Axiologi Filsafat
FILSAFAT ILMU
Axiologi Filsafat

DisusunOleh :
Abidatul
Rohmah
Agus Triani
Idamatul Marfu’ah
Radinal Walidah
Sri Ayu
STAI AT – TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AJARAN 2017/2018
Kata pengantar
Puji syukur ilahirobbi atas berkat
rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah guna
menuntaskan tugas filsafat ilmu dengan tepat atas waktu yang telah di tentukan.
Sholawat serta salam semoga tetap
tercurah limpahkan kepada keharibaan junjungan kita nabi Muhammad SAW,karena
berkat perjuangannya kita dapat merasakan nikmatnya hidup di tengah-tengah
banyaknya ilmu pengetahuan.
Makalah yang berjudul Perkembangan
Dan Peradaban Islam Pada Masa Daulah Ab-Basiyah merupakan sebuah makalah
yang dibuat untuk memenuhi sebuah tanggung jawab yang telah di amanahi oleh
guru kami yaitu: Agus
Fawait,S.Pd.I,M.Pd.I dan untuk beliau
ucapan terimakasih yang tiada tara karena telah membimbing kami dalam pembuatan
makalah ini hinga selesai.
Makalah
ini hanyalah sebuah tulisan yang jauh dari kata kesempurnaan sehingga sangat di
harapkan partisipasi semua pembaca untuk memberi kritikan yang dapat membangun
kami semua dalam pembutan makalah.
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
Filsafat dalam bahasa arab berarti
falsafah, dan dalam bahasa yunani philosopia yang mempunyai arti philos adalah
cinta dan sopia adalah pengetahuan atau dalam artian philosopia adalah cinta
kepada kebijaksanaan / kebenaran.
Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan
tindakan, dalam filsafat juga ada yang mempelajari tentang Aksiologi yang
sangat berguna untuk berfilsafat. Keingintahuan adalah salah satu pemicu kita
untuk berfilsafat, dan begitu juga dengan keragu-ragu’an, filsafat merupakan
pemikiran secara rasional.
Jika mempelajari Aksiologi maka kita telah
mempelajari sebagian cara berfilsafat, dimana berfilsafat itu sangat penting
dan jika kita tidak berfilsafat kita tidak akan maju, itu dalam artian
berfilsafat adalah berfikir secara abstrak.
- Apakah
Aksiologi itu ?
- Dan
apa saja kah yang di bahas dalam Aksiologi filsafat itu?
- Agar
kita mengetahui apa itu Aksiologi.
- Agar kita dapat memahami apa saja yang di bahas dalam Aksiologi filsafat.
BAB II
PEMBAHASAN
Aksiologi
merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia
menggunakan ilmunya.Jadi yang ingin di capai oleh aksiologi adalah hakikat dan
manfaat yang terdapat dalam suatu pengetahuan.
Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion
(nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai.
Pertanyaan di wilayah ini menyangkut, antara lain:
1.
Untuk apa pengetahuan ilmu itu
digunakan?
- Bagaimana
kaitan antara cara penggunaannya dengan kaidah-kaidah moral?
- Bagaimana
penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
- Bagaimana
kaitan metode ilmiah yang digunakan dengan norma-norma moral dan
professional? (filsafat etika).
Etika adalah cabang filsafat aksiologi yang membahas tentang
masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada prilaku, norma dan adat
istiadat yang berlaku pada komunitas tertentu. Dalam etika, nilai kebaikan dari
tingakah laku yang penuh senagn tanggungjawab terhadap diri sendiri, masyarakat,
alam maupun terhadap tuhan sebagai sang pencipta.
Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang
nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa di dalam diri segala sesuatu
terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis dalam satu
kesatuan hubungan yang menyeluruh. Maksudnya adalah suatu objek yang indah
bukan semata-mata bersifat selaras serta bepola baik melaikan harus juga
mempunyai kepribadain.
Namun terdapat beberapa pengertian lain dari beberapa filsuf terkenal
yang memaknai tentang apa itu Axiologi Filsafat. Diantaranya ialah:
Bersama dengan filusuf-filusuf yang lain, socrates berpendapat bahwa masalah
yang pokok adalah kesusilaan, tetapi semenjak masa hidup socrates masalah hakikat
yang-baik senantiasa menarik banyak kalangan dan dipandang bersifat hakiki
serta penting untuk dapat mengenal manusia.
Moore
(dalam Kattsoff, 2004: 325) mengatakan bahwa baik merupakan pengertian yang
bersahaja, namun tidak dapat diterangkan apakah baik itu.
Kata
“baik dipakai dalam arti yang berbeda-beda dalam masing-masing pernyata’an,
seperti“ini pisau baik”, sudah pasti yang saya maksudkan berbeda apabila saya
mengatakan “pisau merupakan sesuatu yang baik”. Contoh lain “pembelian yang
baik”, berarti pembelian yang didalamnya Nilai uang yang dibayarkan lebih
rendah dibandingkan dengan Nilai barang yang dibelinya, dengan kata lain
penulis dapat menyimpulkan bahwa “Yang-Baik” itu merupakan sesuatu yang
didalamnya terdapat unsur yang bermanfaat bagi seseorang.
Kata
“Nilai” merupakan kata jenis yang meliputi segenap macam kebaikan dan sejumlah
hal yang lain.
Nilai
itu objektif ataukah subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangan
yang muncul dari filsafat. Nilai akan menjadi subjektif, apabila subjek sangat
berperan dalam segala hal, kesadaran manusia menjadi tolak ukur segalanya; atau
eksistensinya, maknanya dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang
melakukan penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis atau
fisis. Dengan demikian, nilai subjektif akan selalu memperhatikan berbagai
pandangan yang dimilki akal budi manusia, seperti perasaan, intelektualitas,
dan hasil nilai subjektif selalu akan mengarah kepada suka atau tidak suka,
senang atau tidak senang.
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia
menggunakan ilmunya.
Dalam
Encyslopedia of philosophy dijelaskan aksiologi disamakan dengan value and
valuation:
a. Nilai
digunakan sebagai kata benda abstrak, Dalam pengertian yang lebih sempit
seperti baik, menarik dan bagus. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas
mencakup sebagai tambahan segala bentuk kewajiban, kebenaran dan kesucian.
- Nilai
sebagai kata benda konkret. Contohnya ketika kita berkata sebuah nilai
atau nilai-nilai. Ia sering dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang
bernilai, seperti nilainya atau nilai dia.
- Nilai
juga dipakai sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai atau
dinilai.
Menurut Bramel Aksiologi terbagi tiga bagian:
a. Moral
Conduct, yaitu tindakan moral, Bidang ini melahirkan disiplin khusus yaitu
etika.
- Estetic
expression, yaitu ekspresi keindahan, bidang ini melahirkan keindahan
- Socio-politcal
life, yaitu kehidupan social politik, yangakan melahirkan filsafat social
politik.
Menurut Wibisono aksiologi adalah nilai-nilai sebagai tolak ukur kebenaran,
etika dan moral sebagai dasar normative penelitian dan penggalian, serta
penerapan ilmu.
Aksiologi adalah bagian dari filsafat yang menaruh perhatian tentang baik dan
buruk (good and bad), benar dan salah (right and wrong), serta tentang cara dan
tujuan (means and and). Aksiologi mencoba merumuskan suatu teori yang konsisten
untuk perilaku etis.
Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelediki hakekat nilai yang umumnya
ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan (Kattsoff: 1992). Nilai yang dimaksud
adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan
tentang apa yang dinilai.
Kattsoff (2004: 323) menyatakan bahwa pertanyaan mengenai hakekat nilai dapat
dijawab dengan tiga macam cara yaitu:
a. Subyektivitas
yatu nilai sepenuhnya berhakekat subyektif. Ditinjau dari sudut pandang ini,
nilai merupakan reaksi yang diberikan manusia sebagai pelaku dan keberadaannya
tergantung dari pengalaman.
- Obyektivisme
logis yaitu nilai merupakan kenyataan ditinjau dari segi ontologi, namun
tidak terdapat dalam ruang dan waktu.Nilai-nilai tersebut merupakan esensi
logis dan dapat diketahui melalui akal.
- Obyektivisme
metafisik yaitu nilai merupakan unsur obyektif yang menyusun kenyataan.
Situasi nilai meliputi empat hal yaitu pertama, segi pragmatis yang merupakan
suatu subyek yang memberi nilai. Kedua, segi semantis yang merupakan suatu
obyek yang diberi nilai. Ketiga, suatu perbuatan penilaian. Keempat, nilai
ditambah perbuatan penilaian.
Aksiologi membahas tentang masalah nilai. Istilah aksiologi berasal dari kata
axio dan logos, axios artinya nilai atau sesuatu yang berharga, dan logos
artinya akal, teori, axiologi artinya teori nilai, penyelidikan mengenai
kodrat,kriteria dan status metafisik dari nilai.
Problem utama
aksiologi ujar runes berkaitan empat faktor:
a. Kodrat
nilai berupa problem mengenai apakah nilai itu berasal dari keinginan,
kesenangan, kepentingan, keinginan rasio murni.
- Jenis-jenis
nilai menyangkut perbedaan antara nilai intrinsik, ukuran untuk
kebijaksanaan nilai itu sendiri, nilai-nilai instrumental (baik
barang-barang ekonomi atau peristiwa-peristiwa alamiah) mengenai
nilai-nilai intrinsik.
- Kriteria
nilai (ukuran nilai yang di butuhkan).
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum,
sebagai landasan ilmu, aksiologi membicarakan untuk apa pengetahuan yang berupa
ilmu itu di pergunakan?.
Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat Nilai, pada umumnya
ditinjau dari sudut pandangan kefilsafatan.
Nilai
Intrinsik, contohnya pisau dikatakan baik karena mengandung kualitas-kualitas
pengirisan didalam dirinya, sedangkan Nilai Instrumentalnya ialah pisau yang
baik adalah pisau yang dapat digunakan untuk mengiris,jadipenulis dapat
menyimpulkan bahwa Nilai Instrinsik ialah Nilai yang yang dikandung pisau itu
sendiri atau sesuatu itu sendiri, sedangkan Nilai Instrumental ialah Nilai
sesuatu yang bermanfaat atau dapat dikatakan Niai guna.
1) Situasi
Nilai maliputi:
a) Suatu
subyek yang memberi Nilai – yang sebaiknya kita namakan “segi pragmatis”.
b) Suatu
obyek yang diberi Nilai-yang kita sebut “segi semantis”.
c) Suatu
perbuatan peNilaian.
d) Suatu
Nilaiditambah perbuatan peniaian.
2) Pendekatan-pendekatan
dalam Aksiologi dapat dijawab dengan tiga macam cara:
a) Nilai
sepenuhnya berhakekat subyektif.
b) Nilai-Nilai
merupakan kenyataan-kenyataan yang ditinjau dari segi ontologi namun tidak terdapat
dalam ruang dan waktu.
c) Nilai-Nilai
merupakan unsur-unsur obyektif yang menyusun kenyataan.
3) Makna
“Nilai”:
a) Mengandung
Nilai
b) Merupakan
Nilai
c) Mempunyai
Nilai
d) Memberi
Nilai
d. Nilai Merupakan Kualitas Empiris Yang Tidak Dapat
Didefinisikan
Kualitas ialah sesuatu yang dapat disebutkan dari suatu obyek. Dengan kata
lain, kualitas ialah suatu segi dari barang sesuatu yang merupakan bagian dari
barang barang tersebut dan dapat membantu melukiskanya.Kualitas empiris ialah
kualitas yang dapat diketahui melalui pengalaman.
Kualitas merupakan sesuatu yang dapat disebutkan dari suatu obyek atau suatu
segi dari barang sesuatu yang merupakan bagian dari barang tersebut dan dapat
membantu melukiskannya. Adapun kualitas empiris didefinisikan sebagai kualitas
yang diketahui atau dapat diketahui melalui pengalaman.
Jika
Nilai merupakan suatu kualitas obyek atau perbuatan tertentu, maka obyek dan
perbuatan tersebut dapat didefinisikan berdasarkan atas Nilai-Nilai, tetapi
tidak mungkin sebaliknya. Contoh “pisang itu kuning” tapi saya tidak bisa
mengatakan bahwa “kuning itu pisang”, karna kuning bermacam-macam.
Kenyataan bahwa Nilai tidak dapat didefinisikan tidak berarti Nilai tidak dapat
dipahami. Nilai bersifat subyektif, contoh si A mengatakan bahwa “si gadis itu
cantik”, tapi si B mengatakan bahwa “si gadis itu jelek”
e. NilaiSebagai Obyek Suatu Kepentingan
Ada
yang mengatakan bahwa masalah Nilai sesungguhnya merupakan masalah pengutamaan.
Contoh ungkapan “perang merupakan suatu keburukan” kiranya diiringi oleh
tanggapan ”saya menentang perang”.
Pandangan orang Amerika dalam bukunya bahwa jika saya mengatakan “x berNilai”
maka dalam arti yang sama saya dapat mengatakan “ saya mempunyaikepentingan pada
x”. Sikap setuju atau menentang tersebut oleh Perry ditunjuk dengan istilah
“kepentingan”.
Dewey
(dalam Kattsoff, 2004: 332) menyatakan bahwa nilai bukanlah sesuatu yang dicari
untuk ditemukan. Nilai bukanlah suatu kata benda atau kata sifat. Masalah nilai
berpusat pada perbuatan memberi nilai. Dalam Theory of Valuation, Dewey
mengatakan bahwa pemberian nilai menyangkut perasaan dan keinginan. Pemberian
nilai juga menyangkut tindakan akal untuk menghubungkan sarana dan tujuan.
Menurut perry jika seorang mempunyai kepentingan pada suatu apapun, maka hal
tersebut mempunyai Nilai, jadipenulis dapat menyimpulkan bahwa Nilai ialah
kepentingan.
f. Teori Pragmatis Mengenai Nilai
Sejumlah hal yang telah saya perbincangkan yang bersifat penolakan terhadap
teori Nilai yang didasarkan atas kepentingan kiranya menyebabkan tampilnya
teori lain, yaitu Teori Pragmatis. Pragmatisme mendasarkan diri atas
akibat-akibat, dan begitu pula halnya dengan teori pragmatisme mengenai Nilai.
Jadi penulis dapat menyimpulkan bahwa Teori Pragmatis mengenai Nilai adalah
akibat-akibat dari sesuatu menjadi kita anggap bernilai.
g. Nilai Sebagai Esensi
Sesungguhnya Nilai-Nilai merupakan hasil ciptaan yang-tahu (subyek yang
mengetahui). Jika Nilai merupakan Nilai karena kita yang menciptakannya, maka
tentu kita akan dapat membuat baik menjadi buruk dan sebaliknya.
Esensi adalah inti, sesuatu yang menjadi pokok utama, hakikat. Contoh
“Perdamaian merupakan sesuatu yang bernilai”, maka ia memahami bahwa di dalam
hakekat perdamaian itu sendiri terdapat Nilai yang mendasarinya. Jadi penulis
menyimpulkan Nilai sebagi esensi ialah Nilai tentang sesuatu yang pasti ada
dalam setiap sesuatu tersebut.
Esensi tidak dapat di tangkap secara inderawi. Ini berarti bahwa nilai tidak
dapat di lakukan sebagaimana kita memahami warna.
Adapun kegunaanya adalah:
a. Fisafat
sebagai kumpulan teori filsafat
b. Sebagai
metode pemecah masalah
c. Sebagai
pandangan hidup
Filsafat menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal, secara mendalam
berarti filsafat ingin mencari asal masalah, dan secara universal berarti
filsafat ingin, masalah dilihat dalam hubungan seluas-luasnya.
BAB III
PENUTUP
Moore
(dalam Kattsoff, 2004: 325) mengatakan bahwa baik merupakan pengertian yang
bersahaja, namun tidak dapat diterangkan apakah baik itu
Kata
“Nilai” merupakan kata jenis yang meliputi segenap macam kebaikan dan sejumlah
hal yang lain.
Bahwa
“Yang-Baik” itu merupakan sesuatu yang didalamnya terdapat unsur yang
bermanfaat bagi seseorang.
Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelediki hakekat nilai yang umumnya ditinjau
dari sudut pandang kefilsafatan (Kattsoff: 1992). Nilai yang dimaksud adalah
sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa
yang dinilai.
Kualitas ialah sesuatu yang dapat disebutkan dari suatu obyek. Dengan kata
lain, kualitas ialah suatu segi dari barang sesuatu yang merupakan bagian dari
barang barang tersebut dan dapat membantu melukiskanya.Kualitas empiris ialah
kualitas yang dapat diketahui melalui pengalaman.
Menurut perry jika seorang mempunyai kepentingan pada suatu apapun, maka hal
tersebut mempunyai Nilai, jadi penulis dapat menyimpulkan bahwa Nilai ialah
kepentingan.
Teori
Pragmatis mengenai Nilai adalah akibat-akibat dari sesuatu menjadi kita anggap
bernilai.
Kegunaan pengetahuan filsafat
1. Fisafat
sebagai kumpulan teori filsafat
2. Sebagai
metode pemecah masalah
3. Sebagai
pandangan hidup
Filsafat menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal, secara mendalam
berarti filsafat ingin mencari asal masalah, dan secara universal berarti
filsafat ingin, masalah dilihat dalam hubungan seluas-luasnya.
Sebelumnya kami penyusun makalah ini mohon ma’af apabila terdapat kesalahan
dalam penulisan kata-kata, dan makalah kami pun di sini masih belum sempurna,
untuk itu sekiranya apabila masih di rasa pembaca masih belum cukup
bahasan-bahasan di dalam makalah ini di sarankan untuk mencari sumber referensi
dari buku-buku atau sumber-sumber yang semacamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad,Tafsir. 2004. Filsafat Ilmu. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Soejono Soe,Margono. 1986. Pengantar
Filsafat Louis O.Kattsoff. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya..
Nugroho,Aloisa. 2001. Fungsi Rasio
Alfred North, White Head. Yogyakarta:Kanisius
Soetriyono dan Hanafie,SRDM Rita.
2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian.Yogyakarta:CV.Andi Offset
Komentar
Posting Komentar