya yang telah memberikan perhatian
besar terhadap ilmu Islam. Pada masa itu proses penterjemahan karya-karya
filosof Yunani ke dalam
bahasa arab berjalan dengan pesat. Sejarah juga
mencatat kemajuan ilmu-ilmu Keislaman, baik dalam bidang tafsir, hadits, fiqih
dan disiplin ilmu ke-Islam yang lain. Tokoh-tokoh dalam bidang tafsir, antara
lain Al-Thabary dengan karyanya Jami’ al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an al-Bukhary,
dengan karya yang diciptakan yaitu Al-Jami’ al-Shahih, Muslim, Ibnu Majah, dan
lain sebagainya
A.
Perkembangan islam pada masa dinasti bani umaiyyah
Nama bani umaiyyah berasal dari nama
seorang pemimpin kabilah quraisy pada zaman jahiliyah ialah Umaiyah ibnu Abdi
Syam ,Ibnu Abdi manaf. Pada awalmulanya
dinasti umaiyyah ini bukanlah dinasti yang beranutkan pada agama yang di
bawa oleh nabi Muhammad SAW. Karena bani umaiyyah terkcuali sahabat ustman bin
affan merupakan sekelompok golongan yang sangat menentang terhadap dakwah nabi
Muhammad SAW. Dan bani umaiyyah masuk islam pada tahun 630 M setelah roses
fathul mekah terlaksanakan. Setelah masuknya bani umaiyyah kepada agama islam
maka bani umaiyyah muli berupaya untuk berjuang keras mengembangkan agama islam
sehingga usaha keras dan gigihnya itu membuahkan hasil yang luar biasa da
ercatan dalam sejrah peradaban islam di dnia ni karena ani umaiyyah berhasil
meuaskan wilayahnya ke berbagai penjuru jazirah dan diluar wilayah arab.
Berbagai macam-macam kemajuan dalam
berbagai aspek telah di raih oleh dinasti umaiyyah dan salah satunya ialah
dalam bidang keilmuan,dan adapun kemajuan kemajuan tersebut dalam berbagai
bidang ilmu dan menciptakan beberapa tokoh ilmu yang sangat di kenal dan
terkenang oleh dunia saat ini, di antaranya adalah:
1.
Ilmu agama
Dalam bidang keagamaan disini
berkembang beberapa ilmu diantaranya:ilmu hadis,ilmu fikih,ilmu tafsir dan ilmu
tasawuf,dalam berbagai macam ilmu ini kemudian muncullah para pakar yang
mendalami tentang ilmu-ilmu tersebut. Berikut uraian-uraia tentang ilmu yang
berkembang pada masa dinasti umaiyyah:
a.
Ilmu hadist
Ilmu hadis mulai berkembang setelah
diangkatnya khilofah Umar bin Abdul Aziz,Karena program utama dalam
pemerintahannya terfokus pada usaha pengumpulan hadist untuk di bukukan . dalam
hal ini Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab Az-Zuhri
terpilih menjadi orang terpercaya untuk melakukan program utama pemerintah Umar
bin Abdul Aziz dan dari program inilah maka terkumpulah para perawi-perawi
hadits yang menganggap serius program ini dan mulai membkukan hadist sesuai
degan program pemerintah ang ada. Para perawi yang melakukan pengumpulan hadis
adalah perawi yang di anggap mempunyai sanad yang menyambung kepada nabi
Muhammad SAW.Baik dalam garis keturunan dan dalam garis keilmuan. Adapun para
perawi tersebut adalah:
1). Imam Malik menulis kumpulan buku hadist yang terkenal Muwatha’
2). Imam Syafi’i menulis Al-Musnad
3). Imam Bukhari terkenal dengan Shohih Bukhori
4). Imam muslim terkenal dengan Shohih Muslim
5). Abu Daud terkenal dengan Sunan Abu Daud
6). An- Nasai terkenal dengan Sunan An- Nasai
7). At –Tirmidzi terkenal dengan Sunan At –Tirmidzi
8). Ibnu Majah terkenal dengan Sunan Ibnu Majah
Yang mana dalam kehidupan saat ini
karya imam Bukhari,Imam muslim,Abu Daud,An- Nasai,dan At –Tirmidzi, Ibnu Majah
di kenal dengan kutubus sittah.
b.
Ilmu tafsir
Ilmu tafsir adalah ilmu yang
mengkaji makna dan tujuan yang terkandung dalam Al-Qur’an sesuai dengan
kemampuan akal manusia, ketika nabi masih hidup penafsiran ayat- ayat Al-Qur’an
yang membutuhkan penafsiran langsung di tuntun oleh malaikat jibril,setelah
rosulullah wafat maka para sahabat nabi menafsirkan Al-Qur’an bersandar dari
rosulullah lewat pendengaran mereka ketika rosulullah masih hidup,maka dalam
generasi berikutnya dii saat islam mulai berkembang pesat pada masa dinasti
umaiyyah dan banyak umat muslim yang luar dari ara atau sering di sebut dengan
non arab kurang memahami tentang bahasa arab itu tersendiri sehingga lakhirlah
tokoh-tokoh tafsir untuk menafsirkan isi kandunan dalam Al-Qur’an untuk
mempermudah mereka dalam memahami,adapun para pakar tersebut diantaranya
adalah:
1). Abdullah bin Abbas dari Madinah
2). Abdullah bin Mas’ud dari Mekkah
3). Sa’ad bin Jabir
4). Al-Asmi dan Mujahid muridnya Ibnu Abbas
5). Muqatil bin Sulaiman
6). Muhammad bin Ishaq
7). Muhammad bin Jarir At-Thabary
c.
Ilmu fikih
Al –Qur’an sebagai kitab suci yang
sempurna, merupakan sumber utama bagi umat islam, terkhusus dalam menentukan
masalah-masalah hukum.Pada masa Khulafaurrasyidin, penetapan hukum disamping
bersumber dari Rasulullah dilakukan sebuah metode penetapan hukum, yaitu
ijtihad. Ijtihad pada awalnya hanya pengertian yang sederhana, yaitu
pertimbangan yang berdasarkan kebijaksanaan yang dilakukan dengan adil dalam
memutuskan sesuatu masalah.Pada tahap perkembangan pemikiran islam, lahir
sebuah ilmu hukum yang disebut Fiqih, yang berarti pedoman hukum dalam memahami
masalah berdasarkan suatu perintah untuk melakukan suatu perbuatan, perintah
tidak melakukan suatu perbuatan dan memilih antara melakukan atau tidak
melakukannya. Pada masa ini bermunculan para tokoh ahli fiqih, antara lain :
1). Sa’id bin Al-Musayyid (Madinah)
2). Salim bin Abdullah bin Umar (Madinah)
3). Rabi’ah bin Abdurahman (Madinah)
4). Az –Zuhri (Madinah)
5). Ibrahim bin Nakha’ai (Kufah)
6). Al –Hasan Basri (Basrah)
7). Thawwus bin Khaissan (Yaman)
8). Atha’ bin Ra’bah (Mekah)
9). Asy –Syu’aibi (Kufah)
10). Makhul (Syam
Dan juga terdapat dua ulama fikih
ang sangat terkenal pada masa sekarang yaitu:
a). Imam Hanafi
Pendiri
madzhab Hanafi ini diberi gelar “Imam Ahlur Ra’yi” karena ia lebih
banyak memakai argumentasi akal dari pada ulama, namun ia tetap mengacu pada
sumber hukum Islam, seperti Al-Qur’an dan Hadits, fatwa sahabat, ijma’, qiyas,
istihsan serta urf. Kitab-kitab yang beliau tulis diantaranya:
-Al-Faraid Yakni
kitab khusus membicarakan tentang waris dan segala bentuk ketentuan-ketentuannya
menurut hukum Islam.
-Asy-Syurut Kitab
yanng membahas tentang perjanjian dalam suatu akad atau transaksi
-Al-Fiqhul
Akbar⇒ Kitab yang
membahas tentang teologi dan ilmu tauhid.
b). Imam Malik
Yakni seorang
mujtahids besar dan ahli dalam bidang fiqih dan hadits sekaligus pendiri
madzhab Maliki. Imam Malik dalam menetapkan hukum menggunakan
sumber-sumber dari Al-Qur’an, Hadits, atsar, tradisi masyarakat Madinah, qiyas,
dan al-maslahah al-mursalah. Karyanya yang terkenal adalah “Al-Muwatta”
yakni kitab yang mencakup segala hal dalam masalah fiqih.
d.
Ilmu tasawuf
Ilmu tasawuf adalah ilmu untuk
mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir
dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya
merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam
perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Dalam dinasti umaiyyah
terdapat dua orang ahli tasawuf yaitu:
1). Hasan al-Basri
Seorang ahli tasawuf pada tahun 37
H.setelah perag siffin ia pindah ke Basrah dan disanalah ia memulai karirnya
sebagai seorang ulama dan zahid yang sangat berpengaruh. Inti ajaran beliau
adalah Al-Khouf wal Raja’yakni takut terhadap siksaan Allah SWT.Dengan konsep
tersebut manusia dapat terhindar dari perbuatan maksiat dan senantiasa beriman
dan ber taqwa kepada Allah SWT.
2). Rabi’ah Al-Adawiyah
Seorang sufi wanita yang termasyhur
sepanjang sejarah. Konsep pemikirannya sanga terkenal dan menjadi suatu
trobosan sufisme yang sanga monumental. Konsep sufi yang di terapkan adalah
konsep mahabbah yakni tentang rasa cinta kepada Allah SWT. Konsep tersebut
mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu yamng patut di cintai kecuali Allah
SWT.Semata dan ibadah yang dilakukan oleh seorang hamba harus di dasari dengan
kecintaan kepada-NYA agar dalam beribadah disertai rasa senang dank e ikhlasan.
2.
Ilmu sejarah dan geografi
Pada masa dinasti umaiyyah ilmu sejarah
dan geografi juga mengalami perkembangan,perlu kita ketahui bahwasanya ilmu
sejarah dan geografi adalah segala ilmu yang membahas tentag perjalaan
hidup,kisah,dan riwayat. Pada masa ini seorang ahli ilmu sejarah dan geografi
yang bernama Ubaid ibn Syariyah Al Jurhumi berhasil menuis berbagai peristiwa
sejarah.
3.
Ilmu pengetahuan bahsa arab
Terkait dengan di kembangkannya ilmu
tafsir dalam bidang pendidikan islam maka ilmu pengetahuan tentang bahasa arab
itu di perlukan,oleh karena itu ilmu pengetahuan bahasa arab ini pula di
kembangkan dalam sub pembahasan tentang ilmu nahwu da shorrof untuk mengetahui
kedudukan dan makna yang di maksud di dalam Al-qur’an
4.
Seni bahasa dan sastra
Pada masa pemerintahan
Abd. Malik bin Marwan, bahasa arab digunakan sebagaiadministrasi negara. Dengan
penggunaan bahasa Arab yang semakin luas dibutuhkan suatu panduan bahasa yang
dapat digunakan semua orang. Hal itu mendorong lahirnya seorang ahli bahasa
terkemuka yang bernama Imam Syibawaihi, yang mengarang sebuah buku yang berisi
pokok-pokok kaidah bahasa Arab yang berjudul al-Kitab. Disamping itu, pada
pemerintahan Dinasti Umayyah di Andalusia terdapat juga ahli bahasa yang
terkenal, antara lain: Ibnu Malik pengarang kitab Alfiah, Ibn Sayyidih, Ibn
Khuruf, Ibn Al-Haj, Abu Ali Al-Isybili, Abu Al-hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan
Al-Garnathi, al-Farisi, al-Zujaj. Di bidang sastra juga mengalami kemajuan. Hal
itu ditandai dengan munculnya sastrawan-sastrawan yang terkemuka, seperti:
a.
Qays Bin Mullawah menyusun
buku yang berjudul Laila Majnun, wafat pada tahun 699 M.
b.
Jamil Al-Uzri (701 M)
c.
Al-Akhtal (701 M)
d.
Umar Ibn Abi Rubi’ah (719
M)
e.
Al-Farazdaq (732 M)
f.
Ibnu Al-Muqoffa (756 M)
g.
Ibnu Al-Jarir (792 M)
5.
Ilmu kimia
Khalifah Yazid bin
Muawiyyah seorang khalifah yang pertama kali meyuruh untuk menerjemahkan
buku-buku berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Beliau mendatangkan beberapa
orang Romawi yang bermukim di mesir. Diantaranya Maryanis seorang pendeta
yang mengajarkan ilmu kimia.
6.
Ilmu kedokteran
Peduduk Syam di Zaman ini
telah banyak menyalin bermacam ilmu ke dalam bahasa Arab, seperti: ilmu-ilmu
kedokteran misalnya karangan Qais Ahrun dalam bahasa Suryani yang disalin ke
dalam bahasa Arab Masajuwaihi.
7.
Ilmu filsafat
Islam di Andalusia telah mencatat satu lembaran
budaya yang sangat brilian dalam bentangan sejarah islam. Ia berperan sebagai
jembatan penyeberangan yang di lalui ilmu pengetahuan Yunani Arab ke Eropa abad
ke 12 minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad
ke-9 selama pemerintahan bani umayyah. Tokoh pertama dalam sejarah filsafat
Andalusia dalah Abu Bakr Muhammad bin al-Syaigh yang terkenal dengan namaIbnu
Bajjah. Karyanya adalah Tadbir al-muwahhid, tokoh kedua adalah Abu Bakr bin
Thufail yang banyak menulis masalh kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya
filsafatnya yang terkenal adalah Hay bin Yaqzhan. Tokoh terbesar dalam bidang
filsafat di Andalusia adalah Ibnu Rusyd dari cordova.Ia menafsirkan maskah –
naskah aristoteles dan menggeltuti masalah – masalah menahun tentang keserasian
filsafat agama.
8.
Musik dan
kesenian
Dibidang ini dikenal seorang tokoh
bernama Hasan bin Nafi yang berjuluk Zaryah. Dia juga terkenal sebagai
penggubah lagu dan sering mengajarkan ilmunya kepada siapa saja sehingga
kemasyhurannya makin meluas.
B.
Perkembangan
islam pada masa dinasti abbasiya
Nama Abbasiyah berasal dari kata
Al-Abbas dan Abbas itu adalah nama seorang keturunan Bani Hasyim,pamannya nabi
Muhammad SAW. Pada masa dinasti abbasiyah islam juga mengalami puncak
kejayaannya,dimana ilmu pengetahuan yang awalnya berkembang di masa dinasti
umayah,pada dinasti abbasiyah ilmu pengetahuan tambah berkembang pesat dan
terlahirlah ilmua-ilmuan hebat yang sampai saat ini karya-karyanya masih
digunakan sebagai acuan dalam pendidikan modern,adapun ilmu-ilmu yang berkembang
pada masa dinasti abbasiyah adalah sebagai berikut:
1.
Perkembangan
ilmu filsafat
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yag
mempersoalkan hakekat dari segala hal yang ada. Para filusuf islam berpendirian
bahwa tujuan filsafat mirip dengan tujuan agama. Keduanya mencari kebenaran dan
mewujudkan kebahagiaan melalui kepercayaan yang benar dan perbuatan yag baik
.meskipun demikian filsafat islam tidak hanya membahas tentang persoalan
kebenaran, tetapi juga mencakup ilmu kedokteran, biologi,kimia,musik oleh karena
itu filsafat juga memasukkan lapangan ilmu islam yang lain,seperti tasawuf dan
usul fikih.
Adapu para
ilmuan yag ahli dalam fisafat adalah:
a.
Al-Kidi
(801-866 M)
b.
Ar-Rozi
(865-932 M)
c.
Al-Farobi
(870-950 M)
d.
Ibnu Sina
(980-1037 M)
e.
Ibnu Masawaih
(941-1030 M)
f.
Al-Ghozali
(1051-1111 M)
2.
Ilmu kedokteran
Ilmu kedokteran adalah cabang ilu
yang menangani keadaan kesehatan dan penyakit pada tub manusia dengan cara-cara
tertentu yang sesuai dengan cara penjagaan atau pemulihan kesehatan. Ilmu
kedokteran lahr sebagai perubaan ilmu kedokteran yunani yang di rintis oleh
hipokrates dan galen dengan teori serta praktik bangsa india dan Persia. Dokter
Jirjis Bukhtyshuri seorang dokter pertama yang berhasil menyembuhkan penyakit
dyspepsia atau menahun (peradangan selaput lender dan lambung) yang di derita
oleh kholifah Abu jakfar Al-Mansyur,sehingga kholifah memindahka pusat
kedokteran jndisabur ke Baghdad.
Pengarang kedokteran pertama islam
adalah “Ali bn Rabban At-Tabari”yang menulis Firdaus Al-Hikmah pada tahun 850 M.
karyanya memuat berbagai hal dalam bidang patologi,farmakologi,dan diet.
Adapun para
ilmuan kedokteran dalam islam adalah:
a.
Ar-Rozi
b.
Ali bin
Al-Abbas
c.
Ibnu Sina
d.
Jabir bin
Hayyan
e.
Al-Kindi
f.
Al-Farobi
3.
Ilmu astronomi
Ilmu astronomi dikenal dengan
sebutan ilmu falak yaitu ilmu yang mempelajari benda-benda langit,seperti
matahari,bulan dan planet-planet.dari ilmu astronomi inilah muncul cabang ilmu
dari sebuah penemuan yang ditemukan berupa 12 gugusan bintang yang membentuk
lingkaran dan akan hilang dalam kurun waktu 30 hari maka muncullah sebuah teori
cabang dari ilmu astronomi ini yaitu ilmu geometri,ilmu ukur,ilmu hitung dan
matematika. Dengan menghitung jalannya bulan menghasilkan hari,dan menghitung
jalannya matahari di hasilkan tanggal,bulan,serta tahun.dengan demikian muculah
ilmu penanggalan.
Ilmuan yang terkenal disini adalah
Muhammad bin Musa Al-khowarizmi (780-850M)
4.
Ilmu hadist
Ilmu hadist pada masa bani abbasiyah
mengalami perkembangan pada abad 3H-7H,pada masa ini terjadi masalah besar
tentang pemalsuan hadist tetapi masalah besar ini dapat di selesaikan secara
tuntas dengan strategi yang telah di tentukan oleh kholifah pada masa
itu.masalah ini bisa terselesaikan karena telah banyak para perawi hadist yang
membantu dalam penyelesaian masalah ini,adapun para perawi hadist yang berperan
pada saat itu dan teta terkenal pada masa ini adalah:
a.
Imam Bukhori
(194-256H/810-870M)
b.
Imam Muslim
(206-261H/817-875M)
c.
Abu Dawud
(202-275H/817-888M)
d.
An-Nusa’I
(214-303H/830-915M)
e.
At-Turmudzi
(209-279H)
f.
Ibnu Majah
(209-273H/824-887M)
g.
At-Tabharani
(321-359H)
h.
Al-Hakim
(321-405H)
i.
Ibnu Hibban (
-354H)
j.
Al-Baihaqi
(384-458H)
5.
Ilmu tafsir
Ilmu tafsir pada masa dinast
Abbasiyah ini meneruskan penafsiran dari dinasti umaiyyah namun disini terdapat
dua metode yang diterapkan yaitu:
a.
At-Tafsir bil
Ma’tasur,yaitu penafsiran Al-qur’an yang di tafsirkan dengan tafsir-tafsir
hadist nabi muhammad SAW.
b.
At-Tafsir
bira’yi,yaitu penafsiran Al-qur’an dengan akalfikiran.
Adapun
mufassiri yang termashur pada asa it adalah:
1)
Abu Fajar
Mhammad Ibn Jarir At-Tabiri
2)
Fakhrudin
Ar-Razi
3)
Az-Zamaskhsyari
4)
Ibnu Athiyah
5)
Muqatil ibnu
Sulaiman
6)
Muhammad ibnu
Ishaq
7)
Abu Bakar
As-Sam
8)
Ibnu Jarn
Al-Asadi
9)
Abu Muslim
Muhammad Ibnu Bahr Isfahany
10)
Abu Yunus Abdus
Salam Al-Qazwany
6.
Ilmu fiqih
Ilmu fiqih pada masa Dinasti
Abbasiyah mengalami perkembanga yang sangat pesat.Hal ini dikarenakan para
tabiin telah meletakkan dasar-dasar ilmu fiqih dengan kuat pada periode
sebelumnya.Pada masa inmuncullah Imam Madzhab yang ajarannaya menyebar lias
sampai sekarang. Adapun para imam madzhab tersebut adalah:
a.
Imam Hanafi
(80-150H/669-766M)
b.
Imam Malik
(93-179H/716-795M)
c.
Imam Syafi’i
(150-204H/767-820M)
d.
Imam Hambali
(164-241H/780-856M)
7.
Ilmu tasawuf
Ilmu taswuf adalah ilmu syariat.
Inti jarannya ialah tekun beribadah dngan menyerahkan diri sepenuhnya kepada
Allah dengan meninggalkan kesenangan dan perhiasan dunia serta bersunyi diri
untuk beribadah.pada masa dinasti Abbasiyah ilmu tasawuf telah mengalami
perkembangan yang ditandi dengan adanya peralihan dari tasawuf ke zuhud yang
dalam perkembangan selanjutnya alira tasawuf terbagi menjadi dua yaitu:
a.
taswuf
akhlaq(sunni) yaitu taswuf yang bersifat akhlaq dengan dasr alquran dan
hadist,tokohnya Al-Haris bin Asad Al-Muhasibi yang wafat pada tahun 838 M di
baghdad.
b.
tasawuf
filsafat yaitu tasawuf yang sudah tercampur dengan meta fisika. Tokohnya
aadalah Zunnum Al-Misri yang wafat tahun 899M di Iskandariah dan Abu Yazid
Al-Bistami yang wafat pada tahun 875M di bistami..
Dan terdapat
beberapa tokoh ahli filsafat di masa bani Abbasiyah yaitu:
1)
Al-Quraisy
2)
Syahabuddin
3)
Imam Ghozali
4)
Al Ghozali
5)
Al-Haris ibnu
Asad Al-Muhasibi
6)
Abu Thalib
Al-Makhi
7)
Abul Qosim
Al-Junaid
2.2 Islamic
Studies Model Barat Dan Orientalis
Masa Islamic studies model barat dan orientalis
dimulai bersamaan dengan munculnya Negara-negara barat kepentas dunia, setelah
mengalami masa gelap (dark ages) yang cukup lama. Masa ini pula merupakan
permulaan Negara-negara barat, yaitu Eropa mempunyai keinginan bertemu dengan
masyarakat Islam di Negara-negara lain, yang berujung dengan penjajahan mereka
terhadap Negara-negara di timur (meliputi Indian, Cina, Birma yang
masyarakatnya pemeluk agama-agama Hindu, Budha atau lainnya dengan cara
mengirimkan para sarjana yang mendapat sebutan dengan orientalis.
Para orientalis biasanya membagi dunia menjadi
dua yaitu Barat (west atau occident) dan Timur (east atau orient).Yang
berfungsi sebagai doktrin politik untuk menguasai timur yang merupakan ngara
atau masyarakat yang lebih lemah dibandingkan dengan barat.
Setelah tujuan penjajahan berkurang atau bahkan
sudah tidak ada, Islamic studies di barat ditempatkan pada kajian akademik,
dimana pelakunya lebih merasa adanya tuntutan akademik, bukan lagi tuntutan
politis dan kalau kita amati secara seksama dan menyeluruh, Islamic studies di
Barat dilakukan dengan melalui salah satu dari empat pendekatan yaitu :
Pertama, menggunakan metode ilmu-ilmu yang
masuk di dalam kelompok humanities, seperti filsafat, filologi ilmu bahasa, dan
sejarah terkadang dimasukkan ke dalam bagian social sciences.
Kedua, menggunakan pendekatan yang biasa
dipakai dalam disiplin atau kajian teologi agama-agama, studi Bible dan sejarah
gereja, yang berarti trainingnya Dr. Divinity schools. Oleh Karen aitu tidak
aneh kalau banyak orientalis adalah juga pastur, pendeta, uskup atau setidaknya
missionaries.
Ketiga, menggunakan metode ilmu-ilmu social,
seperti sosiologi, antropologi, ilmu politik dan psikologi (ada yang
mengelompokkan psikologi ke dalam humanities).Oleh karena itu mereka bisa
disebut dengan orientalis atau ahli di dalam ke-Islaman setelah mendapatkan
pendidikan di dalam jurusan atau fakultas disiplin-disiplin tersebut dengan
mengadakan kajian / penelitian, khususnya untuk penulisan disertasinya, tentang
Islam atau masyarakat Islam.
Keempat, menggunakan pendekatan yang dilakukan
di dalam department-department, pusat-pusat atau hanya committee, untuk area
studies seperti Midate Eastern Studies / near, Eastern Languages and
Civilizations dan South Asian Studies atau suatu committes seperti UCLA.
Keunggulan studies Islam dibarat adalah pada
aspek metodologi dan juga strategi, yang dimaksud strategi disini adalah
tentang bagaimana cara untuk menguasai materi yang begitu banyak dapat
dipergunakan seefisien mungkin.
2.3 Islam sebagai Kajian Akademik (Islamologi)
Kajian akademik yakni untuk ilmu-ilmu Keislaman
disini dimaksudkan dengan “studi kritis” (critical studies) yang menurut ukuran
tradisi barat bercirikan “tidak percaya” atau mempertanyakan terhadap kasus
atau hasil pemikiran yang dikajinya.Bisa juga untuk menolak atau mengembangkan
teori yang dikajinya, atau bisa juga untuk membuat interpretasi ulang. Jadi
seseorang yang melakukan kajian tidak hanya sekedar untuk menghafal dan
kemudian mengikuti kerja orang lain. Keragu-raguan terhadap hal-hal yang dikaji
itu merupakan dasar utama kajian akademik. Maka seseorang yang sedang melakukan
kajian harus paham secara diskriptif terlebih dahulu terhadap apa yang akan
dikaji.
Selama ini yang terjadi bahwa kalau kita
berbicara mengenai studi Islam, hampir selalu merujuk pada sosok ajaran
Islam.Persoalannya sekarang adalah bagaimana umat manusia, dan khususnya umat
Islam masa kini, memperoleh ilmu ini.Jika kita lihat dengan kritis sosok ajaran
Islam sebenarnya juga terlingkupi permasalahan secara akademik. Istilah kajian
akademik terhadap ajaran Islam masih dianggap sensitive, apa yang sering
dianggap sebagai “doktrin” agama yang berserakan di berbagai jenis ilmu-ilmu
Keislaman pada hakikatnya sarat dengan hasil pemikiran (ijtihad) pada pemikir
pada waktu yang telah lampau. Oleh Karena itu perlu adanya pemikiran yang
dilakukan secara sistematis.
Dalam mempelajari Islam, tujuan utamanya adalah
untuk memahami Islam. Suatu contoh di tingkat perguruan tinggi, satu pertanyaan
timbul : “Belajar Islam tersebut lewat siapa ?” yakni, lewat guru / ulama’ atau
tulisan siapa ? benarkah si guru / ulama’ atau penulis itu tepat di dalam
memahami Islam? nah, disinilah letak kajian akademik terhadap Islam yang
dilakukan oleh sarjana muslim sendiri : yaitu, kajian akademik terhadap
pemikiran ulama’ terdahulu di dalam memahami Islam (ini lebih banyak berupa
normative)
2.4 Kajian Islam dengan Pendekatan Ilmu
Sosial
Ketika pemikiran Islam dikaji dengan
meletakkannya pada posisi hasil pemikiran ulama dan dilihatnya secara interdisipliner,
maka kajian seperti ini akan memerlukan disiplin lain dari luar (social
sciences / humanities). Kajian seperti ini masih dikategorikan pada kajian
“ajaran Islam” itu sendiri, bukan kajian disiplin lain. Sekarang bagaimana
dengan kajian Islam dengan menggunakan disiplin ilmu-ilmu social ?
Penggunaan disiplin ilmu social untuk mengkaji
masyarakat muslim mau tidak mau harus tidak lepas dari kajian Islam itu sendiri
dalam konteks sosialnya. Artinya, ajaran dan keyakinan Islam tidak bisa
dilepaskan sama sekali dari proses analisisnya. Jika hal seperti ini yang
dituntut, maka sering terjadi gap dalam praktek kajian ilmu social pada umumnya
yang tidak pernah memperhitungkan ajaran Islam. Gap itu terjadi antara wujud
perilaku yang dianalisis yang sedikit atau banyak ada bekas dari ajaran Islam,
di satu pihak, dengan analisis sekuler yang sama sekali tidak memperhitungkan
pengaruh ajaran tersebut, dilain pihak. Dan dalam kenyataan pula terjadi gap
antara pemeluk Islam (terutama sekali yang dilihatnya secara formalitas) dengan
sosok ajaran Islam normative yang sering tidak dipraktekkan oleh pemeluknya.
Berbicara mengenai gap antara praktek social
dan normative tersebut diatas, sering terjadi anggapan bahwa Islam termasuk
secara normative dilihat dari perilaku pemeluknya jadi meraka mendefinisikan
Islam dari hasil analisisnya mengkaji masyarakat Islam di timur tengah, yang
akan menghasilkan bukan saja Islam identik dengan timur tengah, namun juga akan
menghasilkan bahwa Islam itu hanyalah apa yang terwujud dalam permukaan
pemeluknya. Dalam keadaan ini berarti tidak ada pemisahan antara ajaran
normative yang tidak terdeteksi dengan perilaku masyarakat yang menjadi incaran
sasaran analisis mereka.
2.5 Islam VS Ilmu Keislaman
Karena Islam bersifat kognitif sedangkan ilmu
Keislaman bersifat psikomotorik.Ada orang yang memiliki wawasan luas tentang
ilmu Keislaman tetapi tidak menjalankannya.Baginya ilmu Keislaman hanyalah
merupakan ilmu yang perlu dikaji bukan sesuatu yang harus diamalkan.Termasuk
dalam kelompok ini adalah para Islamisist atau orang-orang orientalis yang
terus-menerus mengkaji tentang ilmu Keislaman, tetapi tidak ada komitmen untuk
mempraktikkannya. Sedangkan Islam bukanlah objek kajian melainkan norma,
doktrin, disiplin, dan nilai-nilai yang harus diamalkan. Islam itu harus
dipelajari dan dikaji terus-menerus.Islam itu tidak perlu dikaji dan
didiskusikan secara mendalam.Nah, pandangan inilah yang perlu
diluruskan.Mengapa ?Ya, karena “Al-ilmu qab al-‘amal”, bahwa ilmu itu penting
untuk kepentingan praktik. Dengan demikian bahwa Islam itu mengandung dua
dimensi yang sinergis : Ilmu dan amal. Islam adalah agama yang sempurna, dan
perlu untuk di amalkan dan itu disebut dengan ilmu Keislaman.Karena ilmu
Keislaman adalah mempelajari segala tentang Islam.
2.6 Konsep Ilmu dan Tradisi Islam
Seorang ilmuan muslim yang tergolong awal,
yaitu al-syafi’i, mengelompokkan ilmu menjadi dua, pertama ia sebut dengan ilm’
amah (ilmu yang diterima secara umum) dan keuda ilm’ khassah (ilmu yang
diteirma secara umum) dan kedua ilm’ amah (ilmu yang menjadi wilayah
orang-orang tertentu, yakni ulama). Yang pertama (Ilmu ‘ammah) mempelajari nass
dengan tegas dalam Al-Qur’an dan jelas diterima oleh umat Islam yang tergolong
kelompok ini adalah kewajiban shalat lima waktu, puasa ramadhan, menunaikan
ibadah haji jika mampu, membayar zakat, keharaman berzina, membunuh, mencuri
dan minum khamr, dan ini semua tidak ada perbedaan pendapat diantara muslim.
Kalau dalam kelompok pertama tidak terjadi perbedaan pendapat, maka untuk yang
kedua terbuka ruang untuk terjadinya perbedaan pendapat.Perbedaan pendapat itu
bisa terjadi disebabkan perbedaan analisis atau perbedaan kesimpulan
penelitiannya, yang berarti ada kebebasan studi.
Kalau kita cermati, dalam Islam kita mempunyai
wahyu Allah berupa Al-Qur’an yang Al-Qur’an ini disebut sebagai Qat’iy al wurud
yang artinya bahwa keberadaan Al-Qur’an termasuk teks-nya sudah difinal dengan
kata lain teks Al-Qur’an ini tidak ada campur tangan pemikiran dan penelitian
manusia. Untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah itu telah terjadi pemikiran bebas
oleh ulama.Sebagai akibatnya telah muncul beberapa jenis ilmu yang kemudian
disebut sebagai ilmu Keislaman atau ilmu agama Islam.Hal ini meliputi ajaran
Islam itu sendiri, yang sering kita terjebak dengan menggunakan istilah doktrin
yang sebenarnya itu merupakan sejarah pemikiran ulama untuk memahami wahyu tadi
dan jenis-jenis ilmu itulah yang menjadi objek penelitian ilmu-ilmu ke-Islaman.
2.7 Rekontruksi
Ketika Nabi Muhammad SAW. Masih hidup, para
sahabatnya selalu mendapatkan bimbingan langsung dari Nabi. Wahyu Allah juga
turun kebumi sebagai petunjuk yang kita kenal dengan nama Al-Qur’an. Setelah
nabi SAW. wafat, sudah menjadi consensus umat Islam bahwa sumber utama Islam
adalah Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Untuk yang pertama tidak satupun orang yang
membantah sedangkan untuk yang kedua ada sedikit orang yang tidak mengakuinya.
Dengan alas an bahwa hadist itu hanyalah penjelasan terhadap Al-Qur’an bukan
sebagai sumber utama yang berdiri sendiri.
Dalam perjalanan sejarahnya, para pemikir atau
ulama telah banyak menghabiskan waktunya untuk memahami nashsh itu dalam waktu
yang bersamaan, mereka juga mempelajari sejarah dan keadaan masyarakat yang
melingkupi turunnya nashsh tersebut. Di satu sisi, hal ini berkaitan erat dengan
nash dan disisi lain, mereka juga menemukan beberapa kasus yang tidak dapat
secara langsung dipahami dan dipelajari dari pemahaman nashsh tersebut, namun,
kita juga perlu ingat bahwa nash itu sendiri juga mengajarkan penggunaan akal
pikiran (kauniyah). Sedangkan penggunaan akal sebagai proses untuk dapat
menghasilkan argumentasi dan proses deduktif dan induktif.
Jika
dilihat semata-mata dari wujud nashsh, adanya nashs itu terbatas.Sementara itu
kehidupan manusia selalu berkembang dan berubah.Maka dari sisi ini terkadang
terjadi kesenjangan kasus. Dalam kebebasan dan kemampuan mengembangkan
pemikiran Islam atau ilmu-ilmu ke Islaman dari berbagai perbedaan pendapat maka
muncullah pemahaman dan pemikiran menjadi disiplin ilmu dalam Islam, seperti
ilmu kalam, ilmu fiqh, ilmu tafsir, ilmu hadist dll.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan :
Pengantar Studi Islam (PSI) yang
mengkaji Keislaman dengan wilayah telaah materi ajaran agama dan fenomena
kehidupan beragama. Dalam dunia ilmu pengetahuan, kita telah tahu bahwa suatu
teori yang kemarin dianggap paling “benar” bisa akan diubah atau ditolak oleh
teori baru yang muncul hari ini. Artinya, teori yang didapatkan hari ini dan
mungkin akan dianggap paling kuat, tidak mustahil akan ditolak dan diubah hari
esok.
Disamping kenyataan seperti ini,
kita juga menyaksikan terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ilmuan, baik
untuk sains, pengetahuan social, humanities, termasuk agama.Dan ketika mereka
para ilmuan menggunakan argumentasi, bisa terjadi argumentasi yang saling
berpolemik. Karena itu dari disiplin ini kemudian bermunculan berbagai cabang keilmuan
seperti ilmu fiqih, ilmi aqidah, ilmu tafsir, sejarah islam, psikologi islam,
antropologi islam, sosiologi islam dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Taqiyuddin.2008.Sejarah Pendidikan Islam.
Bandung: Mulia Press.
Abudin,Nata.2010.Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta:
Fakultas ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidyatullah.
Munawwar,Chalil.1989.Empat Biogrfi Imam Madzhab.Jakarta:
Bulan Bintang.
Badri,Yatim.2010.Sejarah Peradaban Islam
Jakarta:Rajawali Press.
Susanto, 2009.Pemikiran Pendidikan Islam.Jakarta:Amzah.
Hasan
Langgulung. 1980.Pendidikan Islam Menghadapi Abad-21.Jakarta: Pustaka Al Husna.
Azizy,Qodri. 2003.
Pengembangan Ilmu-Ilmu Keislaman.
Surabaya: Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam.
Studi Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya.2002.Pengantar Studi Islam.Surabaya:IAIN Sunan Ampel Press.
Komentar
Posting Komentar