Sejarah Perkembangan Sosiologi Pendidikan


MAKALAH
SOSIOLOGI PENDIDIKAN
20161002105848Sejarah Perkembangan Sosiologi Pendidikan






DOSEN PEMBIMBING:
Fitri Nur Hidayat, M.Pd.I

DISUSUN OLEH:
Nurfadilah
Agus Triani
Rita Aminatul Fakhoriyah
Umi Farihatul Masruroh

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) At-Taqwa Bondowoso
FAKULTAS TARBIYAH
PROGRAM STUDI MPI
2018/2019

KATA PENGANTAR


بِسْÙ…ِ اللهِ الرَّØ­ْمنِ الرَّØ­ِÙŠْÙ…
Penulisan makalah ini adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Sosiologi Pendidikan Program Studi Manajeman Pendidikan Islam (MPI) STAI AT- TAQWA Bondowoso, sebagai upaya memenuhi tugas mata kuliah pada semester tiga. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah banyak membantu penulis agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan teman-teman. Amin.
                                                                       



                                                                                         
                                                                             
                                                                         Penyusun

DAFTAR ISI

COVER.................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR............................................................................................ ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii

BAB I

PENDAHULUAN

Di era milineal ini tidak dapat dipungkiri lagi pertumbuhan masyarakat sangatlah pesat di karenakan perubahan zaman yang semakin canggih dalam bidang tekhnologi.
Dalam kehidupan sosial masyarakat mendapat tantangan baru untuk bisa menyeimbangkan antara kehidupan yang dijalani pada saat ini. Masyarakat di tantang tidak hanya bisa atau mampu menjalin interaksi yang baik dengan sesamanya tetapi masyarakat juga ditantang untuk berpendidikan agar tidak mejadi masyarakat yang tertinggal dalam perubahan yang bersifat global ini.
Maka diperlukanlah sebuah pengetahuan yang memberikan kontribusi kepada masyarakat agar dapat menjadi person atau masyarakat yang berpendidikan dan tetap mampu menjalin hubungan sosial agar tetap baik dan seimbang dalam kehidupan bermasyarakatnya.
1.    Bagaimana sejarah sosiologi pendidikan?
2.    Bagaimana perkembangan sosiologi pendidikan di indonesia?
3.    Siapa tokoh sosiologi pendidikan dan pemikirannya?
1.    Untuk mengetahui bagimana sejarah sosiologi pendidikan
2.    Untuk mengetahui bagaimana perkembangan sosiologi pendidikan di indonesia
3.    Untuk mengetahui Siapa tokoh sosiologi pendidikan dan pemikirannya

BAB II

PEMBAHASAN

          Sosiologi pendidikan berawal dari ilmu sosiologi umum atau sosiologi mikro (micro sociology) yang muncul pada abad ke-18. Ilmu sosiologi mulai melepaskan diri dari ilmu filsafat dan berdiri sendiri sejak abad ke-19. Istilah sosiologi pertama kali digunakan August Comte (1798-1857) dalam bukunya Cour de Phillosophie Positive. Sosiologi berasal dari kata “Socious” dan “logos”. Socious berasal dari bahasa Latin yang artinya “teman”, sedangkan logos berasal dari bahasa Yunani yang artinya “kata, perkataan atau pembicaraan”, Jadi sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antar manusia yang menguasai kehidupan.
          Pada awalnya sosiologi berada dalam ilmu filsafat yang dipandang sebagai satu-satunya ilmu untuk pengetahuan umum. Namun, ketika ada masalah yang terdapat dalam masyarakat yang ternyata tidak bisa dipecahkan dalam ilmu filsafat maupun ilmu-ilmu lainnya, maka kebiasaan untuk memisahkan sosiologi dari ilmu lainnya tampak dan terasa pada masa Revolusi di Eropa yang mengganas dalam Revolusi  Prancis (1789-1799M).
          Masyarakat mengalami perubahan sosial yang cepat. Perubahan sosial menimbulkan culturallag. Culturallag merupakan “sumber” masalah-masalah  sosial yang dialami dunia pendidikan. Para ahli sosiologi menyumbangkan pemikirannya  untuk memecahkan masalah itu, hingga lahirlah sosiologi pendidikan.
          Sejak awal perkembangannya, pada awal abad ke-19, hingga dewasa ini, ilmu sosiologi telah mengalami perubahan yang terus-menerus ilmu yang oleh Auguste Comte disebut dengan “social physics” yang kemudian dikenal dengan sosiologi. Sosiologi terus berkembang seiring dengan perubahan yang timbul di masyarakat. Pada awalnya ahli pendidikan sosial memandang pendidikan sosial sebagai bidang studi yang memberikan dasar bagi kemajuan sosial dan pemecahan masalah sosial. Pendidikan dianggap sebagai badan yang sanggup memperbaiki masyarakat. Pendidikan dijadikan alat kontrol sosial yang membawa kebudayaan ke puncak yang lebih tinggi.[1]
          Perkembangan sosiologi umum tersebut seiring pula dengan perkembangan sosiologi pendidikan yang sudah merupakan kajian khusus dalam ilmu pendidikan. Sosiologi pendidikan selanjutnya sudah tidak bisa dipisahkan dari sejumlah jenis ilmu yang terkait dengan pendidikan, karena sosiologi pendidikan merupakan awal perkembangan ilmu pendidikan. Meskipun wilayah sosiologi pendidikan baru terbatas sekali segi-seginya yang telah di analisis, dan baru sedikit (karena ada) yang dapat menopang generalisasi tersedia, namun telah meningkat secara pesat jumlah kontribusi terhadap suatu analisis ilmiah yang mengenai sistem sosial pendidikan. Sudah banyak tersedia hasil analisis ilmiah tentang sistem sosial pendidikan, tentunya bisa banyak bermanfaat bagi upaya pengelolaan organisasi-organisasi dan administrasi sistem pendidikan. Hal ini merupakan tantangan bagi para ahli sosiologi yang benar-benar tertarik untuk mengalih kesanggupan dan perhatiannya kepada hubungan-hubungan sosial yang berlangsung dalam proses pendidikan.
          Ditinjau dari perspektif sebab lahirnya ilmu sosiologi pendidikan adalah dikarnakan adanya perkembangan masyarakat yang cepat dan berakibat pada merosotnya peran pendidik, dan perubahan interaksi antar manusia. Dikarenakan manusia tumbuh dan berkembang bukan di sekolah melainkan di masyarakat.
          Perubahan sosial yang cepat meliputi berbagai bidang kehidupan dan merupakan masalah institute social seperti: industri, agama, perekonomian, pemerintahan, keluarga, perkumpulan, dan pendidikan.
          Ditinjau dari segi etimologi istilah sosiologi pendidikan terdiri dari dua kata yaitu Sosiologi dan Pendidikan. Sepintas jelas bahwa dalam sosiologi, karena situasi pedidikan adalah situasi hubungan dan pergaulan sosial, yaitu hubungan dan pergaulan sosial antara pendidik dengan anak didik, pendidik dengan pendidik, anak-anak dengan anak-anak, pegawai dengan pendidik, pegawai dengan anak-anak. Hubungan dan pergaulan sosial ini secara totalitas,merupakan suatu bentuk keluarga ialah keluarga sekolah, di mana dapat tumbuh dan berkembang di masyarakat. Jadi, dalam keluarga sekolah itu terdapat hubungan pergaulan sosial yang  timbal balik satu sama lain, saling mempengaruhi, dan terjadi interaksi sosial. Dalam sosiologi pendidikan terdapat sosiologi dan pendidikan, yang merupakan ilmu baru yang menggunakan prinsip sosiologi dalam seluruh proses pendidikan meliputi metode, organisasi sekolah, evaluasi pembelajaran, dan kegiatannya.
           Sosiologi pendidikan adalah cabang ilmu pengetahuan yang membahas proses interaksi sosial anak-anak melalui keluarga, masa sekolah sampai dewasa serta dengan kondisi-kondisi sosio-kultural yang terdapat di dalam masyarakat dan negara.
B.       Perkembangan Sosiologi Pendidikan di Indonesia
          Pengetahuan sosiologi pada dasarnya sudah ada dan berkembang di Indonesia sejak zaman dahulu. Hal tersebut dapat dilihat dari ajaran-ajaran para pujangga ataupun tokoh bangsa Indonesia yang memasukkan unsur-unsur sosiologi di dalamnya meskipun sosiologi baru pada batas sebagai pengetahuan dan belum menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Contohnya adalah ajaran Wulan Reh yang diberikan oleh Paduka Mangkunegoro IV telah memasukkan unsur hubungan manusia pada berbagai golongan yang berbeda.
          Hal tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan sosiologi sudah dikenal dan dikembangkan di Indonesia pada masa itu. Proses selanjutnya, konsep penting dalam sosiologi berupa kepemimpinan dan kekeluargaan dipraktikkan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai peletak dasar pendidikan nasional Indonesia dalam proses pendidikan di Taman Siswa.
          Sosiologi sebagai suatu ilmu yang mandiri masih berusia relatif muda dan secara formal baru diperkenalkan di Indonesia oleh B.Ccrieke, seorang guru besar sosiologi dari Belanda sebagai “alat bantu” pendidikan hukum di Sekolah Tinggi. Hukum (Rechtsshogeschool) yang didirikan di Jakarta tahun 1924. Namun seiring berjalannya waktu, mata kuliah tersebut ditiadakan karena pengetahuan tentang bentuk dan susunan masyarakat beserta proses yang terjadi di dalamnya dianggap tidak diperlukan dalam ilmu hukum adalah perumusan peraturan dan sistem-sistem untuk menafsirkannya, sedangkan penyebab terjadinya serta tujuan sebuah peraturan dianggap tidak begitu penting untuk diketahui.
          Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, sosiologi mengalami perkembangan yang cukup signifikan di negeri ini. Tokoh yang pertama kali mengajarkan sosiologi dalam bahasa Indonesia adalah Soenarjo Kolopaking pada tahun 1948 di Akademi Ilmu Politik Jogjakarta (pada saat ini menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM). Berawal dari situlah akhirnya sosiologi mulai mendapat perhatian dari kalangan akademisi di Indonesia. Terlebih lagi dengan semakin terbukanya kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk belajar di luar negeri sejak tahun 1950, banyak pelajar Indonesia yang mendalami ilmu sosiologi dan kemudian mengajarkan ilmu tersebut di Indonesia.
          Buku tentang sosiologi dalam bahasa Indonesia diterbitkan pertama kali oleh Djody Gondokusuma dengan judul Sosiologi Indonesia. Buku tersebut berisi tentang beberapa pengertian mendasar dari sosiologi. Buku ini banyak membantu para pelajar pada khususnya dan masyarakat pada umumnya dalam memahami perubahan yang terjadi sedemikian cepat (revolusi) dalam masyarakat Indonesia saat itu. Setelah kelahiran buku pertama tersebut, muncul berbagai buku sosiologi baik yang ditulis oleh orang-orang Indonesia ataupun terjemahan dari bahasa asing. Selain itu, muncul berbagai fakultas ilmu sosial dan politik di universitas-universitas dalam negeri. Hal tersebut semakin mempercepat dan memperluas perkembangan sosiologi di Indonesia. Hingga akhirnya pada saat ini kita pun sudah bisa mempelajari sosiologi.
          Beberapa tokoh sosiologi Indonesia yang termasuk dalam generasi tua adalah Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi serta Soenario Kolopaking. Selain mereka dikenal pula beberapa sosiolog lain seperti Soerjono Soekanto, H.W. Bachtiar, Arief Budiman, Loekman Soetrisno, Nasikun, K.J. Veeger, dan sebagainya.
1.    Emile Durkheim
     Durkheim merupakan ahli teori yang terpenting dalam sosiologi pendidikan. Ia lahir di Epinal pada tahun 1858, di suatu perkampungan kecil orang Yahudi di bagian Timur Perancis. Jika ia mengikuti tradisi keluarganya, kelak ia juga akan menjadi rabi. Akan tetapi, karena pengaruh gurunya, ia kemudian menjadi seorang Katolik. Kemudian, ia menjadi orang yang tidak peduli dengan agama (agnostik).
          Menurut Durkheim, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta sosial (social fact). Fakta sosial ialah cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikannya.
Lebih lanjut, dia memerinci karakteristik fakta sosial, yaitu :
a)    Fakta sosial bersifat eksternal. Ia mencontohkan, norma-norma dan sistem moneter. Lalu, menegaskan bahwa ini benar-benar berada di luar individu.
b)   Fakta sosial itu memaksa individu, membimbing, dan mendorong dengan cara tertentu yang dipengaruhi oleh berbagai tipe fakta sosial yang ada di dalam lingkungannya.
c)    Fakta sosial itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam  masyarakat.
              Untuk menjelaskan menjelaskan semua itu, Durkhiem kemudian memberi contoh pendidikan anak. Sejak bayi, seseorang mulai disosialisasikan untuk makan, minum, dan tidur dalam waktu tertentu, diwajibkan taat, menjaga kebersihan dan ketenangan, menghormati adat dan kebiasaan. Dari contoh ini dapat dijumpai, ada cara bertindak, berfikir dan perasaan yang bersumber pada sutu kekuatan di luar individu, bersifat memaksa, serta mengendalikan individu.
2.    Karl Marx
     Marx lahir di Trier, Jerman, di daerah Rhine pada tahun 1818. Ayahnya, Heinrich bekerja sebagai pengacara dan ibunya berasal dari keluarga rabi yahudi.
     Cara berpikir Marx sebetulnya merupakan refleksi dari situasi sosial politik ekonomi saat itu, sehingga akan ditemukan bahwa hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat banyak di tentukan oleh relasi ekonomi.
     Basis sosial kehidupan manusia diwarnai oleh pola relasi ekonomi. Pola relasi ekonomi dalam masyarakat yang mendasari hukum agama dan politik di sebut sebagai super struktur. Marx memandang bahwa masyarakat terus menerus berintraksi dengan dunia materi. Kita mengubah dunia, tetapin sebaliknya kita juga di ubah oleh dunia.
3.    Max Weber
     Max Weber lahir di Erfurt, Thuring tahun 1864, tetapi di besarkan di Berlin. Keluarga termasuk orang Protestan kelas menengah atas dan ayahnya seorang hakim Erfurt.
     Menurut Weber, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tindakan sosial. Suatu tindakan adalah perilaku manusia yang mempunyai makna subjektif bagi pelakunya. Suatu tindakan hanya dapat disebut tindakan sosial apa bila tindakan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan prilaku orang lain dan beriorentasi pada perilaku orang lain. Misalnya, bunuh diri akibat tidak dapat menahan suatu penyakit menahun atau karena  gangguan kejiwaan bukanlah tindakan sosial, tetapi bunuh diri untuk menghukumi suami yang menyeleweng atau karena terdorong rasa malu setelah melakukan kesalahan merupakan tindakan sosial.[2]
4.    Herbert Spencer
     Spencer adlh salah seorang filosofi inggris. Beliau berpendapat bahwa sebagaimana kehidupan alamiah, kehidupan sosial berkembang secara evolusi, sesuai dengan teori didalam biologi. Spencer melihat masyarakat sebagai suatu organiisme yang besar sekali. Sebgaimana jantung, hati, paru-paru, dan bagian lain dari tubh manusia, semua bagian bekerja secara teratur sesuai fungsinya masing-masing untuk membuat manusia tetap hidup demikian juga halnya dengan manusia, tiap bagian didalamnya akan bekerja menurut fungsinya tersendiri agar manusia tetap utuh dan stabil.[3]


BAB III

PENUTUP 

1.    Sejarah adanya ilmu sosiologi pendidikan ialah berawal dari ilmu filsafat yang pada mulanya terdapat 3 aspek yaitu filsafat kealaman, perbintangan dan filsafat sosial dan secara lambat laun dikarenakan adanya perbedaan dan pengkhususan yang segnifikan dilingkup nyata maka filsafat sosial lebih di spekualisasikan kepada ilmu sosiologi yang khusus membahas tentang permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat dan untuk menjawab tentang zaman saat ini akhirnya ilmu sosiologi umum tersebut dikolaborasikan menjadi ilmu sosiologi pendidikan.
2.    Perkembangan ilmu sosial di indonesia dimulai pada masa indonesia masih bernama Nusantara yang mana pada waktu itu Wulan Reh memerintahkan kepada Mangkunegoro IV untuk memasukkan umur hubungan manusia pada berbagai golongan yang berbeda, setelah itu ki Hajar Dewantara sebagai peletak dasar pendidikan mulai menerap sebuah konsep penting dalam sosiologi berupa kepemimpinan dan keluargaan di proses pendidikan taman siswa, lambat laun ilmu sosiologi yang umumnya bersifat relatif ini ditiadakan karena tidak di anggap penting dan mulai dibenahi kembali pasca kemerdekaan republik indonesia.
3.    Berbagai banyak tokoh yang menjelaskan tentang makna sosiologi terdapat sebuah kesimpulan yang bisa ditarik dan di pahami. Bahwasanya ilmu sosiologi adalah ilmu yang berbicara tentang seluk beluk bermasyarakat dalam menalaah fakta yang ada, keekonomian politik yang berhubungan erat, kebiasaan masyarakat dan sebagai komunitas yang besar.

DAFTAR PUSTAKA 

Idi, Abdullah. 2016. Sosiologi pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Mahmud. 2016. Sosiologi Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia



[1] Abdullah Idi, Sosiologi pendidikan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2016), hlm. 7
2 Mahmud, Sosiologi Pendidikan (Bandung: CV Pustaka Setia, 2016), hlm. 24
3 Abdullah Idi, Sosiologi pendidikan (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2016), hlm. 4


Komentar

Postingan populer dari blog ini

TOKOH-TOKOH MUTU

KONSEP DASAR SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN